Setelah beberapa menit duduk di belakang, aku kembali ke meja depan. Tak salah memang, Dewi yang ikut andil dalam semua ini. Baru saja ia meletakkan sebuah kertas di mejaku, jadi tak mungkin bukan kalau yang biasanya meletakkan bunga itu juga dia. Kuambil kertas tersebut, lalu membacanya. “Datanglah ke taman kota nanti malam kalau kamu mau tahu siapa aku sebenarnya.” Kunaikkan sudut bibir. Siapa takut? Nanti siang, aku akan memberitahu Ayu akan hal ini untuk mengatur strategi. Malamnya, aku datang ke tempat yang tertera di surat tadi. Tempat yang gelap dan sepi. Tak jauh dari kos, tetapi tak terlalu dekat pula. Bulu kudukku berdiri. Lampu di taman ini hanya satu, maka dari itu cahaya penerangan sangatlah minim. Meski ada Ayu dan Mbak Yuni yang akan menyusul nanti, aku tetap tak bisa ten

