Ayu dan Dewi pamit, aku mengantarkan sampai depan pintu. Mau sampai kos mereka, masa iya harus bonceng tiga? Nanti dikatain cabe-cabean, malah baper.
Dewi menyalakan mesin, lalu mulai melajukan motor. Aku melambaikan tangan, da da, pura-pura menangis agar terlihat sedih. Padahal, sedih benaran.
Saat ingin membalikkan badan, tak sengaja mata ini melihat sesuatu di lantai. Kalung berbandol setengah hati? Punya siapa? Kuambil benda itu, lalu menyimpannya di kotak. Siapa tahu ada yang kehilangan.
Rasa-rasanya seperti pernah lihat, tetapi di mana? Kalau milik Ayu atau Dewi itu tak mungkin. Aku tahu persis, kalau mereka tak menyukai perhiasan apalagi kalung. Ah, tahulah, yang penting kusimpankan dulu.
Kurebahkan tubuh, lelah menyergap hati dan pikiran. Sejak kedatangan Mbak Yuni yang pindah dari kosnya, aku merasa terganggu. Dia itu tetangga paling menyebalkan. Padahal, sebelumnya tenang-tenang saja hidup ini.
Ia sangat menyebalkan. Mulai dari pinjam meminjam; uang, pakaian, barang elektronik, make up, sampai-sampai sabun mandi diembat. Awalnya bilang meminjam, tetapi lama-kelamaan tak dikembalikan. Kalau ditanya, bilangnya masih butuh dan besok akan dipulangkan. Sampai ganti bulan pun tak ada tanda-tanda pulang itu barang.
Aku sebagai yang meminjamkan, berasa menjadi pengemis kalau menagih tetapi tak dikasih. Ingin memaksa, pasti nanti dibilang tak ikhlas meminjamkan. Dibiarkan, makin menyebalkan tingkah lakunya.
Tak hanya pinjam meminjam, tetapi juga dia sering jahil. Entah di kos atau di kantin. Keanehan juga sering membuatku tak habis pikir, kenapa selalu kebetulan kami sama-sama memiliki jadwal?
Anehnya lagi, sering berpapasan di kantin. Bukan Yuni namanya kalau tak membuat masalah. Sudah empat kali dia kabur membawa makanan dan teriak aku yang membayar. Bahkan pernah, sekali, dia teriak meminta dibayari, sebelum kujawab sudah kabur duluan. Dengan terpaksa kubayar jajannya dan aku sendiri mengalah tak jajan karena menghemat. Tuman banget, kan, dia?
"Mbak Yuni, ganti uang yang tadi di kantin!" tagihku suatu hari, saat sampai di kos.
"Eh, apaan? Itung-itung sedekahlah. Gue lagi nggak ada duit. Lagian cuma lima ribu, 'kan?"
Aku ingin marah, ingin mengeluarkan nama binatang kaki empat, tetapi sadar mereka itu tak salah apa-apa. Aku hanya bisa membatin, "Matamu, Mbak, lima ribu dari Hongkong. Total seratus ribu dari pertama minta dibayarin. Hadeh, dikiranya sini bank?"
"Tapi aku juga nggak punya duit, Mbak. Kenapa setiap ngeliat aku di kantin pasti minta bayarin?" keluhku.
"Kan, lo tetangga, ya nggak papalah gue minta dibayarin."
Aku geram pakai banget waktu itu. Ingin kucubit ginjalnya. Namun, sadar bahwa ginjal berada di dalam perut, mana bisa jariku menerobos? Yang ada malah ternoda kalau tak sengaja menyenggol hatinya yang kotor.
"Emang kalo tetangga wajib bayarin tetangganya? Sedangkan yang dibayarin nggak ada otak."
Aku keceplosan bilang begitu, tapi mau bagaimana lagi? Padi sudah menjadi beras. Terima risikonya.
"Eh, anak ingusan!"
Coba bayangkan, aku yang manis dan dewasa ini dibilang anak ingusan.
Ia meneruskan perkataannya. "Jaga mulut lo! Lagian jadi tetangga, tuh, nggak usah sombong-sombong amat. Baek hati dikit napa? Pahalanya juga ngalir kalo baik sama tetangga macem gue."
Aku yang waktu itu masih volos hanya bisa diam mendengarkan dia mengoceh tak jelas. Mau menyerang pun ia tak akan kehabisan kata untuk mengatai balik.
"Orang tetangga gue yang di kos sebelumnya aja baik-baik semua. Nggak kayak lo yang gue minta sedikit aja udah kepanasan," lanjutnya dengan enteng.
Lah, Mbak, bukannya situ yang kepanasan? Kalau ingat sampai sekarang, rasanya ingin tak hiih! Sama sekali tak memikirkan orang lain. Yang dipikirkan hanya kesenangan dan kepuasan diri sendiri.
Akhirnya, waktu itu aku kembali ke kamar dengan otak panas. Mengeluarkan asap begitu, sudah terbakar sampai tak tersisa. Ampun, deh, punya tetangga kok begitu.
Sampai sekarang, aku tak kaget lagi dengan sikapnya. Kalau dia macam-macam, sudah ada jurus andalannya, dan dia langsung mengkeret. Macam plastik yang dibakar, jadi kecil dan tak bermanfaat.
Aku sangat-sangat menyadari. Ada yang lebih aneh dari keanehannya, dan itu diriku sendiri. Kata Ayu dan Dewi yang sudah mendengarkan cerita, aku ini cewek bodoh. Mau saja dimanfaatkan untuk mengikuti gaya hidupnya, yang aku sendiri pun pasti tak kuat membiayakannya. Ye, lagian siapa yang mau membiayai? Buat biaya sendiri saja masih kurang.
Iya, kata mereka, aku bodoh. Sudah tahu Mbak Yuni orangnya begitu masih dibaik-baikin, masih dipinjami segala macam. Kadang sampai merelakan diri sendiri demi memenuhi permintaannya.
Hei, aku sendiri juga bingung. Kadang sisi hati baikku berkata, "Udah, nggakpapa. Kebaikanmu akan menjadi ladang pahala. Jangan dendam atas kejahatannya, doakan aja supaya cepat sadar."
Di satu sisi, aku tak terima akan perlakuannya. Itu sudah keterlaluan bagiku. Ingin rasanya membalas dan membalikkan fakta, tapi apa boleh buat, sisi baikku lebih kuat.
Empatiku besar, bahkan tak tega melakukan hal jahat. Sekalinya jahat, aku merasa bersalah. Contohnya kemarin waktu aku menjambak rambutnya, penyesalan masih ada, makanya tadi pagi aku mau menolongnya karena ada rasa bersalah. Tak enak sekali, bukan? Jadi orang tak enakan.
Aku memang bodoh, tapi lebih baik bodoh karena sudah melakukan hal yang mungkin sedikit berguna bagi orang lain. Daripada bodoh karena hal sepele, mau menerima orang masa lalu yang sudah menyakiti, misalnya.
Aku tersadar dari lamunan. Rasanya makin sepi, berniat membunyikan murotal Al-qur'an, tapi baru ingat kalau hp kumatikan. Terpaksa kuhidupkan lagi.
Hal pertama setelah hp hidup adalah cek w******p. Alhamdulillah ... tak berbeda dari tadi pagi, yang order barang lumayan banyak. Setelah melayani satu persatu dan menyelesaikan cara transaksi, segera kupencet aplikasi musik dan memutar audio murotal.
Jangan tanya pesan masuk dari cowok tadi pagi itu, chat-nya sama saja. Berbentuk permohonan buaya darat pada umumnya.
Contohnya [Aku mohon, beri kesempatan sekali lagi. Aku masih sayang sama kamu. Nggak ada yang bisa gantiin posisi kamu di hatiku.]
[Aku tau, aku salah. Tapi nggak gini caranya. Aku nggak bisa didiemin. Tolong, bales chat-ku. Aku buyuh kamu.]
Muak, 'kan? Saking hafalnya dengan kalimat seperti itu, aku langsung bisa menemukan kata yang typo. Dia juga, sampai seringnya mengetik kalimat yang sama, kata 'butuh' diganti 'buyuh'. Dasar! Playboy cap kampungan, mah, begitu.
Eh, tapi jangan baper dulu. Buaya darat pada umumnya itu, ya, dia. Dia yang sering gombalin kamu dengan kalimat yang membuat hatimu berbunga-bunga, dan serasa terbang. Tapi kalimat itu juga dilontarkan buat cewek lainnya.
Saat kamu masih sayang-sayangnya, eh, dia ninggalin demi yang glowing. Kan, sakit. Apalagi berpalingnya sama orang terdekat, berdarah-darah enggak, sih?
Sakit, 'kan? Pasti.