"Ikan, biasanya pakai nggak?" Erick bertanya di sela-sela musik yang berdentum cukup kencang.
Nana yang tengah menikmati musik sembari menggoyangkan kakinya menoleh dan menatap Erick. Pria itu tengah mengeluarkan rokok dan hendak menyulutnya.
"Neken?" Nana dengan sigap menyalakan korek dan membantunya menyulut rokoknya.
"Iya begitulah." Erick menghisap rokoknya dan menghembuskan asapnya pelan.
"Kenapa? Abang biasanya neken apa minum saja?" Nana mengambil gelasnya dan menggunakannya pelan.
"Kadang pakai sih. Tapi kalau kamu nggak pakai Abang malas pakai juga." Erick tersenyum tipis dan membelai rambut Nana yang terurai di punggungnya.
"Nanggung deh Bang mau neken. Lagian nanti kita pulang kek gimana coba? Abang pakai motor lho." Nana mengingatkan.
"Iya juga sih. Tadi memang nggak ada rencana mau clubbing sih. Cuma mau jalan-jalan saja biar nggak sumpek di rumah." Erick tertawa pelan.
"Nggak apa-apa kan kita cuma minum saja?" Nana bertanya hati-hati.
"Iya nggak apa-apa. Mau ke hall?" Erick menawarinya untuk turut bergoyang bersama para pengunjung klub yang memenuhi hall.
Nana menggelengkan kepalanya. Musik yang dimainkan sang DJ sepertinya kurang menarik antusiasnya untuk turut menggerakkan badan dan bergoyang bersama-sama para pengunjung lain.
"Musiknya nggak enak." Keluh Nana lirih.
"Ya iyalah, kita cuma minum sedangkan musiknya house music bukan progress." Erick tertawa geli.
"Iya juga sih." Nana meringis dan kembali menyesap minumannya.
Semakin malam suasana klub malam semakin meriah. Apalagi di akhir pekan seperti ini. Musik perlahan-lahan mulai berganti seiring dengan meriahnya suasana.
Perlahan-lahan Nana mulai menikmati musik yang mengundangnya untuk menggoyangkan tubuhnya. Erick meliriknya dan memperhatikannya dengan seksama sementara gelasnya sudah kosong lagi.
"Ikan, let's dance!" Erick meletakkan gelasnya dan menarik lengan Nana pelan.
"Serius mau dance di hall?" Nana mengerutkan kening menatap Erick tak percaya.
"Yes! Kenapa?" Erick tertawa melihat reaksi Nana.
"Abang bisa dance?" Nana masih menatapnya tidak percaya.
"Astaga ikan!" Tanpa menjawab pertanyaan Nana, Erick menarik lengannya dan membawa Nana ke hall.
Nana terkejut dengan gerakan tiba-tiba itu dan tidak bisa menolak lagi. Erick merangsek membawanya ke tengah-tengah hall. Meski dari tempat mereka duduk terlihat di penuhi pengunjung, namun rupanya hall tidak benar-benar disesaki pengunjung.
Kebetulan DJ baru saja memulai lagu baru. Intro yang berdengung pelan dan semakin mengencang, sangat dikenali Nana. Salah satu lagu yang sangat disukainya dalam versi house music.
Perlahan-lahan Nana mulai bergoyang mengikuti irama musik yang semakin menggodanya untuk turut larut. Erick pun turut bergoyang bersamanya.
"Eh Abang bisa ngedance rupanya." Nana tertawa renyah sembari menggenggam erat tangan pria itu.
"Hadew ikan ikan! Abang kan orang Indonesia timur. Di sana menari sudah jadi hal biasalah." Erick terkekeh dan memeluk pinggang ramping Nana.
Nana tertawa dan kini tanpa ragu lagi dia menari mengikuti irama musik bersama Erick. Si kucing garong yang biasanya hanya menggodanya dengan chat m***m kini benar-benar menggodanya untuk menghabiskan malam ini dengan menari bersama hingga musik usai.
Entah berapa lama mereka berdua larut dalam musik dan dansa. Hingga tanpa terasa malam semakin larut dan suasana makin meriah. Hall mulai dipenuhi pengunjung lagi. Erick berkali-kali harus memastikan tidak ada yang mengganggu Nana atau tanpa sengaja menyenggolnya.
"Abang sudah mulai ramai. Balik ke meja yuk!" Nana yang mulai merasa tidak nyaman mengajak Erick untuk kembali ke meja mereka.
Sebenarnya bagi Nana bukan masalah besar saat menari sambil berdesak-desakan seperti itu. Dia sudah terbiasa dengan suasana di klub malam ini dan hampir tidak pernah mendapatkan masalah meski berkali-kali hampir terinjak.
Bahkan terkadang di saat seperti ini dia akan mendapatkan teman baru yang akan menemaninya menari atau mentraktirnya segelas minuman. Itu sudah menjadi hal yang biasa baginya.
Namun jelas Erick tidak nyaman dengan kerumunan seperti itu. Pria itu berkali-kali memeluknya untuk menghindarkannya dari sentuhan para pengunjung meski tidak sengaja.
Nana dapat menangkap kilatan marah di mata si kucing garong. Dia tidak ingin terjadi sesuatu hal yang dapat memancing keributan dan mengajaknya untuk kembali ke meja mereka.
"Oke!" Erick menyetujui ajakannya dan menggandengnya kembali ke meja mereka.
Erick memicingkan mata saat mendapati ada sepasang kekasih yang telah menempati meja mereka. Nana menyentuh lengannya pelan memintanya untuk tidak marah.
"Nggak apa-apa nanti mereka pasti pindah kok kalau kita tegur baik-baik." Nana tersenyum manis dan bergayut manja di lengannya.
"Maaf Mbak, Mas ini meja kami." Nana tersenyum ramah dan menegur sepasang kekasih itu dengan ramah juga namun tegas.
"Oh maaf Mbak. Kami permisi, terimakasih ya Mbak." Sang pria tanpa banyak mengelak segera menggandeng kekasihnya untuk meninggalkan meja.
"Segampang itu?" Erick menatap Nana tidak percaya.
"Iya. Karena mereka tahu meja ini sudah di booking tamu lain. Kan ada minuman dan juga rokok Abang di atas meja." Nana menjelaskan sembari menjatuhkan tubuhnya di atas kursi.
"Oh begitu rulesnya." Erick mengangguk paham.
"Iya." Nana mengusap keningnya yang berkeringat tipis.
Dilepaskannya cardigan pink-nya dan diletakkannya di atas pangkuannya. Setelah menari dan ditambah dengan keramaian klub yang semakin dipenuhi pengunjung, gerah tidak dapat dihindarinya.
Erick menatapnya tanpa berkedip. Di balik cardiganya, Nana hanya mengenakan gaun Sabrina yang memamerkan bahu mulusnya.
Erick menggeser duduknya dan merangkul Nana, membuatnya terlindung di balik tubuh tegapnya. Setidaknya tidak akan ada yang dapat menikmati bahu mulusnya yang sudah pasti mengundang decak kagum para pengunjung pria.
"Abang kenapa?" Nana melirik Erick dan tersenyum geli.
"Nggak apa-apa. Haus nggak?" Erick sengaja mengalihkan perhatian Nana agar tidak bertanya lagi.
Erick tipe pria yang cukup overprotektif terhadap wanitanya. Apalagi Nana yang setahunya gampang mengundang godaan dari pria di sekelilingnya.
"Iya, aku haus. Pesan dark beer aja ya?" Nana tanpa canggung lagi memeluk pinggang Erick erat.
"Oke." Erick memanggil seorang pelayan dan memesan dark beer seperti yang diminta Nana.
Keduanya kembali menikmati malam mereka dengan mendengarkan musik sembari menggoyangkan badan dan berbincang-bincang dengan riang.
"Abang nggak nyangka kalau kamu tinggal di sebelah rumah Abang." Erick tertawa geli mengingat saat pertama mereka berjumpa.
Keduanya seperti orang-orang yang tidak saling mengenal namun tidak merasa asing. Karena memang mereka berdua belum pernah bertemu secara langsung dan hanya saling bertatap muka di dunia maya.
"Aku juga kaget waktu itu. Sampai kepalaku cenat-cenut nggak karuan." Nana pun tertawa tergelak.
"Waktu Abang pindah ke sini, villa tempat kamu tinggal sepi. Abang kira itu villa yang disewakan." Erick melonggarkan pelukannya dan mengeluarkan dompet dari saku celananya.
Pelayan telah kembali lagi dengan pitcher berisi dark beer dan juga dua buah gelas besar khas untuk beer. Erick membayar pesanannya dan sekalian dengan tip untuk pelayan itu.
"Aku masih di Singapura waktu itu bang. Biasanya hanya Mbak Siti saja yang rutin datang untuk bersih-bersih dan merawat kucingku." Nana menerima gelas beer-nya dan meneguk minuman berasa pahit itu.
"Kalau dipikir lucu juga ya. Nggak pernah terbayangkan kalau pada akhirnya kita bisa bertemu?" Erick meraih sejumput rambut Nana yang tergerai dan memintalnya dengan jari-jarinya.
"Padahal Abang pernah bilang nggak akan mau bertemu dengan ciwi-ciwi Abang di dumay." Nana tersenyum pahit mengingat ucapan Erick beberapa saat lalu sewaktu mereka mengobrol di chat w******p.
"Pertemuan kita bukan pertemuan yang disengaja dan direncanakan. Kalau sudah begini Abang bisa apa? Anggap saja sudah takdir." Erick mengusap puncak kepala Nana pelan.
Nana tersenyum menatap pria di sampingnya. Meski samar-samar dia dapat merasakan ada kasih sayang dalam setiap ucapan dan sentuhan si kucing garong.
"Abang sepertinya sudah menjelang pagi. Mending kita pulang sekarang saja. Repot nanti kalau ada tetangga apalagi bini abang lihat kita pulang bersama di pagi buta." Nana melirik jam tangan Erick yang melingkar di lengannya.
"Oke, kita pulang sekarang." Erick berdiri dan meneguk hingga habis beer yang masih tersisa di gelasnya.
Nana mengenakan cardigannya dan merapikan rambutnya. Erick merangkulnya dan mereka berjalan bersisian sembari bercengkerama meninggalkan hall.
"Nana!" Seseorang tiba-tiba memanggilnya saat mereka berdua melewati deretan private room yang semi terbuka.
Nana dan Erick berhenti sebentar mencoba mengenali siapa yang menyapanya barusan. Seorang wanita cantik berpenampilan glamour keluar dari salah satu private room dan mendekati mereka.
"Mbak Linda!" Nana menyambut wanita cantik itu dan menghambur berpelukan dengannya.
"Sudah mau pulang ya?" Linda bertanya sembari melirik Erick.
"Iya mbak. Sudah pagi ini." Nana tersenyum manis.
"Oh ya udah. Kapan-kapan saja ya kita party. w******p-nya masih nomor yang lama kan?" Linda tersenyum mengerti.
"Masih kok mbak. Aku pamit dulu ya mbak." Nana terburu-buru berpamitan saat merasakan genggaman tangan Erick makin mengencang.
"Ah oke oke! Bye Nana!" Linda tersenyum dan melambaikan tangan.
Nana melambaikan tangan dan bergegas mengikuti langkah Erick yang cukup cepat. Mereka berdua bergegas meninggalkan klub malam dan kembali menyusuri jalanan kota Denpasar dengan motor besar Erick.