“Makasih buat semuanya, Kak,” kataku seraya memberikan helm untuknya. Kak El menerimanya, lalu tersenyum. “Sama-sama. Jangan lupa istirahat.” Aku pun ikut tersenyum, kemudian berjalan menuju kamar setelah memberi pesan agar ia hati-hati di jalan. Tak pernah menyangka jika pelabuhan terakhirku adalah sahabat kecil. Masa lalu yang pernah melukai, tetapi nyatanya aku malah jatuh hati. Teringat bunga mawar tadi, aku merogoh tas, lalu mengeluarkan isinya. Kucium bunga itu dalam-dalam, aromanya begitu menenangkan. Kak El romantis sekali, sih, meskipun sebenarnya aku tak begitu suka dengan mawar berwarna merah muda. Aku lebih suka dengan mawar berwarna merah karena menurutku lebih cantik dan memiliki makna mendalam. Melihat jam sudah hampir waktu asar, aku segera meletakkan bunga ini di meja,

