“Lo nangis?” Aku tersentak, lalu buru-buru mengambil minum. Selesai meneguknya, aku fokus pada mi. “Nggak. Gue cuma kepedesan.” “Beda banget ya mana Mirna yang lagi bohong sama yang enggak.” Aktivitas terhenti. Sendok refleks kuletakkan di piring hingga bunyinya beradu nyaring. “Dewi, musuh dalam selimut.” Ayu syok. Aku mati-matian menahan genangan mata agar airnya tak jatuh terlalu cepat. Kalau bisa, jangan pernah tertetes untuk teman sepertinya. “Dewi musuh dalam selimut, maksud lo?” tanyanya, hati-hati. Aku mengangguk lemah. “Sahabat yang selama ini gue anggap kayak saudara sendiri ternyata musuh, Yu.” Kuraih gelas, lalu meneguk isinya hingga tandas, kemudian meneruskan, “Tadi pagi gue nggak sengaja dengar obrolan dia sama Gian di toilet lewat telepon. Lo tahu apa yang sahabat k

