Teriakan Pagi Hari

1010 Kata
"Mirna! Mir!" Teriakan seseorang membangunkanku. Tanpa menebak, sudah tahu siapa yang memanggil. Aku melangkah mendekati pintu masih dengan mata terpejam. "Kenapa, Mbak?" tanyaku, setengah sadar. Ia terlihat bingung, wajahnya tak secerah biasanya. "Lo ada liat barang gue, nggak? Ada yang ilang, nih." Aku menggeleng. "Enggak, Mbak." Tanpa berkata apa-apa lagi, aku segera menutup pintu. Rasa kantuk ini harus kulunasi. Gara-gara Mbak Yuni, aku menjadi terganggu. Gagal deh, nge-date sama Bagas, ya walaupun hanya di dalam mimpi. o0o Seperti biasa, aku bangun pagi-pagi. Dari postingan yang pernah k****a, bangun pagi adalah awal kesuksesan, teruskan mimpimu dengan tidur lagi atau bermimpi saat tidur? Ah, sama saja. Itu, kan, postinganku. Tak jelas sama sekali, seperti kisah asmaraku. Hadeh! Intinya, bangun pagi itu langkah awal menuju sukses. Aamiin. Aku, kan, calon pengusaha sukses, masa bangun siang? Kan, malu sama anak TK yang suka nyanyi, [Bangun pagi, kuterus mandi]. Eh, bangun tidur, salah mulu. Hari ini tak ada jadwal kuliah. Jadi, aku bisa mengurus bisnis. Mulai dari membalas pesan pembeli, sampai membalas perasaan ke dia. Itu, lho, cowok ganteng yang matanya hitam pekat, tetapi memikat. Beberapa menit setelahnya, aku seperti mengingat sesuatu. Aku ingat, semalam Mbak Yuni ke sini, tapi ngapain, ya? Aku kelupaan, benar-benar lupa. Ah, sudahlah, tak penting juga. Matahari mulai beranjak, bisa dilihat dari cahaya yang menerobos ventilasi. Aku menggeliat, di pagi yang cerah enaknya ngapain, ya? Lama-lama bosan kalau hanya di dalam kamar. Akhirnya kuputuskan merebahkan diri sejenak. Sangat nyaman, seperti waktu bersamanya, dengan Bagas seorang. Aku hampir terlelap, kalau saja tak mendengar teriakan dari luar. Lagi dan lagi ... ke sekian kalinya aku tak bisa tenang barang sejenak. Kuseret langkah menuju pintu, lalu membukanya malas. "Pinjemin gamis, dong!" Seketika mataku terbelalak. Mbak Yuni meminjam gamis? Tak salah dengar? "Gamis?" Kuulangi kata yang sama, takut salah dengar. Soalnya merem belum sempat bermimpi sudah dibangunkan, makanya bangun menjadi tak fokus. "Iya, buruan! Gue mau ke rumah Gian ketemu sama CaMer." Aku melongo, sampai gamis pun pinjam ke tetangga? Memangnya dia tak punya satu setel baju panjang pun? "Mirna! Buruan!" Aku tersadar, dengan langkah malas kuambil gamis di dalam lemari. "Sekalian kerudungnya!" teriaknya dari luar. Huh! Kalau bukan tetangga sudah kucincang habis. Aku ini anak kos, bukan pedagang pakaian. Seenaknya saja. Eh, tunggu! Tapi aku sedikit senang, sih, kali ini. Meminjamkannya gamis untuk bertemu dengan CaMer, sudah begitu memakai hijab, semoga pahalanya mengalir padaku karena sudah memakai pakaian tertutup milikku. Aamiin. Aku melangkah ke luar, lalu menyerahkan set gamis syar'i berwarna hitam variasi merah. Ia membolak-balikkan gamisku, dan melihat hijabnya dengan mata terbelalak. "Gede amat kerudungnya, nggak ada yang lebih kecil emang ukurannya?" "Itu udah satu set sama gamisnya, Mbak. Kalo pakai hijab yang lain ntar jatuhnya aneh." "Tapi nggak gede banget juga kali," protesnya. Aku memutar mata, malas meladeni orang yang hatinya persis batu. "Udah pakai itu aja. Kalo nggak mau ya udah, sini kubalikin lagi ke lemari." "Nggak, nggak! Gue minjem ini aja." Putusnya, lalu pergi. Aku menggeleng, ada ya manusia macam Mbak Yuni? Dipinjami masih protes, sudah begitu tanpa mengucap 'terima kasih', malah langsung nyelonong. Untung tetangga. Aku