Dejavu

1219 Kata
Suara derit pintu gerbang dibuka dan bergeser, mengagetkan Nana yang tengah bermain-main dengan kucingnya. Glacie yang juga kaget, melompat dari gendongan Nana dan berlari menghilang ke dapur. Nana mengambil smartphone-nya yang sedari tadi tergeletak di atas long bench di sebelahnya bersama dengan sebotol wine serta sekotak praline dan kue red velvet. Menyentuh layarnya dan melihat jam yang tertera di bagian atas layar. "Sudah hampir jam setengah sebelas," gumamnya sembari mengantongi smartphone-nya dalam saku gaunnya. Nana pun berdiri dan menuju ke dapur untuk mengambil kunci motor. Dia berniat hendak memasukkan motor ke garasi dan mengunci pintu gerbang. Karena sudah hampir larut malam. Dengan beralaskan sandal bakiak kayu yang berhias ukiran bunga dan manik-manik kecoklatan, Nana menyusuri step stone di taman villa dan menuju ke halaman barat yang terbuka. Dengan hati-hati Nana membuka pintu gerbang. Suasana komplek yang sepi dan desau angin pantai menyergapnya begitu dia berada di luar, membuatnya sedikit mengigil kedinginan. "Sstt ikan." Samar-samar Nana mendengar bisikan lirih yang membuatnya sedikit merinding. Nana mencoba mencari sumber bisikan yang didengarnya. Namun tidak ada satu orangpun di sekelilingnya. Di sepanjang jalan kompleks villa yang buntu, di tengah malam seperti ini sangat jarang ada penghuni villa yang berkeliaran. "Ikan, di sini." Bisikan samar-samar itu terdengar lagi. Nana mengerutkan kening sembari memindai sekelilingnya. Hanya ada satu orang yang memanggilnya dengan sebutan ikan. Hanya Erick, si meow, kucing garong yang kini menjadi tetangganya. "Mpus!Mpus!" Nana membalas bisikan yang didengarnya barusan dengan kebiasaannya memanggil Erick. Sengaja bersuara normal bahkan cukup keras. Toh dia pasti akan dikira memanggil kucing-kucingnya. Hampir semua penghuni kompleks ini tahu jika dia pemilik kucing-kucing lucu yang sebenarnya jarang berkeliaran di luar villa apalagi tengah malam seperti ini. "Astaga! Ikan!" Tiba-tiba sesosok tinggi besar dan berhelm muncul di hadapannya, dekat serumpun pokok bunga kaca piring yang tumbuh subur di sepanjang tembok yang memagari villanya. Nana hampir saja berteriak. Namun dia mengenali sosok yang muncul tiba-tiba itu, saat dia membuka helmnya. Nana melotot tak percaya, setelah yakin benar dugaannya. "Astaga beneran Abang rupanya. Ngapain di sini malam-malam kek gini." Nana berbisik lirih dan tanpa sadar menyeret pria itu ke pintu gerbang agar terhalang dari pandangan siapapun yang mungkin saja kebetulan melewati jalanan kompleks. "Dih, dari tadi dipanggil malah bengong. Abang mau keluar jalan-jalan, sumpek di rumah." Bisik sosok itu yang rupanya adalah Erick. "Eh dasar kucing garong. Mau jalan-jalan kemana tengah malam begini? Lagian itu bini kagak ngamuk apa Abang tinggal?" Nana mengomelinya dan lupa tujuannya untuk memasukkan motornya yang masih terparkir di halaman terbuka samping villanya. "Kemana saja. Ayo temani Abang." Erick menarik lengannya dan hendak membawanya keluar dari halaman villa. "Eh, nanti dulu Mpus." Nana hampir saja tersandung batu karena gerakan Erick yang tiba-tiba. "Kamu nggak apa-apa?" Erick segera menahan tubuh Nana agar tidak terjerembab ke tanah. "Nggak apa-apa. Aku mau masukin motor, kunci pintu gerbang dan pamitan. Abang tunggu sini." Nana melepaskan diri dari genggaman tangan Erick. "Duuh buruan ikan!" Erick menyugar rambutnya kasar, tidak sabar ingin segera meninggalkan tempat ini. Nana hanya mengacungkan jarinya tanda dia mengerti. Nana segera mendorong motornya memasuki gerbang villa dan memarkirnya di taman. Diambilnya smartphone-nya, dia menelepon Diva, agar gadis itu segera menemuinya di taman. Dalam sekejap gadis remaja itu nampak berlarian dari kamarnya, menuju taman di mana Nana berada. Masih terengah-engah, gadis itu tiba di hadapan Nana. "Diva saya mau keluar sebentar. Kamu masukin motor ke garasi ya. Saya bawa kunci gerbang!" Nana mengacungkan kunci di jarinya dan segera berlari ke pintu gerbang karena smartphone-nya bergetar. Diva hanya melongo, namun segera melaksanakan perintah Nana. Sementara pintu gerbang telah dikunci dari luar, semestinya Nana-lah yang melakukannya. "Duuh buruan, ikan." Erick nyaris berteriak kencang saat akhirnya Nana muncul kembali dan segera mengunci pintu gerbang. Erick meraih lengannya dan membawanya menjauh dari halaman villa. Setengah terseok-seok Nana mengikuti langkah kaki panjang Erick. "Mpus kita mau kemana?" Nana kepayahan dan berusaha untuk memperlambat langkah kaki pria yang sepertinya tengah dikejar sesuatu. "Sst, jangan kenceng-kenceng. Ikut Abang saja." Erick memberi isyarat padanya untuk mengecilkan suaranya. Nana mencebikkan bibirnya namun tidak lagi bertanya-tanya. Dia hanya menurut dan mengikuti langkah kaki si kucing garong yang semakin menjauhi villa mereka. Erick membawanya ke ujung jalan komplek villa. Di sana telah terparkir motor besar, di bawah pohon besar yang agak tersembunyi. Nana tertegun, semestinya derit pintu gerbang yang didengarnya tadi, Erick saat mengeluarkan motor dan memarkirnya di sini. Erick mengenakan helmnya dan menaiki motor besarnya. "Ayo naik!" Serunya pada Nana. Nana tertegun. Menunduk menatap kaki dan juga penampilannya. Kurang yakin dengan penampilannya saat ini yang sangat tidak pas dengan situasi mendadak seperti ini. Dengan sedikit tergesa dia mendekati Erick yang telah duduk di atas motornya. "Mpus, aku pakai gaun mana bisa naik motor gede model begini?" Keluhnya memelas. Erick menatapnya sebentar. Memindai dari ujung kaki hingga ujung kepala. Dia baru menyadari Nana sangat cantik sekaligus menggoda meski tanpa pakaian sexy dan glamor juga tanpa make up. Bergaun putih selutut, dilapisi cardigan rajut pink lembut dan beralaskan sandal berbahan kayu yang terkesan unik, membuat Nana terlihat sangat manis. Meski tanpa make up, wajah mungilnya tidak nampak kusam dan tetap menawan. "Gaunnya lebar kan? Angkat dikit, ayo naik buruan!" Erick meminta Nana segera memboncengnya. Nana ragu sejenak, namun akhirnya diangkatnya gaun putihnya seperti yang disarankan barusan dan naik ke motor Erick. Nana merapikan bagian bawahnya, agar tidak tersingkap terlalu tinggi dan memperlihatkan paha mulusnya. Juga memposisikan kakinya yang beralas sandal kayu dengan pas agar tidak meleset karena pijakannya terasa licin dan mudah bergeser. Jika tidak hati-hati, sandalnya atau bahkan dirinya bisa terjatuh saat motor melaju kencang. Erick menoleh dan menatap Nana penuh perhatian. Setelah yakin Nana memboncengnya dengan posisi aman, Erick menstarter motornya. "Peluk Abang erat-erat ya!" Erick melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Nana pun memeluk pinggang Erick erat-erat. Membiarkan rambutnya yang terurai berkibaran ditiup angin. "Ikan, ayo kita taklukkan jalanan di pulau Dewata!" Erick berteriak cukup kencang. Nana hanya tertawa dan memeluknya semakin erat. Entah kenapa dia merasakan sebuah deja' vu. Seperti ini bukan pertama kalinya dia meluncur di atas motor besar bersama Erick, menyusuri jalanan kota Denpasar yang mulai sepi. "Ikan di mana tempat yang asyik untuk hangout?" Erick bertanya di sela deru motor besarnya. "Abang pengen hangout kemana? Cafe atau klub malam? Apa mau ke pantai?" Nana setengah berteriak agar suaranya terdengar di tengah deru motor dan angin malam yang bertiup cukup kencang. "Cafe paling sebentar lagi tutup. Pantai juga gelap, apa yang mau dinikmati?" Erick terkekeh, juga setengah berteriak. "Ya sudah, clubbing yuk!" Nana tertawa dan mempererat pelukannya di pinggang pria itu. "Oke, sudah lama Abang nggak clubbing. Kemana nih?" Erick berhenti di persimpangan, menunggu jalanan sepi dari kendaraan yang berlalu lalang hendak menyeberang. "NS, New Star. Di jalan Gunung Soputan. Lewat By Pass aja bang, Sunset Road terus Imam Bonjol. Lebih cepet." Nana memperhatikan jalanan By Pass Ngurah Rai yang masih cukup ramai meski hampir tengah malam. "Oke! Pegangan yang kuat ya, Abang mau ngebut!" Erick memacu kendaraannya lebih cepat. "Nggak usah ngebut, Mpus!" Nana berteriak dan mencubit perut Erick. Erick hanya tertawa. Namun dia sedikit memperlambat laju motornya. Di atas motor mereka berdua bak tengah berpacu di sirkuit. Jalanan yang mulai sepi, membuat Erick benar-benar menikmati laju motornya. Angin malam yang mengibarkan rambut Nana, meski cukup sejuk namun tak membuat wanita cantik itu menggigil kedinginan. Memeluk erat pria yang mengendarai motornya dan menempelkan tubuhnya lekat ke punggungnya yang tegap dan kokoh menebarkan kehangatan hingga jauh ke lubuk hatinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN