Nana merapikan meja, terutama daftar menu dan kartu nama serta lembaran kertas yang berisi nama dan alamat Cecilia, tamunya tadi. "Erick Voerman." Nana menatap kartu nama itu tidak berkedip. "Erick? Ini si kucing garong bukan sih? Hadew kenapa di mana-mana ada dia sih?" Nana berkeluh kesah dalam hati. Akhir-akhir ini dia merasakan kehadiran Erick di mana pun dia berada. Ini membuatnya pening sekaligus bingung, tetapi ada secercah bahagia di sudut hatinya yang terdalam. "Ibu, makanannya sudah datang. Saya taruh di ruangan ibu." Enik menegurnya pelan, membuyarkan lamunan Nana. "Ah iya. Gek, tolong rapikan mejanya ya. Saya mau makan dulu. Kalian gantian ya makannya." Nana mengambil tumpukan menu yang tadi dirapikannya. Enik mengangguk dan dengan cekatan melaksanakan perintah Nana. Sedan

