Berdegup Kencang

1003 Kata
"Wow!" pekiknya, "ini bagus banget! Seumur-umur, baru pertama ini pakai make up yang nambah gue makin cantik." Seketika, aku melayang, dong. Berarti, aku berhasil meriasnya. Sebetulnya tak sulit, kita hanya perlu memainkan tangan. Produk murah pun, kalau tangan kita kreatif dan bermain dengan tepat, tak akan kalah dengan harga yang mahal-mahal, kok. Tapi ya, kualitasnya memang beda. "Itu belum selesai, sini gue tambahin lagi biar makin cetar mempesona." Kutambahkan polesan bagian hidung secara tipis. Setelahnya, kupasangkan hijab set gamis tadi. Kebetulan, hijab ini tanpa pet, jadi kutambahkan jepitan rambut berbentuk lidi sebanyak dua biji di bagian samping mata. Mbak Yuni kusuruh berdiri dan berputar. Maa syaa Allah, tetangga siapa ini? Bangga, dong, hasil riasanku memuaskan. Seketika rasa lapar terganti dengan rasa senang. Iyalah senang, dari sini aku belajar, bahwa bakat terpendam tak akan bisa kita ketahui kalau tak mencoba hal baru. "Thanks, Mir! Gue pergi dulu, ya!" pamitnya, kemudian pergi begitu saja. Aku kira mau bayar, ternyata enggak. Nasibmu, Mir. Mood ini seketika berubah. Aku telanjur kecewa karena tak jadi makan di luar. Akhirnya kuputuskan merebus mie instan dan menambahkan irisan cabai, juga bawang goreng yang kubeli seharga lima ribu rupiah. Lumayan, untuk mengganjal perut. Makan di luar bisa nanti siang atau malam. oOo [Malam ini, kusendiri Tak ada yang menemani] Aku bernyanyi dengan suara merdu, merusak dunia. Kata teman-teman, walaupun merusak dunia, tapi tak terlalu fals. Apalagi suaraku itu serak-serak basah, sekseh alias seksi sekaleh. Sesuai lirik, malam ini memang sendiri. Setelah seharian kuhabiskan waktu untuk rebahan. Mau apa lagi? Nasib anak kos, mau jalan-jalan tapi jomblo. Kebosananku buyar karena bunyi dering pesan w******p. Tanganku meraih ponsel di dekat kasur, dan segera membukanya. [Malem, Mir. Besok sore ada acara nggak?] Seketika mataku blur, kerongkongan rasanya kering, seperti tak minum tiga hari. Aku melongo, kemudian mengusap mata berkali-kali. Berulang-ulang membaca chat itu, juga nama pengirimnya, Bagas, B-a-g-a-s. Astagfirullah, ini benar dia? Jariku gemetar di atas keyboard. Sekitar lima menit lebih, ketikan selalu typo. Setelah kata-kata tersusun benar, kuhapus lagi, sepertinya tak ada kata yang pas untuk membalas. Aku harus jawab apa? Tak bisa, karena ada acara? Padahal besok sore jelas menganggur. Kalau bilang tak ada, dikira pengangguran. Duh, salah lagi. Sampai sebuah pesan menghentikan kebingunganku. Kutekan tombol kembali, tapi belum sampai keluar dari layar chat Bagas, kulihat ada tulisan di bawah chat yang tadi. [Kalau nggak ada, mau nggak dinner bareng?] Mataku melotot, tubuh ini lemas seketika. Bukan karena kurang makan, tetapi membaca ajakannya yang membuat syaraf-syaraf ikut dag dig dug. Eh, memang bisa? Walaupun acaranya masih besok sore, tapi sekarang sudah gugup. Hei, Mir, ini belum apa-apa, tahan dulu. Tahan untuk tak senang-senang dulu. Bisa jadi acara gagal karena sudah banyak berharap di awal. Tapi siapa, sih, yang tak senang diajak dinner sama cowok ganteng? Mbak Yuni bisa kejang-kejang kalau dia yang ditawari. Dengan yakin, kuketik balasan yang mengiyakan ajakannya. Senang bukan main, aku melompat-lompat di kasur. Persis anak kecil yang mendapat mainan baru, atau mungkin persis Mbak Yuni yang berhasil membawa pulang lipstikku. "Semoga besok lancar, dan aku bisa semakin deket sama tuh cowok," gumamku sambil senyum-senyum. "Pinter banget, sih, ngobrak-abrik hati Mirna yang manis ini." Malam semakin larut, aku memutuskan tidur sebelum jam sepuluh agar besok bisa bangun lebih fresh, seperti buah jeruk yang dikeluarkan dari kulkas. Selamat istirahat, Mirna yang manis dan imut, baik hati juga rajin menolong orang, yang tak sombong meski dekat dengan orang ganteng. o0o Suara motor Bagas terdengar dari dalam kamar. Aku yang sudah siap, langsung keluar. Mengenakan dress panjang berwarna biru muda yang dibalut hijab warna senada, aku bagaikan Princess yang siap bertemu Pangeran. Bagas mendekatiku, matanya tak bisa lepas dari wajahku yang terpoles make up tipis-tipis. Hampir saja terjungkal kalau tak cepat-cepat kupegang tangannya yang gemetar. Aku tersenyum kikuk, begitu pun dengannya. Diraihnya lenganku, lalu mendekat ke mobilnya yang terparkir di halaman. Aku tahu, di ujung sana ada sesosok yang memandang dengan raut tak suka. Mungkin iri, melihatku dijemput pangeran ganteng. Kutebak, sebentar lagi cewek itu akan kejang-kejang setelah adegan Bagas membukakan pintu mobil untukku. Benar saja, Mbak Yuni mulai kelihatan reaksinya. Kejang sebentar, kemudian berhenti. Diambilnya sendal jepit, lalu menggigitnya. Bisa kulihat jelas dari dalam mobil yang menghadap ke teras. Tak lama, mobil mulai membelah jalanan kota yang padat kendaraan. "Kamu cantik hari ini, Mir." "Bisa aja, Gas," balasku, menahan pipi yang memanas. Ia mengernyit, lalu menatapku. "Kok Gas? Emang kompor?" Aku tertawa keras, salah siapa namanya Bagas? Masa iya kupanggil Bag? Bagian dari hidup maksudnya? "Emangnya mau dipanggil apa?" Mobil berhenti mendadak, ia menatapku penuh misteri. "Nggakpapa aku dipanggil 'Gas', asalkan kamu jadi 'Kompornya'." Aku menatapnya bingung. "Jadi kompor gas, dong?" "Iya. Kita adalah pasangan yang saling membutuhkan layaknya kompor membutuhkan gas. Keduanya saling melengkapi. Kalau salah satunya nggak ada, maka nggak akan tercipta apa-apa." Aku melongo, pendengaranku masih normal, 'kan? "Mir!" Aku menengok, terjadilah pertemuan antar netra yang saling menatap. "Iya, Gas?" "Kamu tau, akibat selang dan keran penutup tabung gas nggak rapet?" "Bisa terjadi peledakan." Bagas mengangguk. Kembali menatap depan, lalu berkata, "itulah gambaran pintu hatiku saat ini." "Maksudnya?" Ia menoleh lagi, kali ini menatapku lebih dalam. "Pintu hatiku ibarat selang dan keran penutup, kalau udah kebuka sedikiiit aja, bisa meledak. Dan penyebabnya adalah kamu." "A-aku?" Ia mengangguk sambil tersenyum. "Kamu yang udah berhasil membuat rasa di dalam hati ini meledak menjadi sebuah cinta." "Jadi—" "Iya. Aku mencintaimu," bisiknya, tepat di telinga sebelah kanan. Dadaku berdesir. Panas dingin menjalari seluruh tubuh. Persis waktu ditanya dosen tentang tugas kuliah. Untuk bernapas pun rasanya susah. Aku bergeming, diam bagai patung pajangan. Lagi-lagi, ia menciptakan debaran yang susah kulupakan. Tangannya mengusap lembut pipiku, lalu ditarik lembut ke samping kanan. Lagi-lagi, pandanganku dan Bagas bersirobok. Badan terasa panas dingin. d**a kempang kempis. Aku harus bagaimana? Tak kuasa menahan debaran yang makin berantakan. Semakin lama, wajahnya mendekat. Aku merasa, waktu berputar lebih lambat. Semakin didekatkan wajahnya ke wajahku, napas ini naik turun tak beraturan. Mataku terpejam, hingga merasakan sebuah sentuhan mengenai hidung. Sepertinya hidung kita menempel. Aku tak berani membuka mata. Sentuhan itu semakin empuk, membuatku tambah nyaman, tapi tiba-tiba .... "Mirna!!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN