Bloodless Pain

1068 Kata
Iya, Mbak Yuni. Sekali lagi dia, tetangga yang tak punya hati. Aku mau marah, tapi terlalu kuat melawan setan. Ingin teriak sekencang-kencangnya, tapi tenggorokan lebih dulu kering kerontang. Alhasil, badanku merosot. Bagas gegas menolong, tapi kuhempas cepat-cepat tangannya. Ini lebih dari sekadar luka yang tersiram cuka, tapi mendekati mati rasa. "Mirna, ak–aku minta maaf." Sesal Bagas, menunduk dalam, tapi yang kulihat adalah senyum pucat sebab kepergok bermesraan. Mbak Yuni tampak kesal. Ia memandangku puas, tapi tak urung lepas badannya terlihat lemas. Karena cincin terlepas atau kedatanganku membuatnya malas? Aku masih bertahan dengan wajah panas. Tak hentinya air mata mengalir deras. Aku masih merasa waras, tapi tak tahu sejam kemudian atau detik berikutnya. "Mirna, bukan maksudku menyakitimu. Aku ... ah!" Diremasnya rambut yang semula rapi, berubah menjadi acak-acakan karena kesalahan. Persis dirinya yang mengacak-acak hatiku untuk menaruh perasaan, tetapi dibiarkannya begitu saja, lalu berakhir kecelakaan. Ya, bagiku pengkhianatan adalah kecelakaan maut yang tak bisa lagi tertolong. Mungkin aku yang terlalu menganggap serius perhatiannya, sedangkan cinta tak pernah ada di dalam d**a, secuil pun tidak. Aku yang sudah berani menduakan Tuhan dengan dalih 'tidak akan', tetapi nyatanya setan tak akan salah alamat menyesatkan manusia yang tipis iman. Aku sebagai contohnya. "Ini semua cuma salah paham. Nggak kayak yang kamu liat. Mirna, tolong percaya sama aku." Muak. Aku muak dengan kata-katanya yang seolah menutupi kebusukan. Mungkin kemarin-kemarin aku memang bodoh, Bagas, tetapi tida untuk sekarang. Dan kenapa harus kamu, cowok yang menggoreskan luka untuk kedua kalinya? "Bagas, udah! Biarin cewek itu tersiksa, salah siapa kegatelan dan kege-er-an duluan. Kecentil—" "Yuni!" Aku terperangah, saat mendengar suara seseorang. Kudongakkan kepala, betapa malangnya nasibku dengan nasib pacarnya Mbak Yuni. Cowok itu juga terlonjak, mendapati Mbak Yuni di sini yang sedang memaki dan menempati posisi yang seharusnya itu untukku. Yang seharusnya menikmati ketenangan dengan Bagas itu aku, bukan dia. Tetangga tak punya muka. Tangan Gian menjulur, aku spontan menerima ulurannya. Bukan menjadi gampangan, tetapi aku lelah menghadapi sakit sendirian. Usahlah kupikir terlalu dalam, biarkan kita bahagia dengan cara masing-masing. "Jadi, kamu ngajak ketemuan cuma buat nunjukin ini, Yun?" Bagas syok, sedangkan Mbak Yuni mati kutu. Ah, sekadar menambah embel-embel 'Mbak' saja aku jijik. Wajah Gian terlihat garang, tetapi masih tenang. Menatap nyalang pada pacarnya yang kemarin-kemarin dibanggakan. Sekarang, apanya yang perlu dibanggakan lagi? Kelihaiannya merebut gebetan orang? "Eng–enggak gitu, Sayang. Aku bisa jelasin." "Semua udah jelas. Mirna saksinya. Dan dengan kepalaku sendiri juga liat kamu bermesraan sama cowok itu. Apa itu nggak cukup jelas kalo kamu udah berkhianat?" Mendadak lagu milik Armada memenuhi kafe ini. Diputar dengan volume yang tak kaleng-kaleng. Mengapa bisa pas begini? Sudah disiapkan atau karyawan kafe yang mengikuti suasana? Liriknya yang sudah kuhafal pun mendadak mengikuti lagu di dalam hati. [Aku terluka, melihat kau bermesraan dengannya 'Ku tak bahagia, melihat kau bahagia .... Harusnya aku yang di sana, dampingimu, dan bukan dia Harusnya aku yang kau cinta, dan bukan dia] Aku menonton drama di depan mata. Lumayan, anggap saja sebagai pengobat hati yang perih. Bagas juga masih syok, sehingga dia terduduk lemas. Aku? Masih berdiri di sini, melihatnya yang sama-sama hancur. Apa kamu mengira kalau Mbak Yuni masih single, Gas? Sampai begitu yakin ingin menyematkan