Kejutan Bagas

1023 Kata
“Terus?” Aku seperti menemukan kepingan ingatan. "Kalo nggak salah waktu itu ... dia memastikan kalo gue tetangganya Mbak Yuni. Setelah dia tanya kek gitu, gue nggak ada bales." Ayu masih sibuk dengan hp-nya, seperti sedang mencatat sesuatu. Ah, entahlah, yang jelas orang itu adalah orang yang sama. Setelah kucek lagi, nomornya juga sama. Enggak mungkin kebetulan. "Cuma itu?" Aku mengangguk mantap. "Nggak ada lainnya gitu? Misalnya nanya tentang identitas lo kek, atau apa?" "Emmm, seinget gue sih nggak ada lagi," jawabku. Tapi kenapa hati mengatakan ada hal lain, ya? "Eh, iya, gue baru inget. Kalo nggak salah dia juga ada ngirim pesan yang intinya berharap bisa ketemu sama gue." Ayu kembali ke layar ponsel, jarinya menari di atas keyboard. Apa dia mencatat informasi ini? Haduh, dia memang orangnya detail mencari informasi. "Lo pernah liat orangnya?" Aku menggeleng lagi, lalu Ayu juga melakukan hal yang sama. Begitu terus sampai entah pertanyaan ke berapa ia lontarkan. Semakin lama, aku mengantuk. Mungkin tidur lebih baik. o0o Aku telah siap menemui Bagas. Ini adalah dinner pertama dengan orang tercinta, eh, dengan sang idola. Jangan sampai menyia-nyiakan malam menyenangkan yang mempertemukan dua insan untuk memadu sayang. Haish, halu saja terus. Sejak tadi, Bagas belum menghubungiku, tetapi semalam sempat mengirimkan alamat kafe. Mungkin ia tak memberi kabar karena sengaja membuatku kangen. Duh, bisa saja si Bagas. Romantis, ya, walaupun tak seromantis Ustaz Syam kepada istrinya. Jelas, mereka sudah suami-istri, sedangkan aku dan Bagas? Cuma dua remaja yang mencintai dalam diam, itu pun kalau dia juga ada perasaan. Jujur, sebab trauma dengan masa lalu, membuatku menutup pintu hati. Setelah tahu cowok yang kemarin mengajak dinner adalah Kak Farel atau biasa kupanggil Kak El, rasa cemas mendominasi hari. Selama ini aku sudah berusaha melupa, tetapi dengan mudahnya ia muncul lagi dengan alasan masih cinta. Apakah dengan cinta bisa mengembalikan rasa trauma? Di hatinya masih ada satu nama, aku tahu itu. Semenjak Kak El mendengar kabar bahwa Kak Khaira–anak dari mama tiriku, masih hidup, ia dengan tega meninggalkanku yang setia. Aku yang berusaha menyembuhkan lukanya dengan memberi warna dan sepenuh cinta saat dengan tiba-tiba Kakak hilang bagai ditelan bumi. Namun, ternyata ending-nya? Sad. Aku merasa seperti simpanan yang terpaksa digunakan saat stok habis. Begitu menemukan yang baru, aku dibuang begitu saja tanpa mengingat cerita yang pernah diukir bersama. Aku pernah mencintainya dengan hati, tetapi ia membalas dengan duri. Menusukkan belati begitu dalam yang masih membekas di memori. "Aku yang bodoh, telah dibutakan dengan cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Saat udah benar-benar sayang, dia ikut menghilang dan memilih pergi dari kisah asmara kita." Kuusap air mata yang lolos di pipi. Enggak akan rela, menangis untuk cowok sepertinya. Dia hanya pantas mendapat karma, bukan cinta. Aku mulai membuka ponsel. Mengetik alamat kafe di papan pencarian Google Maps. Setelah ketemu, kupesan ojek online melalui aplikasi. Tak mungkin minta Ayu mengantarkan, selain tak enak dia juga sudah pulang sebelum magrib tadi. Kasihan, dia banyak tugas kuliah. Makanya buru-buru pulang dan tak bisa lama-lama denganku, pun sebaliknya, aku juga kebetulan sedang tak ada luang. Setelah beberapa menit, ojek datang. Aku langsung menaikinya dan menanyakan ketepatan tempat yang dituju. Takutnya salah, terus nyasar. Asal kesasar di hati Bagas, tak masalah. Kalau nyasarnya di hati suami orang, mana kuat aku menjalaninya? Menikmati suasana malam yang tenang, hatiku sedikit nyaman. Lampu yang menyala di sepanjang jalan, menambah terang dan syahdu. Bukan syahdu sama Mamas ojek, tetapi kesyahduan karena sebentar lagi bisa berduaan sama Bagas. Astagfirullah, bukannya berduaan itu tak boleh, ya? Katanya yang ketiga adalah setan. Mudah-mudahan nanti tak hanya berdua, tetapi bertiga ataupun berempat, sepuluh pun boleh. "Sudah sampai, Mbak. Ini, 'kan, kafenya?" "E–eh, iya, Mas." Aku langsung turun, lalu membayar sesuai dengan yang tertera di aplikasi. Setelah menerima kembalian, kulangkahkan kaki memasuki kafe ini. Sepi, itulah kesan pertama. Apa Bagas sengaja menyiapkan kejutan sampai membuat lantai bawah ini jadi sepi? Aaa, so sweet-nya. Namun, aku merasa ada yang tak beres. Kutengok kanan dan kiri, masih sama suasananya. Setelah melihat ke bawah, ternyata tali pinggang lepas. Dengan cekatan kutali ke depan, lalu melangkah lagi ke tempat lebih dalam. Tak ada waiter yang memberi informasi seperti pertemuanku waktu itu. Lalu, bagaimana? Haruskah kucari sendiri orang bernama Bagas di sini? Mataku menyapu sekeliling, tetapi belum menemukan apa pun. Apakah ia belum sampai? Tapi ini sudah memasuki jam yang dijanjikan. Bahkan aku telat sepuluh menit. Apa Bagas lupa? Ah, tak mungkin. Langkahku makin yakin menerobos beberapa ruangan yang hening. Setelah mata ini samar-samar menyorot pada cowok di kursi paling belakang. Makin didekati, feeling-ku yakin kalau itu memang Bagas. Seiring dengan jarak yang terpangkas langkah, hatiku kembali berdebar. Jantung terpacu lebih cepat. Waktu terasa berputar lebih lambat, bahkan seperti berhenti. Kakiku gemetar, setelah melihat pemandangan di depan sana. Lututku lunglai, mendapati Bagas .... Hatiku kembali berdebar. Jantung terpacu lebih cepat. Waktu terasa berputar lebih lambat, bahkan seperti berhenti. Kakiku gemetar, setelah melihat pemandangan di depan sana. Lututku lunglai, mendapati Bagas bermesraan dengan cewek lain. Allah ... apakah ini karma untukku? Karena selama ini sudah berani mengharapkannya daripada berharap pada-Mu? Aku ini cewek bodoh, yang dengan gampangnya tergoda. Baper dengan perlakuan dan kata-katanya yang memabukkan. Aku pikir, Bagas cowok baik-baik, karena sikapnya padaku selama ini juga sopan. Tak pernah terlintas di pikiran kalau dia akan berkhianat. Walau kita belum menjadi siapa-siapa. Walaupun mungkin hanya aku yang memiliki perasaan. Walaupun baginya, aku hanya debu yang menyesakkan. Tapi tak sepantasnya ia mempermainkan perasaan seseorang. Seorang cewek yang sejatinya adalah tulang rusuk cowok, yang hatinya lembut dan mudah terbawa perasaan. "Jadi, ngajak dinner tujuannya untuk ini? Begitu, Bagas?" Mata Bagas terbelalak. Mungkin kaget, atau lupa kalau malam ini ada janji denganku? Cincin yang tadi dipegang, kini jatuh dan menggelinding entah ke mana. "Lo apa-apaan, sih, Mir?!" Mataku mendelik. Bagai petir menyambar di cuaca terik, aku mematung tanpa mimik. Ekspresi mungkin telah lenyap, mendapati cewek yang duduk di depan Bagas adalah orang yang selama ini ingin kudepak. Apakah dunia memang benar hanya selebar daun kelor? Ruangan ini seperti tak berpenghuni. Meja, kursi, vas bunga, lampu, lilin pun tak berekspresi. Menyaksikan kesakitan atau memilih menonton kepahitan hidup gadis malang ini? Hanya kedataran pelayan khusus, Bagas yang terkaget, dan kenyolotan Mbak Yuni yang tersuguh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN