"Tapi kayaknya dia butuh bantuan, Mir. Ayo, ke sana. Sejahat-jahatnya dia, gue nggak tega kalo sampek fisik jadi taruhannya. Apalagi keroyokan, dia sendiri. Itu jelas curang!" Dewi mengoceh panjang lebar.
Sesaat, aku kepikiran. Iya juga, kasihan. Kugandeng tangan mereka ke tempat Mbak Yuni berantem. Sedikit lari, sebelum makin parah.
"Ada apa ini?" Kita bertiga berusaha melerai.
Mbak Yuni masih mencoba menyerang lawan, walaupun kondisi fisiknya sudah berantakan. Lebam di mana-mana, ditambah rambut yang acak-acakan. You know, lah, cewek kalau berkelahi ujung-ujungnya juga jambakan.
"Nggak usah ikut campur! Ini urusan gue sama jal*ng itu!" teriak lawan Mbak Yuni yang kuyakini teman sekampusnya.
"Eh, jaga mulut lo!" Mbak Yuni nggak terima, dia mau berontak lagi, tapi kutahan.
"Kita bukannya mau ikut campur, tapi kalo satu lawan lima itu namanya cemen!" Ayu berkata lantang, soal adu fisik, dia lebih jago di antara kita bertiga.
Salah satu dari mereka maju. Mencengkeram kerah baju Ayu yang tertutup hijab. "Apa maksud lo? Lo ngatain kita?!"
"Tanpa gue jawab, kalo kalian pinter pasti taulah maksudnya gimana."
Cewek itu melepas cengkeraman, kasar. Sampai Ayu sedikit terpental. Aku takut dia kalah, karena belum ada sesuap nasi yang masuk di perutnya.
Ayu membalas cewek itu dengan mencengkeram kerahnya juga. "Gue nggak akan ikut campur kalo kalian nggak nyakitin fisik orang." Lalu dilepaskan cengkeraman sampai cewek itu terpental ke teman-temannya.
"Kalo ada jalan keluar, kenapa harus nyelesaikan masalah dengan cara kayak gini?" Aku membuka suara.
"Kita udah berusaha minta menyelesaikan baik-baik, tapi Yuni emosi dan nyerang kita duluan. Dikasih ati malah minta jantung!" ujar salah satu dari mereka.
Aku menatap Dewi, dia pasti tahu maksudnya. Karena kami bertiga sering yang namanya ikut menyelesaikan masalah orang lain. Bukan apa, kami memiliki hobi yang sama, membantu orang lain.
Dewi mengajak mereka ke tempat yang agak jauh dari sini. Beruntung, anak itu punya aura positif, jadi hampir tiap orang yang mudah gampang menurut. Itu kelebihan yang aku dan Ayu tak punya.
Kita berdua membawa Mbak Yuni menepi, duduk di bawah pohon rindang. Dia cuma diam dari tadi, entah apa yang dipikirkan. Kukeluarkan botol minuman yang dibawa dari kos, lalu menyodorkan padanya.
"Bukannya kita mau ikut campur, tapi kalo ngeliat kamu kayak gini, nurani kita terketuk. Aku harap, Mbak Yuni bisa kontrol emosi," kataku, menerima botol yang airnya tinggal setengah.
"Gue dituduh ngrebut cowoknya, padahal itu semua nggak bener." Mbak Yuni terisak.
"Gue nggak ada niatan buat dapetin hati cowoknya. Kalian tau, 'kan, kalo gue udah punya Gian. Tapi dia salah paham, sampek akhirnya ngajak gue ketemuan di sini," lanjutnya, mengelap air mata dengan punggung tangannya.
Aku mengelus pundaknya. Di posisi seperti ini, aku sama sekali tak jengkel karena merepotkan. Justru merasa ingin melindungi. Sudah seperti payung saja, melindungi dari hujan.
"Kita nggak bisa berbuat apa-apa lagi selain ikut nyelesaikan masalah baik-baik," ucapku.
Ayu ikut mengangguk. "Iya. Sejahat-jahatnya lo sama kita, terutama sama Mirna, kita nggak mungkin ngebiarin lo dikeroyok. Apalagi dari pengakuan lo barusan, gue menganggap kalo mereka cuma salah paham."
"Walaupun caramu salah membela diri, Mbak," sahutku.
Mbak Yuni hanya diam, terlihat meresapi ucapan kami. Ah, tapi dia manusia batu, mungkin tersentuh sebentar, habis itu balik lagi, keras. Makanya, sekarang ini aku tak berharap ia bisa berubah secepat mungkin. Ya, kali petir, kilat.
Dewi kembali dengan segerombolan cewek itu. Tanpa disangka, mereka mengajak damai pada Mbak Yuni. Saling berjabat tangan dan meminta maaf. Kini, urusan mereka kelar, tetapi hubunganku dan Bagas jangan dulu. Jangan sampai malahan, eh, padahal belum jadi apa-apa.
Kami bertiga mengajak Mbak Yuni pulang. Sesampai di kos, kami membantu mengobati lebamnya. Sekarang, bukan lagi dongkol atau dendam yang ada, tetapi rasa kasihan. Wajah cantik itu harus tertutup luka yang disebabkan sendirinya.
"Makasih, kalian udah bantu," ucap Mbak Yuni setelah kita selesai mengobati.
"Sebagai sesama cewek, nggak mungkin kita tega liat lo kesakitan di tengah mereka yang keroyokan," balas Dewi, menaruh baskom berisi air panas di nakas milik Mbak Yuni.
Ayu mengangguk, membetulkan posisi duduknya. "Ya, walaupun lo rese, tapi kita masih punya hati."
"Berhubung udah selesai, kita pergi dulu. Aku harap Mbak Yuni bisa kontrol emosi. Kalo terus-terusan kayak gitu, bahaya buat orang lain dan diri sendiri," ujarku, lalu keluar. Diikuti Ayu dan Dewi.
Kurebahkan tubuh di kamar. Rasanya lebih lelah dari biasanya. Akhir-akhir ini aku merasa cepat lelah, tak seperti dulu waktu masih di rumah dan awal-awal kos. Perubahan yang bisa kurasakan adalah sejak kepindahan Mbak Yuni dari kos yang dulu ke sini. Ah, tambah lelah Hayati, Bang. Gara-gara tingkahnya yang aneh itu.
Ayu dan Dewi masuk sambil cengengesan. Mereka itu sudah seperti anak kembar, wajahnya mirip, padahal beda orang tua.
"Secantik-cantiknya Yuni, jelek juga kalo mukanya lebam-lebam gitu," ujar Ayu, yang disahut tawa Dewi.
"Yaelah, dia, mah, cantik karena make up doang." Aku ikut menimpali.
Lho, jangan salahkan kami. Kenyataannya memang begitu. Ada baiknya juga kalau dia lebam seperti itu, agar tak bisa make up-an beberapa saat. Kulihat, ia lebih fresh kalau polosan, kelihatan sesuai dengan umurnya.
"Mir, ada chat masuk, nih!" kata Dewi yang sedang meminjam ponselku.
"Siapa?"
Kubuka chat tanpa nomor itu.
[Aku minta maaf, Aira. Beri kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki semuanya. Jujur, dari hati yang paling dalam, aku masih mencintaimu.]
[Walau terbesit keinginan untuk mencari kakakmu, tapi sampai sekarang aku nggak menemukannya. Aku nyerah. Tapi aku nggak bisa jauh dari kamu.]
Shit! Buaya darat selalu punya cara meluluhkan hati wanita. Dia salah satunya.
[Haruskah kuulang sampai seratus kali, kalo aku nggak mau diganggu? Kita jalani kehidupan masing-masing.]
Kumatikan ponsel, peduli apa sama dia. Sudah cukup hati ini dilukai. Aku tak ingin membuat luka yang baru, padahal luka lama belum sepenuhnya kering.
"Mir," panggil Ayu. "Kita pulang, ya. Lo nggak papa, 'kan?"
"Ya elah, nggak papa kali. Pulang aja, kalian pasti capek."
"Kalo lo ada masalah, cerita sama kita. Sesibuk-sibuknya urusan pribadi, kita pasti ada buat lo," kata Dewi, diangguki Ayu.
Dua sahabatku itu memang tak pernah meninggalkanku sedikit pun waktu. Kecuali saat dengan Bagas kemarin, mereka sengaja memberi kesempatan, katanya.
"Iya-iya. Kalo gue ada masalah pasti larinya ke Tuhan, baru ke kalian. Bagaimanapun, kalian udah kayak saudara sendiri."
Mengucapkan saudara ... aku menjadi ingat seseorang. Kakak kandung yang hilang beberapa tahun. Aku merindukannya, meskipun kami serupa Tom and Jerry yang tak bisa akur. Ia saudara kandung, tetapi rasanya seperti orang lain. Ia pula alasanku ke kota ini. Mencari keberadaan sosoknya yang menjadi tujuanku kuliah di kota orang.