cincin di jarinya? Tapi maaf, sebelum cincin itu terpasang, aku datang dan merusak keharmonisan kalian. Apa ini juga sebuah kebetulan? Selain Bagas yang kupergoki, juga Mbak Yuni yang ketahuan cowoknya itu. Kalau belum pengalaman berkhianat, jangan coba-coba, belum mulai sudah jatuh duluan, 'kan? Aku, sih, memang aslinya sakit. Lebih dari itu malah. Tapi setelah melihat kerecokan antara Mbak Yuni dan pacarnya yang sedang berlanjut, aku berpikir dua kali. Buat apa sakit terlalu lama? Tak ada gunanya. Lebih baik pulang, lalu membersihkan diri, lanjut menyusun tips move on ala anak kos yang punya tetangga banyak gaya. "Aku pamit pulang, Gas." Yang dipamiti hanya menatap kosong. "Mbak Yun, Gian." Si cowok mengangguk, sedangkan sang pacar memandang sinis. Sebelum benar-benar meninggalkan kafe ini, aku mendekati Bagas. Mendekat ke telinganya, lalu berbisik, "Terima kasih untuk malam ini yang memberiku banyak pelajaran. Besok-besok, kalau mau macarin pacar orang lain, belajar dulu denganku. Pasti berhasil!" Sempat kulihat bibirnya yang pucat dan wajah tegang bukan main. Aku membalikkan badan, tersenyum puas. Maaf, aku pernah mencintaimu sedalam itu, tetapi sekarang aku menjadi membencimu seyakin ini. Kembali kupesan ojek online. Setelah menunggu beberapa menit, motor melaju ke tempat kos. Tak ada perbincangan di sepanjang jalan, hanya kenangan yang mengikuti perlahan. Kenangan yang menyakitkan. Ini terjadi kedua kalinya setelah beberapa tahun kulalui. "Apa kakakku sebegitu berharganya di matamu, Kak El? Sampai kamu tega mau pergi dari hidupku? Kalau nggak ada kamu, aku di sini sama siapa?" Isakku menahan sesak. Tak ada hati selain Kak El waktu itu, sudah kubabat habis cinta ini untuknya. Walaupun akhirnya sama-sama harus berujung menyakitkan. "Aku cinta kamu, Alma. Sangat cinta. Tapi nama Khaira dan hatinya, nggak pernah bisa ilang di hatiku. Di hidupku. Maafkan aku, Alma, maaf. Aku harus pergi mencari kakakmu." Dan setelah itu, aku belajar ikhlas. Sulit memang, tetapi kembali mendekatkan diri dengan Sang Pencipta akan lebih tenang. Kala itu, aku mulai memasuki Sekolah Menengah Atas. Tak ada lagi memikirkan tentang Kak El yang pergi. Yang ada hanya belajar, belajar, dan belajar. Sampai akhirnya bisa mendapat beasiswa kuliah di sini. Tentu bukan hal yang mudah bagi orang perasa sepertiku. Melupakan yang semestinya dibawa ke pelukan. Tetapi setelah nyaman dengan kesendirian, tak ada lagi celah untuk menggores hati, kecuali membiarkannya terbuka. Sama sepertiku. Terlalu percaya dengan perhatian yang palsu. Motor berhenti tepat di halaman rumah. Setelah menyodorkan helm, kuterima uang kembalian. Namun, tak kusangka, orang itu membuka helmnya. Tak kalah terkejutnya aku, ternyata .... "Kamu?!" "Apa kabar, Ma?" "Aku Mirna, bukan Alma! Jangan panggil itu lagi!" Kak El mengernyit, menatapku bingung. "Kenapa? Itu nama sayangku buat kamu, bukankah dari dulu kamu senang kalau aku panggil pakai nama itu?" "Itu dulu, sekarang beda! Udahlah, Kak, jangan ganggu lagi!" "Karena udah punya pengganti, kamu jadi ninggalin aku?" Aku tersenyum kecut, bisa-bisanya dia bicara begitu. Memang benar, buaya darat mana ada yang mau mengakui kesalahan. Ada saja alasan supaya meluluhkan hati cewek. Ia pikir, aku bakal baper sama omongannya itu? "Iya, 'kan, Ma?" "Kalo iya emang kenapa?" "Kamu tega, ya, Ra. Aku itu cinta sama kamu, tapi kenapa kamu lebih milih cowok lain?" Aku maju satu langkah. "Yang tega itu sebenarnya siapa? Aku atau kamu? Dulu, yang meninggalkan dengan alasan masih cinta sama kakakku, itu siapa? Pergi! Kejar wanitamu itu! Aku nggak butuh lagi pengecut kayak kamu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN