Berputar Kembali

1025 Kata
Kini, aku diantar Ayu ke restoran dekat kampus. Berkat mereka berdua, aku makin percaya diri. Polesan mekap yang tampak natural, juga lipstik warna pink kalem menambah manis, kata kedua sahabatku itu. Tak lupa, gamis serta hijabnya kupakai. Kata mereka, aku layak disebut cinderela muslimah. Motor berhenti, aku segera turun. Bersalaman dengan Ayu, lalu masuk. Seorang waiter menyapa ramah. Setelah memastikan namaku, ia menyebutkan nomor meja yang dipesan seseorang sebelumnya. Nomor 13, kucari sampai pojok belakang, dan akhirnya ketemu. Jantungku kembali berdegup kencang, d**a terasa nyeri. Aku gugup, juga ... takut. Entah mengapa, makin dekat dengan kursi itu dan melihat cowok yang duduk sambil menunduk di situ, aku merasakan sesuatu yang susah dijelaskan. Aku berdiri tepat di depannya. "Maaf, aku telat." "No problem!" Suara itu ...? Ia membuka topi, lalu mendongak. "Kamu?!” Aku tak menyangka, seseorang di masa lalu yang kucoba lupakan itu hadir lagi. Kuputar badan dan melangkah tanpa berpamitan. Ia mengejar, tetapi berhasil mencekal lenganku. "Aira, aku bisa jelasin semuanya!" Air mataku berjatuhan. Dadaku semakin sesak. Rasanya dunia ini sempit, dan aku berada di jalan yang kecil. Bayangan masa lalu itu hadir lagi, memenuhi pikiran yang sesak. Aku melepas cekalan, berbalik badan, kemudian menatapnya dengan cucuran air mata. "Aku harus bilang berapa kali kalo aku nggak mau lihat kamu lagi?! Kenapa sekarang hadir lagi setelah aku mulai bisa lupakan kenangan kita?!" "Aku ... aku ngga—" "Nggak bisa kalo nggak ganggu aku lagi? Sampai kapan pun, kamu tetap masa lalu. Dan aku, nggak sudi menerima orang yang udah membuangku bagai sampah!" Aku lari sekencang mungkin, walau berkali-kali lelaki itu memanggil namaku. Nama kesayangan yang dulu sering ia lontarkan. Sekarang, hanya menjadi kenangan yang menyakitkan. Aku terus lari sekuat mungkin, hingga akhirnya sampai di halaman kos. Tubuhku terhuyung, kepala rasanya berputar-putar. Lutut pun lemas, makin lama semua terasa berputar makin cepat. Sesaat kudengar teriakan Ayu, lalu semuanya menjadi gelap. - Aku berlari kecil, mengejar Kak El yang jahil. Ia terus lari, sampai aku kelelahan mengejar. Akhirnya, aku berhenti, ia memelukku dari belakang. Tangan kanannya melilit leher, dagunya diletakkan di pundak kiriku. "Aira, berjanjilah, untuk nggak akan ninggalin aku!" pintanya dengan lembut. Aku tersenyum seraya mengelus lengannya. "Kakak juga harus janji, nggak akan pergi dari hidupku." Ia mengangguk. "Iya, Kakak janji. Kamu juga janji, ‘kan?" "Janji," kataku, menunjukkan jari kelingking yang dibalasnya. Aku menyingkirkan tangannya, lalu berjalan menuju kursi taman ini. Entah mengapa, saat mengucap janji tadi, ada yang sakit di d**a. Aku dihadapkan oleh dua hal, antara takut kehilangan dan cinta yang begitu dalam. Kak El ikut duduk, setelah itu memberikan bunga yang baru dipetik. Aku menerimanya dengan senang. Harapan untuk bersamanya makin tinggi. ** "Mirna! Kamu udah sadar?" Masa lalu itu hadir kembali. Aku tak bisa menahan tangis. Air ini lolos dari pelupuk mata, membanjiri pipi. Lagi-lagi dadaku sesak, nyeri, masa lalu itu terus menghantui. "Lo kenapa, Mir? tanya Dewi, lagi. Ayu menyodorkan segelas air putih, segera kuterima dan meneguknya sampai tandas. "Kenapa tiba-tiba lo ada di halaman? Bukannya tadi—" "Gue nggak tau harus cerita dari mana, Yu, Wi. Orang itu adalah masa lalu yang selama ini berhasil gue lupain. Tapi dengan santainya dia dateng