8. Menunaikan Kewajiban

1157 Kata
Aku menatap kesal mas Arga yang tertawa begitu lebar. Aku pun memasuki rumah kami dengan dongkol. Aku langsung mencuci wajahku dan tak lupa cuci kaki dan gosok gigi. Langsung aku pun tertidur. "Lah sudah tidur.?" ucap mas Arga yang masih terdengar olehku. Aku belum tidur namun aku ingin menghindari mas Arga terlebih dahulu. Aku mendengar gemricik air, aku pun menatap kamar mandi yang tertutup itu menghembuskan nafas kasar, Aku kembali ke posisi semula dan mata yang menutup. "Maaf sayang bukan nya mas nggak menginginkan mu tapi mas mau kamu melakukan nya jika sudah siap, dan sekolahmu juga sudah selesai mas nggak mau kamu berhenti sekolah saat mengandung anak mas sayang, makanya mas belum bisa menyentuhmu selayaknya pasangan yang lain mas masih menunggu mental kamu siap dan kamu juga sudah siap menyerahkan diri kamu sebagai istri yang mana kebebasan kamu tidak lagi seperti dulu" ujar nya begitu lembut "Mas akan mendaftarkan pernikahan kita ke ranah negara dulu sayang, aku tidak mau anak kita lahir tanpa pernikahan negara, makanya mas menunggu usia kamu cukup, Mas sayang dan cinta kamu Luna" lanjutnya lalu mengecup keningku dan membenarkan selimutku. Aku menarik nafas saat mas Arga mengeluarkan pendapatnya, 'terimakasih mas sudah menjaga Luna dengan baik, maaf juga Luna belum bisa menjadi istri mas Arga seutuhnya dengan kondisi Luna saat ini' ucapku dalam hati yang setelah itu tertidur dengan sangat lelap. --------- Setelah aku melamar Luna walaupun sekarang statusnya istriku namun aku ingin membuat kenangan yang tak terlupakan bagi nya. Keesokan harinya setelah mengantarkan istri ku kesekolah aku pun menuju rumah papah dan mamah yang memang sudah di tunggu oleh papah. "Lho den Arga ternyata" ucap seorang wanita paruh baya yang dikenal dengan Mbok Ir asisten rumah tangga papah dan mamahnya. "Papah ada mbok.?" saat ini usia nya sudah senja namun beliau masih kuat dengan tugasnya. "Ada den silahkan den Arga masuk saja" "Makasih mbok" aku pun masuk yang ternyata sudah ditunggu papah di ruang keluarga. "Sudah datang kamu Ga" ucap sang papah sambil menyeruput kopi buatan istrinya "Iya pah gimana dengan permintaan Arga.?" tanyaku pada papah "Kamu tenang saja Ga, nanti kita ke kantornya papah sudah buat janji jam 9" "Tapi Arga ke kampus dulu ya pah, dosen pembimbing mau ketemu" "Iya ya sudah cepetan yaaa papah tunggu di rumah ekh jangan langsung ke kantor saja yaa" ujarnya membuatku mengangguk. Aku pun segera ke kampus "Lho Ga kok nggak duduk dulu.?" tanya mamah "Maaf mah Arga sudah ditunggu dosen pembimbing Arga" "Owalah ya sudah hati-hati dijalan nak" "Iya mah" Setelah itu aku bergegas ke kampus dan ternyata ngobrol lama hampir satu jam dan Arga pun agak cemas jam menunjukan pukul 08.40, aku pun memohon maaf pada nya ada urusan dan alhamdulillah nya beliau mengizinkan aku pun segera pergi dari kampus. Ternyata papah sudah sampai duluan dan menungguku di parkiran. Hampir dua jam lamanya aku mengajukan isbat nikah / pengesahan pernikahan ternyata jalan nya tidak semulus jalan tol tapi dengan adanya papah dan semua dokumen penunjangnya akhirnya aku bisa bernafas lega walaupun harus menunggu beberapa hari. --------- Beberapa hari setelah mas Arga melamarku kini ia menepati janjinya untuk berziarah ke makam ayah dan ibu. Aku berterimakasih pada Ayah telah memberikan mas Arga padaku yang begitu baik dan pengertian padaku. "Ayah, Luna datang dengan Mas Arga ayah, ayah apa kabar.? semoga ayah senang disana dengan ibu ya ayah" ucapku setelah selesai berdoa untuk mereka yang di pimpin oleh mas Arga. "Ayah tenang saja Luna aman dengan menantumu yang ganteng ini" ucapnya membuatku melotot kearah nya apa-apaan suamiku ini. "Lihatlah ayah putri mu melotot kearah suaminya" adunya pada sang ayah mertua membuat bola mataku memutar dengan malas. "Kamu ini mas kayak anak kecil aja ngadu ke orang tuanya" gerutuku kesal padanya "Loh emang apa salahnya mas mengadu pada ayah mertua.?" tanya mas Arga membuatku tak bisa berkutik iya juga sih nggak ada salahnya mengadu kepada mertua tapi kannn... "Sudah-sudah jangan dibikin pusing sayang katanya mau ziarah kok malah curhat pada ayah sih" lerai mas Arga disaat aku menggeleng-gelengkan kepala. Aku mengangguk sebagai jawaban. Mas Arga pun memimpin doa bersama untuk kedua orang tuaku, 'Ayah doakan anakmu ini semoga saja malam ini Luna bisa membuat mas Arga senang ayah' ucapku dalam hati. "Sudah yuk mas kita pulang ini sudah agak siang matahari juga sudah tinggi aku belum masak sarapan buat kita" ajakku pulang dari tempat peristirahatan terakhir ayah dan ibuku. "Kita nyari makanan diluar saja sayang" ujarnya "Terserah mas Arga saja lah" pasrah ku namun sebenernya aku tak mau makan diluar mengingat sudah banyak yang mas Arga berikan padaku namun aku belum pernah memberikan apapun padanya termasuk hak nya menjadi suami. Kembali nya kerumah aku dan mas Arga membagi tugas untuk membersihkan rumah dan mencuci mobil. "Sayang, mas sore hari ini mau ketemu klien kamu makan malam sendiri nggak papa.?" tanya mas Arga "Tak apa lah mas" jawabku lirih "Jangan sedih siapa tahu ini rezeki kita sayang, besok kalau kamu libur mas ajak ke tempat kerja okeh biar istri ku yang cantik ini tahu kerjaan suaminya" ujarnya sambil menggodaku. "Iya mas hati-hati di jalan yaaa" "Baik sayang makasih" jawabnya sambil mengecup keningku lalu mendarat ke bibirku membuat ku teriak "Massss" dia tertawa cekikikan yaa ini pertama kalinya dia mencium bibirku ahhh nggak seksi lagi bibirku ini. Malam pun tiba aku makan malam sendiri ditemani dengan sepi, "Andai kita sudah punya anak mungkin rumah ini akan ramai dengan tangis dan tawa anak-anak kami" monolog ku saat jeda makan. Aku pun mengingat mamah pernah memberikan paper bag saat mas Arga melamarmu kemarin, belum sempat aku buka juga mengingat yaaa kesibukan kami hihihi. alias sok sibuk saja. Setelah makan aku bergegas membuka isi hadiah yang diberikan oleh mama mertua, aku terkejut dengan isinya, "Mamah nggak salah memberikan baju ini padaku.?" tanyaku pada diri sendiri sambil bergidig ngeri membayangkan jika aku memakainya akan jadi seperti apa, baju nya aja tipis banget mana nerawang lagi haduhhh apa jadinya ini kalau aku pakai mungkin akan terlihat sana sini dong "Tapi kata mamah aku harus memakainya di depan mas Arga" tiba-tiba saja aku mendengar mobil mas arga pulang kerumah aku pun segera ke kamar mandi dengan perasaan deg-degan. Haruskah malam ini aku menyerahkan nya.? pertanyaan itu muncul dalam giliranku tapi aku pun mencoba pakaian nya. Aku kembali masuk kedalam kamar mandi sesaat, bagaimana tidak aku saja masih malu dengan kelakukan ku yang satu ini. "Sayang,, mas pulang" ujar mas Arga "Sayang kamu dimana" lanjutnya teriak didalam kamar membuatku gemas padanya. "Bentar mas aku didalam kamar mandi" jawabku dengan sedikit berteriak "Ahh gimana ini" lanjutku lirih namun apa boleh buat aku pun juga harus melakukan nya aku memoles diriku sedikit agar terlihat cantik. Tentu bajunya aku lapisi dengan handuk kimono agar tidak terlihat jelas terpampang nyata. Dan keluar dari kamar mandi membuat mas Arga terpana diam tidak merespon apapun namun tatapan matanya melotot tak percaya dengan apa yang istrinya lakukan, dan mungkin tidak menyangka bahwa aku bisa seperti ini, rasa malu ku sudah aku buang ketengah laut, Mas Arga menatapku dengan tatapan tak biasa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN