Pernah seseorang menempa perasaanya, setiap hari, memupuk rasa percaya bahwa esok pasti dibalas bahagia, tapi berakhir sia-sia. Terkadang peliknya ekspektasi membuat gila, terutama saat luka menjadi belanga. Pernah jatuh cinta, tapi menjadi patah lara, lantas berlomba-lomba mengikis luka, dinikmati sendiri hari demi hari seperti serangkai puitis yang menjelma sepi. Sakti juga pernah, ini tentang laki-laki yang patah, laki-laki luka yang sempat tertawa sebab tergoda jatuh cinta. Kini ia sibuk meremat sepasang jemarinya, menatap pantulan rembulan yang lagi-lagi mengapung di permukaan jelaga. Sakti menyadari maksud keterdiamannya akhir-akhir ini, ia merasa resah untuk menumbuhkan lagi rasa percaya terhadap seseorang, isi pikirannya membuncah. Orang yang jatuh cinta itu bodoh, sebab konseku