lagi, bahkan sok-sokan ngasih kejutan." Mereka saling pandang. Bingung, tentu. Masa lalu ini hanya aku yang tahu. Terlalu sakit untuk diceritakan kembali. Apalagi mengenangnya. "Kalo belum bisa cerita sekarang, kita tunggu sampek lo siap. Sekarang, makan dulu, ya. Dari siang lo belum makan, 'kan?" Ayu ikut menyahut. "Iya, Mir. Lo makan dulu, ntar malah sakit." Aku menggeleng. Tak ada rasa lapar sedikit pun, bahkan kenyang oleh rasa sakit. Iya, orang itu bagaikan duri mawar, melindungi, tetapi menyakiti. "Aku nggak selera makan. Mau tidur aja." "Tapi kesehatan lo lebih penting, Mir." Dewi masih kukuh menyuruhku makan. "Nih, ada nasi bungkus. Lo makan, ya." Ayu menyodorkan nasi bungkus padaku. Dengan terpaksa kuterima. Oke, Mirna. Lo boleh kecewa, patah, marah, tapi nggak boleh sakit karena seorang cowok. Akhirnya, aku makan, walaupun tak habis. Setelahnya pamit tidur lebih awal. Entah kenapa aku mendadak pusing. o0o Pukul 03.10, aku terbangun. Lebih tepatnya, kebiasaan bangun jam segini. Hati ini tak terlalu sakit lagi, tetapi masih ada sedikit nyeri. Aku bergegas ke kamar mandi untuk wudu, lalu mendirikan Salat Tahajud. Aku meminta agar Tuhan melapangkan hati. Membuka jalan keluar atas masalah yang kuhadapi. Mengikhlaskan masa lalu yang begitu membekas, supaya terbebas dari sakit yang menghunjam. Cukup lama tangan ini menengadah, aku terisak dengan mulut yang terus beristigfar. Allah, apakah melupakan masa lalu sesulit ini? Setelah merasa cukup curhat dengan Sang Maha Mendengar, kubuka aplikasi berwarna hijau. Banyak chat masuk dari pembeli. Alhamdulillah. Namun, satu nomor berhasil menarik perhatianku. Orang itu mengirim pesan untuk bertemu denganku suatu hari. Siapa lagi? Aku yakin itu bukan orang yang sama. Malas meladeni, tak kubalas chat-nya. Lebih baik melayani pelanggan. Sampai waktu subuh, aku segera membangunkan Ayu dan Dewi untuk salat. Beruntung, sekali panggil langsung bangun. Jelas, mereka bukan orang yang lalai salat. Bahkan berkat mereka, aku menjadi rajin beribadah. Mengenal mereka adalah anugerah terindah. Aku selalu bersyukur, Tuhan mengirimkan sahabat setia seperti mereka. Mengenakan pakaian syar'i, mengajari banyak hal tentang agama, membantu hijrah, sampai men-support untuk selalu mengenakan hijab di mana pun berada. "Joging, yuk. Kalian nggak ada jadwal kuliah, 'kan?" ajak Dewi, setelah kami bertiga Salat Subuh. "Yuk! Gue nggak ada jadwal. Lo juga nggak ada, kan, Mir?" tanya Ayu yang sedang melipat mukenanya. Aku mengangguk, kami sepakat joging, lalu bersiap. Dengan mengenakan celana training yang sama. Kemarin sore mereka mengambil di kos, sengaja mengajakku. "Pagi-pagi gini segar juga, ya, lari-lari." Ayu memecah keheningan. Tak lama, kami lari-lari kecil di pinggir alun-alun. Kebetulan tak jauh dari kos. Jaraknya hampir sama dengan kampus, bedanya hanya berbeda arah. Bukan beda perasaan, kejauhan. "Eh, liat, deh!" Dewi menunjuk seseorang. Aku dan Dewi mengikuti arah telunjuknya. Mbak Yuni? Kalau diliat dari jauh, sepertinya sedang berkelahi. Hadeh, tak di kos, tak di tempat umum, selalu bertemu dia. Anehnya lagi, setiap bertemu pasti ada saja masalahnya. "Kita ke sana, yuk!" ajak Ayu. Aku menoleh. "Gue nggak mau ikut campur urusannya." "Tapi kayaknya dia butuh bantuan, Mir. Ayo, ke sana. Sejahat-jahatnya dia, gue nggak tega kalo sampek fisik jadi taruhannya. Apalagi keroyokan, dia sendiri. Itu jelas curang!" Dewi mengoceh panjang lebar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN