Aku mendelik seraya menggeleng. Mana mungkin aku cemburu? Maksudnya, mengaku cemburu di depannya. Bisa turun martabatku.
"Ngapain cemburu sama orang yang belum pasti?"
Ia membuka masker. "Oh, jadi mau dipastiin, nih?"
"Ntahlah. Aku masuk dulu. Makasih udah nganterin."
Tanpa menunggu jawaban, aku membalikkan badan dan berlari ke pintu kamar. Membuka dengan cepat, lalu menutupnya lagi. Bukan apa, aku tak bisa berlama-lama kalau sama cowok idaman. Bisa-bisa mati gaya, karena kehilangan ide untuk menolak kegugupan.
Ia ingin memastikan aku? Memastikan untuk menjadi orang spesial atau hanya sebatas teman?
Kugelengkan kepala. “Enggak-enggak. Aku nggak boleh baper. Tapi kalau liat dia, bawaannya emang pengin ngemil terus. Hooh, ngemilikin dia seutuhnya.”
Duh, Mirna. Ingat, fokus kuliah. Jangan memikirkan itu dulu!
Daripada terus kepikiran, aku segera bersih-bersih. Nasi kucing sudah menunggu dimakan. Oh ya, soal es, besok-besok saja, deh. Sekarang hawanya berbeda, tak panas lagi. Namun, gugupnya masih ada, dari awal bertemu Bagas hingga sekarang.
Selesai membersihkan badan, aku mulai makan. Tiba-tiba kepikiran Mbak Yuni. Sebenarnya tak tega mengerjainya. Aku bukan penjahat apalagi psikopat, tetapi kalau didiamkan, ia tak akan jera. Aku yakin, setelah ini pasti banyak perselisihan lagi.
Mengingat sebelum dia kos di sini, aku merasa aman-aman saja. Damai dengan keadaan. Namun, semuanya berubah. Aku ditakdirkan memiliki tetangga yang banyak gaya.
Mulai dari pinjam-meminjam charger, uang, mekap, pakaian, hingga peralatan mandi. Aku sebenarnya tipe orang yang jijik memakai bekas orang lain. Namun, sayang kalau dia pinjam sekali terus kukasih, lama-lama bisa bangkrut. Apalagi pakaian, masih sangat kusayangkan, dan dengan terpaksa kupakai lagi setelah dipakainya.
Tak hanya pinjam-meminjam, anehnya ia juga julid. Berlagak kaya di depan orang lain, padahal apa yang dia pamerkan seringnya adalah barangku. Aku juga merasa aneh dengan diriku sendiri, kenapa tak melawan dan mempermalukan di depan banyak orang, padahal aku bisa melakukannya. Entah mengapa ada dorongan dalam hati untuk menjaga perasaannya.
Sampai sekarang, aku belum tega mempermalukannya.
Sudahlah, daripada menjadi emosi, kuhabiskan nasi kucing yang tinggal satu bungkus lagi. Belum sempat melahap, aku mendengar suara orang berjalan di depan kamar. Kuintip dari jendela yang tertutup korden, ternyata Mbak Yuni.
Eh, kok, dia ke arah rak sepatuku?
Dengan hati-hati, kubuka pintu. "Ngapain Mbak Yuni di situ?"
Ia tersentak, lalu salah tingkah, pura-pura menggaruk kepala yang kuyakini tak gatal. Masih berdiri tak jauh di belakangnya, kupantau sampai dia mengaku.
"Eng-nggak papa, kok," akunya dengan suara bergetar.
"Terus, ngapain berdiri di situ?" tanyaku disertai tatapan tajam. "Mau balikin sepatu yang dipakek tanpa izin?"
Ia terperangah, wajahnya langsung pucat pasi. Aku mungkin tak terlihat seperti Mirna yang biasanya; kalem dan baik hati. Mungkin sekarang terlihat persis kucing yang siap menerkam mangsa. Bukan singa, itu terlalu seram bagiku.
"Kenapa diam? Berarti iya, 'kan?" Aku melangkah mendekati rak sepatu yang jauh dari kata rapi.
Mbak Yuni makin gugup, melihatku dengan tatapan takut. Memangnya setan? Aku juga manusia kali. Mungkin dia baru tahu kalau cewek semanis ini bisa judes, makanya tak berani menjawab.
Aku terkejut, melihat sepatu kesayangan berlumuran tanah basah. Sampai tak terlihat warnanya, saking tebalnya lumpur. Astagfirullah! Meminjam, sih, boleh, tetapi tak begini juga cara memulangkannya.
"Abis buat ngapain tuh sepatu, Mbak?" tanyaku datar. Lantas mundur beberapa langkah supaya sejajar dengannya.
Tanpa melihatku, ia menjawab, "Tadi nggak sengaja nginjak lubang berair. Abis itu kepleset di sawah gegara ngindarin truk."
Aku tersenyum puas dalam hati. Rasakan itu. Makanya jadi orang tak usah sombong. Baru dikasih nikmat punya cowok ganteng saja sudah belagu. Bagaimana kalau berjodoh dengan Lee Min Ho atau Mas Rendy pemain sinetron itu? Aduh, aku yang tak rela.
"Gue nggak sengaja," ucapnya lagi.
Aku memerhatikannya dari atas sampai bawah, pakaiannya memang kotor. Mau tertawa lebar takut kemasukan lalat, mau diam tapi tak tahan untuk tidak tertawa. Ok, baiklah, untuk kali ini aku tak boleh berbaik hati.
"Terus kalo nggak sengaja, lo kira gue bakal prihatin dan maklum? Terus baik hati lagi kek biasanya? Eh, jangan ngarep! Berani bertindak berani nanggung resiko, dong."
Dadaku naik turun, emosi sudah meletup-letup. Tak peduli sopan atau tidak, siapa suruh membuat masalah.
"Gue juga nggak tau kalo bakal kayak gini. Lo nggak usah lancang, dong!" pekiknya.
"Lancang? Lo, tuh, yang harusnya pakek etika. Good looking, sih, tapi sayangnya bad attitude. Kalah sama anak kecil yang bisa bilang, “Minjem.”, sebelum pakai dan tahu terima kasih."
Wajahnya memerah, entah malu atau menahan marah. Peduli apa? Paling juga urat malunya sedang traveling, bosan dengan tingkah lakunya.
Kuambil sepatu yang kotor itu, lalu meletakkan tepat di depan tempatnya berdiri. Sesaat, ekor mataku mendapati jejak sepatu dan tetes-tetes air yang mengotori lantai.
Dada kuurut kuat-kuat. Sabarkanlah, Ya Allah.
"Terus apa maksudnya sepatu taruh di depan gue?"
Aku mengangkat dagu seraya menatap matanya dengan tajam. "Harusnya gue yang nanya, terus apa maksud lo ngotorin lantai gue?"
"Ya, gu-gue nggak sengaja," kilahnya.
"Pokoknya nggak mau tau, sepatu dan lantai gue harus bersih lagi kayak semula. Kalo nggak, gue bakal maksa lo buat balikin semua duit yang udah dipinjem, juga barang-barang gue yang lo pakek dan nggak dikembaliin lagi," ancamku yang dibalas raut ketakutan.
Aduh, Mbak, Mbak, ternyata omongan pedas dan tampang menakutkanmu tak ada apa-apanya. Hanya digertak sedikit saja sudah mengkeret. Bagaimana kalau sudah adegan jambak-jambakan? Aku tak yakin kamu bakal menang.
"Ha ha, anak kecil udah berani ngancem. Awas aja abis ini, gue kasih pelajaran," gumamnya sambil memungut sepatu.
"Gue nggak takut ancaman lo, Mbak. Orang nggak tahu diri nggak pantes disegani."
Sontak, ia memandangku dengan tatapan dongkol. Dijatuhkannya sepatuku, maju selangkah, lalu tangannya mengudara. Aku tahu pasti dia akan menampar. Tepat hitungan ketiga, hampir saja pipiku yang chubi ini menjadi sasaran kalau tak sigap kutahan.
Cukup kuat menahan tangan kekar itu, kudorong tubuhnya hingga membentur tembok.
"Mau pakek kekerasan fisik? Nggak usahlah, ntar lo yang nyesel."
Aku berjalan ke arah pintu, lebih baik masuk kamar daripada meladeninya. Belum sempat membuka pintu, hijabku ditarik kuat, sampai lepas. Kubalikkan badan, lalu menatapnya yang menyeringai. Hii, seram juga kalau menyeringai, persis vampir yang haus darah.
Aku balik menyeringai sambil melotot, tak mau kalah dengan muka vampir. Semoga wajahku sekarang sudah mirip seringaian serigala seperti di sinetron itu.
Ia ikut melotot, kutarik kerah bajunya kuat-kuat. "Aku nggak takut ngadepin kamu, kalo berani jangan dari belakang, nih, aku udah di depan mata."
Walaupun sedikit lembut, aku tetap tak rela melepas cengkeraman. Kalau bukan karena rasa kemanusiaan, sudah kupastikan ia babak belur detik ini juga. Beruntung, sekali lagi aku bukan penjahat apalagi psikopat, jadi tak mungkin menyakiti orang tanpa alasan.
Kulepas cengkeraman, sedangkan ia hanya bungkam. Tanpa sepatah kata, aku masuk kamar. Membiarkannya begitu saja.
Ponsel berdering di kasur, aku segera meraihnya dan menekan tombol hijau. Ayu! Akhirnya yang ditunggu memberi kabar juga.
“Mentang-mentang abis nge-date sama Bagas jadi lupa sahabat, nih?” sindirnya dari balik telepon.
“Harusnya gue yang tanya sama lo, ke mana aja dua hari ini nggak ada kabar? Masih waras, kan?” ejekku menertawainya.
“Ih, waraslah, emang lo. Setiap abis MalMingan pasti rada-rada. Dahlah, gue ke kos lo boleh, nggak?”
“Bolehlah, tapi bawa cemilan yang banyak, gue laper gegara abis berantem sama tetangga songong itu. Udah, ya, gue matiin, mau ke kamar mandi.”
Setelah mematikan telepon, aku menuju kamar mandi.