“Jadi, teman Mbak Yuni itu seorang ustazah?” tanyaku saat aku dan Mbak Yuni makan malam. “Em, bukan teman, sih,” jawabnya setelah menggigit mendoan. “Terus, siapa?” “Dia itu kakaknya temen gue. Orangnya baik, sih.” “Terus, Mbak Yuni ngapain aja di sana?” Aku sangat penasaran. Jarang-jarang ia ke rumah teman, apalagi ada seorang ustazah—orang yang ilmu agamanya sudah banyak. Apakah Mbak Yuni meminta pencerahan di sana ? Atau sekadar kerja kelompok dengan temannya itu ? "Di sana gue belajarlah. Ya, kali cuma numpang makan.” “Bisa jadi. Lo kan kang makan. Serius nih, belajar apa emang, Mbak?” “Bocil dilarang kepo.” la tertawa, aku mengerucutkan bibir tanda tak suka. Mbak yuni masih terus saja asyik dengan gorengannya, sedangkan aku menunggu ia bercerita sembari ngemil martabak tadi s

