Telepon Misterius

1008 Kata
"Mirna!!" Aku terlonjak, tubuh ini terpelanting dari kasur. Masih dengan mata tertutup, mataku terbelalak seketika, saat menyadari memeluk sesuatu. Astagfirullah! Bantal guling kubuang jauh-jauh. Jadi, ini cuma mimpi? Sudah tegang, malah cuma halusinasi. Ternyata yang empuk itu bantal guling? Aku menahan tawa sekaligus kesal. Bisa-bisanya mimpi berbuat m***m sama Bagas? Dan kenapa bisa itu semua seolah nyata? "Mirna!" Aku dikejutkan teriakan seseorang dari luar. Masih dengan kesadaran mengambang, aku berjalan mendekati pintu. "Ayu? Ada apa?" Gadis itu memandangku dari atas sampai bawah. Lalu memutar badanku, persis seperti sedang bermain gangsingan. Seperti tak pernah melihat cewek manis saja. "Lo seriusan jam segini baru bangun?" Aku menatapnya bingung, jam segini? "Biasanya sebelum subuh udah bangun. Ini kok jam enam masih berantak—" "Apa?!" Aku menoleh ke jam dinding. Astagfirullah! Ya Rabb, ampuni hamba! Aku langsung berlari ke kamar mandi untuk wudu, tak kuhiraukan panggilan Ayu dari luar. Allah, aku salah. Kenapa mimpi itu menghanyutkanku? Aku segera menunaikan Salat Subuh. Walau telat, tapi kewajiban tetap harus dijalankan. Setelah selesai, aku memohon ampun pada-Nya atas kecerobohanku. Ini semua salah Bagas, kenapa dia hadir di mimpiku? Apalagi adegannya yang iya-iya. Duh, otakku sukanya traveling. "Lo tuh dipanggil-panggil nggak nyaut dari tadi, gue kira pergi ternyata masih ngorok. Bikin orang kesel aja! Udah gitu ketemu sama tetangga nyebelin itu, auto darah tinggi gue." Ayu mengoceh sambil ngemil kacang goreng yang dibawanya. Aku ikut mencomot, lumayan, untuk obat kesal karena mimpi tak senonoh itu. "Gue kesiangan, gara-gara ...." Aku berhenti berbicara, kalau jujur ke Ayu bisa-bisa kita baku hantam. Secara, dia paling tak suka lihat sahabatnya menjadi lalai ibadah hanya karena seorang cowok, apalagi Bagas. Cowok idola yang kusuka diam-diam sejak semester dua. "Gara-gara apa?" "Eemm, itu, gara-gara ... kemalemen tidurnya. Jadi ngantuk, deh, terus kesiangan." 'Maaf, Yu, gue boong. Kalo jujur gue malu, karena yang selama ini lo lihat, gue itu kalem. Padahal aslinya jauuuh, bahkan lebih taat lo dan Dewi.' "Ooh, gitu. Lo nggak boong, 'kan?" Aku menggeleng cepat. "Enggak! Lagian ngapain gue boong?" Ia mengangguk-angguk, sepertinya percaya, mudah-mudahan begitu. Ayu menggeser posisinya lebih dekat denganku. Menatapku tajam, Oh Tuhan, itu tatapan mengintimidasi. "Lo tau, kan, kalo boong sama gue akibatnya apa?" Nyaliku ciut. Ini saat-saat yang paling tak kusuka. Oh Mirna! Kenapa baru ingat kalau Ayu itu sahabatmu sejak lama? Dia mana mungkin percaya begitu saja dengan raut wajahmu yang mencurigakan itu. Duh. "Mirna!" sentaknya, membuatku salah tingkah. "Eh, i-iya. Gue denger, kok." Ayu menjauhkan wajahnya. "Bagus!" Aku bisa bernapas lega, karena kecurigaannya tak terlalu jauh. Aku meneruskan ngemil kacang, entah kenapa perut keroncongan dari tadi. Dua hari ini tak ada jadwal, jadi aku bisa bersantai-santai sampai sore. "Dewi nggak ikut?" tanyaku penasaran. "Dia ke tempat neneknya dari kemaren. Katanya ada acara keluarga." Aku mengangguk-angguk. Dewi anak yang berbakti dengan kedua orang tua, keluarganya pun baik. Pernah mereka berkunjung ke tempat kos Dewi, kebetulan aku main di sana, mereka sangat ramah. Walaupun tergolong orang kaya, tetapi tak semena-mena. Keluarga Ayu juga begitu, bahkan aku dibawakan oleh-oleh khas daerahnya. Orang tuanya tergolong orang kaya juga, mamanya punya restoran terkenal, sedangkan papanya seorang kepala perusahaan. Yang jadi herannya, kenapa Ayu memilih kos, dan mau kerja sampingan? Padahal, tanpa kerja pun pasti ada uang dari orang tuanya. Ah, sudahlah, memikirkan itu membuat pusing saja. Yang jelas aku sangat bersyukur memiliki sahabat seperti mereka. "Yu!" panggilku. "Apa, Mir?" Aku bimbang, cerita tidak ya soal ajakan Bagas semalam? "Kenapa?" tanyanya, lagi. "Em, itu." Aku menggaruk kepala yang tal gatal. "Bagas ...." Ayu memiringkan kepalanya. "Bagas? Kenapa?" "I–itu. Bagas ... ngajak gue dinner." Ia tersedak, aku buru-buru mengambilkan minum. Ia menyeruput sampai habis, lalu menarik napas panjang dan dikeluarkan pelan. Ayu menatapku lekat. Ada tersirat kekhawatiran di sana. Bukannya senang, malah wajahnya berubah cemas. "Terus? Lo terima ajakan itu?" Aku mengangguk mantap. Ya kali mau menyia-nyiakan kesempatan yang tak datang dua kali? "Gue masih trauma aja, sih." "Trauma?" "Waktu kemaren lo janjian dinner itu, pulang-pulang udah kek mau menemui ajal, tau nggak?!" Dahiku mengernyit. Sebegitu parahnyakah? "Gue sama Dewi bingung nggak karuan. Kita sampek mengira itu bukan lo, karena gue pikir setelah tadi nganterin, lo bakal pulang maleman. Nyatanya, baru aja gue sampek sini, lo dateng nggak sadarkan diri. Lo tau apa yang buat kita panik setengah mati?" Aku menggeleng. Mendekatkan posisi duduk, siap mendengarkan penjelasannya. "Jadi, lo itu kayak ketakutan gitu." "Ketakutan gimana? Apa gue sempat ngigau?" Ayu tampak mengingat kejadian waktu itu. "Lo ada kayak nyebutin satu nama, tapi siapa ya ...?" Jari telunjuknya mengetuk pelipis, ia tampak lupa berat. Aku menunggu dengan debar tak menentu. Siapa nama yang kusebut? Bagaskah? Atau siapa? "Kalo nggak salah namanya Eee—" Dering telepon mengalihkan perhatianku. Dahiku mengernyit, sebab tak ada nama yang tertera. Kuangkat dengan rasa penasaran. "Iya, wa'alaikumussalam. Benar, saya Mirna. Ini dengan siapa?" “Oh, aku ... pengagum rahasia.” Dahiku mengernyit. "Pengagum rahasia?" “Bisa ketemu nanti malam?” Badanku mendadak menggigil. Bisa ketemu nanti malam? Kenapa harus malam ini? Aku, kan, ada janji temu sama Bagas. Masa iya, dalam satu malam ketemu sama dua cowok? [Gimana?] tanyanya, lagi. "Em, ma–maaf, saya nggak bisa." Terdengar embusan napas kecewa dari ujung sana. Aku merasa tak enak hati, tapi harus bagaimana? Setelah mengucapkan terima kasih dan menerima keputusanku, penelepon itu memutuskan ikatan cinta, eh, telepon maksudnya. "Pengagum rahasia? Siapa, Mir?" Aku menggeleng. "Zaman sekarang masih ada pengagum rahasia, ya, Yu?" Namun, rasanya kok tak asing sama sebutan itu? Seperti pernah dengar, lalu membekas di ingatan, tapi apa? Pengagum? Tapi rahasia? Pernah kenal kata-kata itu, tapi di ma— "Aha!" Ayu terlonjak, matanya langsung mendelik memandangku. Ah, aku ingat sama istilah itu. "Lo apa-apaan sih, Mir? Untung jantung gue nggak copot. Kalo copot, gue mau ganti pakek jantung lo, pokoknya." "Ish, ya maap. Lagian, gue udah inget tentang kata-kata itu." Ayu mengerutkan dahi. "Siapa?" Aku menarik napas panjang. Semakin ke sini, kenapa semakin banyak yang naksir sama aku, ya? Ha ha, cewek manis, mana ada yang enggak terpesona? "Jadi, orang itu ...." "Siapa?" "Dia yang pernah kirim pesan, terus ngakunya juga itu." Aku masih berusaha mengingat, apa lagi yang kutahu tentangnya. "Terus?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN