Sekembalinya, terdengar suara pintu diketuk. Ah, pasti Ayu. Malas membuka pintu, aku chat dia supaya langsung masuk karena pintu tak dikunci.
Mendadak heboh, Dewi ikut serta ke sini. Kedua sahabatku itu langsung duduk di sampingku, Ayu meletakkan keresek besar di lantai.
"Waah, bener-bener baek kalian. Tau aja kebutuhan gue apa," pujiku sembari membuka isi plastik.
"Iyalah, siapa dulu," kata Dewi berbangga diri.
"Eh, Mir, kok gue liat sepatu lo ada di depan kamarnya Yuni, ya?" sahut Ayu sembari menyobek bungkus makanan, lalu mencomot isinya.
Kutaruh minuman kemasan, lantas menceritakan semuanya pada mereka. Ayu langsung darah tinggi, pasalnya dia paling tak suka aku disakiti orang lain. Dewi dengan jurus mulut pedasnya mengomentari tanpa mau berhenti.
Aku cuma senyum-senyum melihat tingkah mereka, sekaligus bangga. Sangat beruntung memiliki sahabat yang baiknya melebihi dosen yang memberiku nilai plus karena sudah membantu membawakan buku sampai kantor. Pokoknya, love for my best friend.
Terdengar suara motor berhenti di halaman. Seperti biasa, aku selalu kepo kalau ada motor yang berhentinya di halaman bukan di pinggir jalan, kecuali motor tetangga yang sudah kuhafal. Kuintip dari jendela, pengemudinya masih memakai helm.
Ayu dan Dewi menghampiri, ikut mengintip dari belakang. Setelah ditunggu beberapa menit, betapa terkejutnya, yang datang adalah Mas Kurir, gantengnya mirip Mas Al pemain sinetron itu.
Aku menyambar hijab instan lalu memakainya cepat dan langsung lari ke halaman. "Nyari siapa, ya, Mas?"
Masnya terperangah, sepertinya kaget tak pernah melihat cewek semanis dan seimut aku. Ia tersadar setelah menatapku beberapa detik, padahal mau berjam-jam pun boleh. Eh, bukan mahram, dosa tahu, ah.
Ia mengeluarkan buku catatan. "Atas nama ... Mirna Almahira. Yang sebelah mana, ya, Mbak?"
Mirna? Aku, dong, tetapi siapa yang kirim paket?
"Saya sendiri, Mas."
Mas kurir mengangguk, lalu menyerahkan paket yang sejak tadi dipegang. Kemudian, menyodorkan buku untuk tanda tangan. Tanpa pikir panjang, aku langsung menarikan pena di atas buku itu. Setelah selesai, ia pamit melanjutkan kiriman lain.
"Dari siapa, Mir?" teriak Ayu dari teras kos.
"Nggak tau, perasaan nggak belanja online," jawabku sembari masuk kamar.
Dengan penasaran tinggi, kubuka isi paket itu. Sebelumnya cek nama pengirim, tetapi anehnya tak ada nama yang tertera. Hanya ada nama dan alamat penerima. Kok, tahu alamatku di sini?
Masih ada kardus di dalamnya, kubuka hati-hati. Kalau isinya bom, bahaya. Bisa-bisa meletus. Ya, kali melembung.
Ayu dan Dewi di sisi kanan dan kiriku. Melihatku membuka kiriman itu, bahkan memvideonya. Bukan untuk pamer karena mendapat paket dari orang misterius, tetapi lebih ke hati-hati. Kata mereka sebagai bukti seumpama berisi sesuatu yang tak diinginkan.
Aku masih membuka kardus yang dilem. Rapat sekali, seperti hatinya Bagas yang belum bisa membuka pintu untukku. Oke, kurang sebentar lagi berhasil; buka kardusnya, bukan berhasil membuat Bagas jatuh cinta.
Tiba-tiba dering ponsel mengalun. Setelah dilihat, nomor tidak dikenal. Belum sempat kuangkat, telepon mati. Kemudian, ada pesan masuk melalui w******p dari nomor yang sama.
[Makasih udah nerima paketnya.]
Aku mengernyit, begitu pun dengan Ayu dan Dewi yang sama-sama menyimak. Jadi, dia yang mengirim paket itu? Tetapi siapa? Kenapa tahu aku dan alamat kos?
Semakin penasaran dengan isinya, kita bertiga fokus lagi membuka kotak itu. Selang tiga menit, kardus terbuka. Kurogoh dalamnya, masih dilapisi plastik gelap.
"Bentar-bentar, aku mencium bau-bau mencurigakan!" sergah Dewi, yang diangguki Ayu.
Aku menengok. "Apaan? Jangan nakut-nakutin, deh."
"Kalo isinya narkoba, gimana?" sambung Ayu.
"Halah, nggak mungkin. Makanya kita harus cepet-cepet buka biar tau. Kalo disergah terus kek gini kapan kita nemuin jawaban?" protesku.
Jawaban dari doa-doa persoalan rasa padanya. Iya, dia. Bagas tentunya.
Aih! Bucin kembali menyerang.
Akhirnya, kubuka plastik yang juga dilem. Beruntung tak separah tadi. Setelah berhasil, kurogoh dalamnya. Kain berwarna merah muda? Apa ini?
Aku berdiri, lalu membentangkan kain tersebut. Betapa terkejutnya, dress pink indah dengan aksen mutiara melingkar di bagian pinggang, membuat mataku berbinar. Ayu dan Dewi memekik karena kaget.
Juga hijab instan syar’i dengan warna senada. Aku melongo. Itu hijab tiga layer yang kuimpikan. Dalam waktu cukup lama, barang tak terduga itu ada di depan mata secara cuma-cuma.
Allah ... terima kasih.
"Mir, ini pakaian impian lo. Gue ikut seneng, akhirnya lo bisa punya barang yang diimpikan selama ini," ujar Ayu dengan mata berkaca-kaca.
Mereka memelukku, tak kuasa air mata ini menetes haru. Aku bahagia, panjang umur untuk kamu yang mengirimkan ini. Kalau mau, kirim model lainnya lagi, ya. Duh, tuman¹.
Dewi melepas pelukan, tangannya memungut sesuatu di lantai. Kertas?
Ia membuka lipatan kertas itu, lalu membacanya lantang. "Ditunggu dinner malam ini Pukul 19.30, di restoran dekat kampusmu. Pakailah gamis ini!"
Kita serempak terkejut. Siapa orang misterius itu? Aku dilanda perasaan kaget, takut, dan penasaran. Tak menyangka akan semua ini.
Ayu dan Dewi menyuruhku istirahat untuk persiapan nanti malam. Aku menurut saja. Katanya mereka juga akan membantu mekap, karena aku terlalu sederhana. Bahkan sebangsa eyeliner atau maskara pun tak punya.
Dua sahabatku itu asyik bermain ponsel. Membiarkanku berbaring dan tidur siang. Tiba-tiba jantungku berdegup kencang, membayangkan pertemuan nanti malam.
Apakah orang itu menyiapkan ruangan khusus yang pinggirnya dihiasi lilin dan berbagai macam bunga? Juga musik pengiring dan pelayan khusus supaya terkesan romantis seperti di sinetron-sinetron itu? Ah, membayangkannya saja sudah berbunga-bunga, apalagi menjalaninya.
Setelah beberapa kali menguap, mata ini semakin berat. Kuputuskan memejam dan setelahnya hanya gelap.
o0o
Samar-samar terdengar suara ribut dari luar. Kukucek mata dan gegas keluar. Terlihat Ayu sedang jambak-jambakan dengan Mbak Yuni. Sementara Dewi terus men-supporter sahabatnya. Ck! Tetanggaku itu memang doyan membuat masalah.
Aku berlari kecil menghampiri mereka yang ada di halaman, , lantas melerai keduanya. Walaupun susah, tetapi akhirnya berhasil setelah kugembori dan memisahkan keduanya.
"Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut?" tanyaku, persis Pak RT yang melerai warganya berkelahi.
"Dia yang mulai duluan, Mir!" tunjuk Ayu pada Mbak Yuni yang sedang merapikan rambutnya.
"Mbak Yuni mau pinjem headset lo, Mir, tapi kita nggak kasih izin karena lo masih tidur. Eh, dianya ngotot, katanya penting dan mastiin dibolehin sama lo," terang Dewi.
Ia menarik napas, lalu melanjutkan. "Kita udah nolak halus, tapi dia nyelonong masuk dan ngobrak-abrik kamar lo. Nggak terima, dong, kita. Ayu langsung membawa paksa dia dan akhirnya terjadilah ribut di sini."
Kutatap Mbak Yuni yang melirik pada Dewi. Ia manusia batu, dilembuti seperti apa pun akan tetap keras. Kuhela napas, lalu menggandeng dua sahabatku ke dalam kamar.
"Makasih, ya, kalian udah ngelakuin itu," ucapku sesampai di dalam.
Mereka mengangguk, lalu menyuruhku bersih-bersih. Beberapa menit di kamar mandi, akhirnya badan kembali segar. Seminggu ini memang jarang tidur, karena terganggu tugas kampus yang menumpuk. Setelah beberapa bulan kuliah online, bukannya menjadi mudah mengerjakan tugas, malah makin susah.
"Lo mau makan dulu, nggak? Sekalian kita beliin," tanya Ayu sambil memakai helm.
"Enggak, sekalian entar aja di sana."
Dewi menepuk pundakku. "Ciee, yang mau dinner sama cowok misterius, jadi nggak nafsu makan."
Mereka tertawa mengejek, lalu keluar kamar. Duh, dadaku mengapa mendadak nyeri?
**
Note
¹ lancang, kebiasaan (dalam Bahasa Jawa)