Bab 52

1251 Kata

Suara helaan napas dan isakan halus masih terdengar pelan di sudut dapur belakang mansion Roderick. Eleanor duduk di bangku, sementara Bibi Norah berdiri di sampingnya, satu tangan mengusap lembut pundaknya, dan tangan lainnya membelai pelan puncak kepala gadis itu seperti seorang ibu yang tahu betul betapa hati anaknya sedang remuk. Air mata yang jatuh di pipi Eleanor bukan hanya karena luka di jarinya. Luka itu—sekecil apapun—hanya pemicu dari sesuatu yang jauh lebih dalam. Perasaan hancur yang selama ini ia pendam, kini bocor dari celah yang paling rapuhnya. Sayangnya, tak semua orang bisa memahami. “Astaga ya Tuhan, Eleanor? Kau… kau menangis hanya karena jarimu teriris?” suara nyaring khas Hanna terdengar di ambang pintu dapur. Gadis itu berdiri di sana dengan keranjang apel di tan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN