“Mir, kita duluan, ya,” pamit Ayu yang sudah berdiri. Disusul Dewi dengan kerlingan manja. Kak El hanya mengangguk. Dengan terpaksa, aku pun mengikuti apa yang lelaki itu lakukan. “Udah makan, Mir?” tanya Kak El, begitu mereka sudah tak terlihat. “Belum. Tadi Cuma beli minum. Kak El?” “Belum juga. Cari makan, yuk!” Tanpa banyak bertanya, aku mengekori langkahnya. Aku menjadi bingung ketika calon suamiku itu berbelok ke tempat parkir. Apakah di sana ada penjual jajan? “Ayo, Mir!” Aku terkejut. “Ke mana? Tadi katanya mau jajan.” Kak El menyodorkan helm. Aku mengernyit. Maksudnya? “Cari dulu. Kamu mau apa?” “Cari? Bonceng Kak El?” Ia mengangguk, lalu mengeluarkan motornya ke halaman. “Ayo, Mir! Keburu hujan.” Aku masih mematung di belakang motor. “Mirna jalan kaki aja ya, Kak.”