meneruskan acara tidur yang sempat tertunda. Namun, setelah lama berpikir, kebanyakan tidur malah pusing. Lebih baik mandi, badan menjadi segar, dan tak bau keringat. Duh, sudah seperti iklan produk sabun saja. Beberapa menit kuhabiskan waktu untuk membersihkan diri, kini saatnya mencari sarapan. Berhubung bosan dengan masakan sendiri, aku berniat membeli makanan di luar. Niatnya, sih, menghemat karena mau dibuat membayar kos, tapi kalau sudah menyangkut soal makanan, mana bisa perut ini kutahan? Kukunci pintu kamar, lalu memakai sepatu. Setelah selesai, kulangkahkan kaki menuju warung terdekat. Baru sampai halaman, suara itu hadir lagi. Astagfirullah, apa lagi? "Mau ke mana, sih, pagi-pagi gini? Bantuin gue dulu!" teriak Mbak Yuni dari teras. Aku melengos. Bantuan lagi? "Make up-in gue, dong, Mir. Please! Yaaa ...." pintanya dengan nada lembut yang dibuat-buat. Aku menarik napas panjang, lalu mengembuskannya kuat-kuat. Sabar Mirna. Nenek sihir itu mungkin lagi manja, makanya minta bantuan terus. Tapi, kan, aku juga ada kesibukan lain. Kenapa harus minta tolong padaku? Tetangga yang lain juga ada, bahkan ada yang jadi perias, kenapa tidak meminta rias dia? Malah larinya ke Mirna yang tak banyak tahu soal make up ini. "Gue mohon. Mau, yaa? Kalo gue dandan sendiri ntar jatuhnya kayak menor gitu, masa iya mau ketemu calon mertua dandanannya nggak beda dari biasanya?" jelasnya. Kedua kalinya kuembuskan napas. Rasanya berat. Seperti menanggung rindu kepada Bagas. Lama-lama tak kuat, bukan menahannya, tetapi merasakannya. Entah kekuatan dan kemauan dari mana, kakiku melangkah ke teras. Membuka kunci, lalu masuk mengambil seperangkat alat make up milik Ayu yang ketinggalan. Sudahlah, mungkin bukan takdirku untuk makan yang beda dari biasanya. Paling ujungnya masak sendiri lagi. Huh, gara-gara Mbak Yuni. "Masuk, Mbak. Duduk di sini!" perintahku. Tanpa lama, ia langsung duduk di depanku. Aku mulai meriasnya. Mula-mula kubersihkan wajah dengan pembersih, lalu mengoleskan pelembab. Sebenarnya mukanya sudah putih, jadi tak perlu lagi pakai foundation, nanti malah menjadi tak keruan. Selesai melapisi dengan bedak tabur, jariku menari pada alisnya yang tipis. Kalau tipis begini, aku tak mau mempertebal dengan membuat alis palsu. Biarkan natural, hanya kupoles di bagian pinggir dekat pangkal hidung sampai tengah. Ujungnya kubiarkan tipis, tetapi tetap manis. Jangan lupa menyisirnya supaya terlihat rapi. Step selanjutnya adalah eye shadow. Di sini jariku bermain. Kuberikan warna oranye campur putih tipis-tipis. Begitu juga dengan blush on. Kusapukan blush on oranye di pipi secara menyerong. Supaya terkesan ala-ala Korea begitu. Oh ya, sebelum memakai pelembab, jangan lupa memakai produk untuk meng-glowing-kan wajah dulu. Itu pun kalau ada, kalau tak ada juga tak masalah. Bulu mata, aku memilih yang tipis, kalau bulu mata anti badai takutnya mirip Syahrini. Sebelumnya kutebalkan dulu menggunakan eyeliner. Bagian mata dan pipi selesai, tanganku beralih ke bibirnya yang tipis. Aku tipe orang simpel, makanya kuombre saja bibirnya. Kugunakan lipstik merah muda ombre merah tua. Sampai di sini, wajahnya terlihat berbeda. Lebih terlihat fresh dan bahkan terlihat lebih muda dari umurnya. Padahal, aku orang yang tak bisa make up, tetapi setelah melihat wajah Mbak Yuni, aku menjadi terpikir untuk membuka salon sendiri. He he. Aku menyodorkan kaca. "Coba ngaca dulu, Mbak!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN