Takut

1297 Kata
Memasuki area parkir klub malam, Erick memperlambat laju kendaraannya. Seorang tukang parkir menyambut mereka dan mencarikan tempat yang masih kosong untuk memarkir kendaraannya. "Sudah pernah ke sini?" Nana bertanya saat mereka berjalan bersisian menuju lobi klub malam yang cukup ramai dipenuhi pengunjung. "Pernah, diajak teman." Sahut Erick santai. Mereka memasuki lobi dan disambut seorang pria dengan pakaian formal yang rapi. Erick berbincang sejenak dengannya. Sementara Nana memutuskan untuk menunggu dan duduk di salah satu kursi yang tersedia di setiap sudut lobi. "Nana!" Sesosok pria berpenampilan feminim, bercelana jins warna pink dan berkaos putih menghambur memeluknya. "Eh!" Nana terkejut dan tidak bisa menghindar. "Eh ye lupa eike?" Pria cantik itu terlihat sedikit kecewa melihat reaksi Nana yang tidak langsung mengenalinya. "Eehhm, aku lupa." Nana meringis, menatap dengan seksama pria di hadapannya. "Eike yang di salon Mbok Dayu." Pria gemulai itu merengut kesal, mencebikkan bibirnya. "Astaga! Eci kan? Apa kabarnya?" Nana baru teringat saat pria cantik itu menyebut pemilik salon langganannya dulu. "Iye, eike baik cin. Lu gimana, sehat kan?" Tanyanya sembari memutar tubuh mungil Nana, memastikan wanita mungil ini benar-benar sehat dan baik-baik saja. Nana tertawa tergelak. Tingkah mereka berdua menjadi perhatian beberapa pengunjung night club yang baru saja memasuki lobi. "Eh, eike bareng-bareng sama Mbak Linda, Mbak Ayu dan Mbak Rindu lho. Gabung yuk cin." Eci tidak mempedulikan sekitarnya dan terus mengajak Nana mengobrol. "Eci! Lu dicariin malah nyangkut di mari!" Seorang wanita cantik mendatangi mereka sambil mengomel tak jelas. "Sebentar cin. Ini lho eike ketemu mbok gek yang cantik, Nana Nina Ninu." Eci membalas Omelan wanita cantik itu dengan gayanya yang kemayu. "Astaga Nana! Apa kabar?" Wanita cantik itu baru menyadari keberadaannya bersama Eci dan mengulurkan tangannya, menyalaminya. "Baik Mbak Rindu. Mbak sendiri apa kabar?" Nana tersenyum manis dan menyambut uluran tangan wanita cantik itu. "Baik juga Na. Sama siapa ke sini?" Rindu celingukan mencari seseorang yang sekiranya menemani Nana. "Itu!" Nana menunjuk Erick yang masih berbicara dengan pria yang menyambutnya di lobi. "Eh cin, itu lakimu yang baru? Handsome euy!" Eci seketika menatap Erick penuh minat. "Eh, lu nggak usah ganjen. Laki orang juga." Rindu mencubit hidung pria cantik itu gemas. "Eh biarin mbok. Nana kalau sudah bosen ma lakimu kasih tahu eike ye." Eci menjawil bahu Nana dengan gaya gemulainya. Nana hanya tertawa. Sejenak dia lupa akan apa saja yang beberapa hari ini membuatnya berada di bawah tekanan. Eci, pria cantik nan gemulai itu kerap membuatnya terhibur dengan gaya kemayunya. "Ikan!" Erick melambaikan tangannya memintanya untuk mendekat. "Eci, Mbak Rindu bentar ya." Nana berpamitan pada kedua kawan lamanya dan segera menghampiri Erick. "Halo Mbak Nana! Apa kabar?" Pria berpakaian formal yang tengah mengobrol dengan Erick menyapanya dengan ramah begitu Nana mendekati mereka. "Loh, Pak Nyoman kenal ma ikan?" Erick mengerutkan kening, menatap mereka berdua bergantian. "Ikan? Oh Mbak Nana." Pria berpakaian formal itu, Pak Nyoman yang merupakan salah satu manager night club itu tertawa mendengar cara Erick memanggil Nana. "Mbak Nana ini salah satu langganan vip kami, Pak Erick." Pak Nyoman, tersenyum ramah pada mereka berdua. "Oh, vip?" Erick melirik Nana setengah menggodanya. "Ih apaan sih kucing garong." Nana mencubit pinggang Erick tetapi tersenyum manis dan ramah pada pria di hadapan mereka yang tersenyum-senyum menyaksikan tingkah keduanya. "Kalau Mbak Nana biasanya pesan meja di hall, Pak Erick." Pak Nyoman tersenyum pura-pura mengabaikan tingkah canggung Nana. Sudah menjadi rahasia umum di lingkaran pergaulan sosial mereka, bagaimana dan siapa Nana. Almarhum suaminya merupakan salah satu kolega pemilik night club ini, dan Pak Nyoman pun mengenalnya dengan baik. "Baiklah, kita pesan meja di hall saja ya." Erick melirik Nana yang masih berdiam diri tak banyak berbicara. "Iya. Pak Nyoman seperti biasa saja ya." Nana tersenyum canggung. "Oke Mbak Nana. Mari Pak Erick saya antar ke hall." Pak Nyoman mengangguk mengerti dan memimpin mereka menuju hall. Nana melirik sekilas ke sudut lobi, Eci dan Rindu sudah tidak ada di sana. Mereka mungkin sudah berbaur di hall dengan pengunjung lain. Kelap-kelip lampu disko dan pengunjung yang berlalu lalang diiringi dentum musik yang merangsang untuk bergoyang menyambut mereka begitu memasuki hall. Nana mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Masih seperti dulu saat terakhir dia mengunjungi klub malam ini. Erick menggenggam erat tangannya seakan-akan khawatir dia akan tersesat di tengah keramaian klub yang temaram. Nana melirik pria yang terlihat acuh dengan keramaian di sekitarnya, namun mata elangnya memindai sekitarnya. "Silakan Pak Erick, Mbak Nana." Pak Nyoman menunjukkan meja mereka. "Terimakasih Pak Nyoman." Erick tersenyum dan menarik kursi untuk Nana. "Suksma Pak Nyoman." Nana juga mengucapkan terimakasih pada pria asli Bali itu. "Sama-sama. Saya permisi dulu." Pak Nyoman berpamitan dan berlalu meninggalkan mereka berdua. "Abang duduk jugalah." Nana menarik lengan Erick dan memintanya untuk duduk di sebelahnya. "Iya, sayang." Erick menurut, duduk di sebelah Nana. "Sering ke sini?" Erick mengeluarkan rokok dan korek api dari saku celananya. "Dulu. Sekarang jarang." Nana dengan cekatan menyalakan korek dan menyulut rokok yang sudah terselip di bibir Erick. "Pelanggan vip ya?" Erick mengerlingkan mata, menggodanya. "Jangan tanya hal itu." Nana seketika mencubit lengan pria itu. Sejujurnya Nana enggan menjawab pertanyaan seputar hal-hal yang akan mengingatkannya pada almarhum suaminya. Menjadi pelanggan vip di klub malam ini merupakan salah satu kenangan yang sulit dilupakannya. Seorang pelayan datang dan menyajikan beberapa jenis minuman di atas meja mereka. Rupanya Erick tadi sekalian memesan minuman pada Pak Nyoman. Nana melirik pria yang tengah mengucapkan terimakasih dan memberi tips pada pelayan itu. Sejujurnya ini pertama kalinya dia bertemu dan berdekatan langsung dengan si kucing garong setelah hampir dua tahun lamanya hanya berbagi cerita di dunia maya saja. Entah dari mana muncul keberaniannya untuk mempercayai pria yang hanya dikenalnya di dunia maya ini, hingga dia mengikutinya dan terdampar bersama di klub malam yang cukup populer di kota Denpasar. Erick menuangkan Martell Gordon Blue ke dalam dua gelas berisi es batu yang tersedia di atas meja. Nana memperhatikan gerak-gerik pria itu dengan seksama. Matanya tak lepas menatap si kucing garong yang sedikitpun tidak merasa tengah ditatap sepasang mata bening nan indah miliknya. "Kenapa?" Erick bertanya dengan santai sembari mengulurkan gelas berisi minuman beralkohol pada Nana. "Nggak apa-apa." Nana mengelak untuk menjawab jujur pertanyaan Erick dan menerima gelas itu. Nana hanya meneguk ludah tanpa berniat untuk segera meminumnya. Bukan dia tidak terbiasa dengan minuman beralkohol, namun lebih pada kekhawatirannya kehilangan kendali diri di bawah pengaruh minuman beralkohol yang bisa saja berakibat fatal. "Kamu takut sama Abang?" Erick mendekatkan tubuhnya dan berbisik di telinga Nana. Seketika pipinya bersemu memerah dan secara reflek Nana menjauhi Erick. Namun pria itu mencekal lengannya dan tidak membiarkannya menjauh darinya. "Takut?" Erick kembali mengulangi pertanyaannya. Nana menatap Erick kebingungan. Benarkah dia takut pada si kucing garong ini? Lantas kenapa dia mau saja dibawa pria asing ini yang baru ditemuinya beberapa kali ke tempat seperti ini? "Apa yang ada di otakmu Marimar?" Nana mengeluh dalam hati dan masih menatap Erick tak berkedip. "Ikan, ikan. Kamu ini aneh. Kenapa baru sekarang takut sama Abang? Di mana ikanku yang suka bertingkah bar-bar kalau godain Abang?" Erick menariknya ke dalam pelukannya dan terkekeh. "Ih Mpus! Beda lho!" Nana kembali melayangkan cubitan di pinggang si kucing garong. Tapi tidak ada niatannya untuk melepaskan diri dari pelukan pria itu. Justru Nana menatap wajah tampan yang begitu dekat dengannya. Suasana temaram membuat Nana tidak canggung untuk menatap pria yang biasanya hanya bisa ditatapnya dalam layar smartphone-nya saat mereka melakukan panggilan video. Suasana temaram juga menyembunyikan pipinya yang memerah. "Ikan kenapa? Bukannya kita sudah sering melihat bahkan nganu. Kenapa ikan jadi kek ikan asin sih?" Erick mengeluh dan mengecup puncak kepalanya pelan. Nana tertegun mendengar ucapan Erick. Astaga, apa yang diucapkan kucing garong memang benar adanya. Kenapa baru sekarang dia takut padanya? Sementara selama dua tahun ini mereka telah berbagi banyak hal termasuk hal-hal yang bersifat pribadi sekalipun itu hanya di dunia maya saja. "Aku nggak takut mpus, cuma kaget." Nana berucap lirih dan tanpa ragu memeluk kucing garong dengan erat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN