Muak

1079 Kata
Aku segera melangkah ke kamar. Setelah mengunci pintu dari dalam, kuhempaskan tubuh di kasur lantai ini. Sampai kapan cinta mempermainkanku? Sudah cukup disakiti Kak El, sekarang harus sakit juga karena Bagas? Oh, Allah, takdir seperti apa yang harus kujalani lebih sabar lagi? Saat menoleh ke samping pintu, terlihat keresek hitam di sana. Duh, lupa membuang sampah. Segera kusambar keresek itu, lalu keluar. Selesai melempar ke tong sampah depan kos, lampu motor menyilaukan mata. Siapa, sih? Eh, motor itu berhenti di halaman. Aku menghampiri pengendara yang boncengan itu. "Maaf, cari siapa, ya?" Mereka mencopot helm, aku terkejut bukan main. Bagas dan Mbak Yuni? Bisa-bisanya mereka tetap bersama walaupun sudah kupergoki. "Nggak cari siapa-siapa, gue mau pulang. Lo kenapa di sini?" Rentetan kata yang keluar dari mulut cewek itu, seolah menandakan bahwa ia berhasil merebut Bagas dariku. "Gue buang sampah, kenapa emang?" jawabku tak kalah sewot. "Oh ya, selamat atas pacar barunya." Mbak Yuni tersenyum puas. Huh! Lihat saja nanti. "Iya-iya, makasih. Dan sekarang tau, 'kan? Siapa yang lebih berhak dapetin Bagas?" bisiknya tepat di telinga kananku. Bagas hanya diam seraya menatapku dengan wajah datar. Aku melipat kedua tangan dan memasang wajah angkuh. "Kita liat aja besok, siapa yang lebih berhak nangis darah." Wajahnya berubah masam, lalu mundur selangkah. Dalam waktu bersamaan, Bagas izin pamit. Cowok itu meraih tangan Mbak Yuni, lalu mengecupnya. Dasar, buaya buntung, maunya diuntung. Tak memikirkan kalau di sini ada hati yang menahan api, api cemburu. Apa? No! Mirna tak boleh begitu, bagaimanapun, dia itu tak jauh berbeda dengan Kak El. Si Buaya darat itu. Mbak Yuni berbalik, menatapku sinis. "Maksud lo apa ngancem gue kek gitu?" Aku melengos, maju selangkah, sehingga tak ada jarak dengannya. "Ngrebut gebetan orang, bangganya udah selangit! Prestasi kek gitu perlu dibuatkan sertifikat nggak? Kalo butuh, besok gue anter selembar sertifikat atas penghargaan karena udah berhasil—" "Stop! Lo itu bocil! Nggak sopan namanya ngomong sama orang dewasa kek gitu. Kayak nggak diajarin sopan santun aja." Aku tersenyum kecut. "Nggak kebalik? Harusnya kalo Mbak Yuni ngerasa lebih dewasa, bisa nyontohin hal baik sama bocil kek gue!" "Eh! Lo nya aja yang nggak bisa ngambil pelajaran dari apa yang gue perbuat!" "Ooh, sebelum lo ngomong gitu gue udah ambil pelajarannya, kok. Gue ambil hikmah dari kelakuan lo tadi di kafe, kalo tetangga yang selama ini dibantu, ternyata cara berterima kasihnya pakai cara ini. Cara yang menjijikkan!" "Heh! Ngomong apa, lo?!" Ia maju selangkah, tangannya seperti mau menarik hijabku, tapi sebelum menempel, kupegang cepat. "Cuma pengecut yang beraninya main fisik sama bocil!" Kulepaskan tangannya kasar. Biarlah, sudah muak melihat tingkahnya yang sok-sokan itu. Kuterbitkan senyum sinis, lalu berbalik menuju kamar. Aura tak enak menyerang, kubalikkan badan lagi dengan cepat. Berhasil, lengannya kembali sukses kucekal. "Lepasin!" "Maumu apa, sih, Mbak?!" Makin kueratkan cekalan. Membuatnya merintih kesakitan. Aku tak peduli, masa bodoh kalau pergelangannya lecet. Macan dibangunkan, pasti mengamuk. Berani mendekati Bagas, adalah kesalahan yang tak kulupakan. "Mir! Please! Lepasin gue!" Kutarik badannya mendekat, lalu berbisik di telinganya. "Sampai kapan pun, gue nggak sudi bantu lo lagi. Apa pun itu bentuknya. Utang lo juga, besok harus lunas. Gue beri waktu dua hari, kalau selama dua hari nggak lunas, gue terpaksa akan bongkar kebusukan lo sama Bagas!" "Jangan dikira gue nggak ngerti, apa yang lo lakuin di luar penglihatan, gue tetep tau. Dan nggak segan-segan bocorin semuanya sama kekasih baru lo itu," lanjutku berapi-api. Wajahnya makin pucat di bawah lampu yang sedikit terang ini. Kuhempaskan tangannya, sambil sedikit mendorong. Sedikit, tak banyak, tapi mampu membuatku hampir tersungkur. Aku berlari, lalu menutup pintu kamar dengan kasar. Dadaku naik turun, keringat membanjiri pelipis, tubuh ini mendadak panas dingin. Segera mengambil wudu, lalu berbaring di atas tempat tidur. Memejamkan mata yang sebetulnya masih cerah, tapi kupaksa terpejam. Tak lama, hanya gelap yang menghinggap. oOo "Mirna! Mir! Buka pintunya!" Gedoran pintu membuatku bangun. Mengucek mata sebentar, lalu berjalan ke pintu. "Ada apa?" "Minjem cas hp, dong." Lagi-lagi Mbak Yuni mau pinjam cas hp, padahal punyaku yang dia pinjam dulu belum dikembalikan. "Bukannya udah punya? Yang punyaku itu, dikemanakan?" Ia berdecak, menahan kesal. "Rusak!" Aku terbelalak, itu cas masih bagus, sudah rusak di tangannya? Allahu Akbar. Tangan apa petir, sih? "Buruan, pinjemin! Hp gue udah lowbat!" "Loh, maksa?" "Pinjemin bentar napa, sih? Jangan pelit-pelit jadi orang, tuh." "Yang ada cas gue rusak lagi dipinjem lo, Mbak. Udah minjem lama, nggak dibalikin, tambah dirusak. Lo pikir gue konter yang menerima jasa cas hp?" Mbak Yuni berkacak pinggang. "Eh! Lo tuh bocil, nggak usah banyak omong! Tinggal ambil cas lo, terus serahin ke gue, simple. Nggak usah pakek acara nyeramahin orang segala, deh." Aku tersenyum sinis sembari memperhatikan mukanya yang songong itu. "Terus, lo pikir gue bakal minjemin?" Tawaku berderai, menutup mulut yang terbuka lebar. "Ya, nggaklah! Jangan ngarep ya, Mbak!" Ia makin geram, tangannya bergerak ke depan wajahnya, hampir saja mencakar. Kutekan pergelangan tangannya, lalu kuhempas kuat-kuat. Belum puas, kutarik kerah baju, sampai mencekik leher jenjangnya. "Udah cukup gue sabar, Mbak, tapi jangan mentang-mentang lebih tua dari gue, lo bisa bersikap seenaknya!" "Gue udah nganggep lo saudara, tapi ternyata lo nggak selembut yang gue kira, Mir! Lo bahkan tega nyakitin orang yang lebih tua," ucapnya dengan nada memelas. Haduh, aktingmu sungguh luar biasa, Mbak Yun. Perlu diapresiasi. "G–gue, gue minta ma–af, Mir. Gue sal—" "Mirna!" Kulepas cengkeraman, membuat badan Mbak Yuni terhuyung. Cowok itu ... kenapa pagi-pagi sudah ada di sini? "Apa yang lo lakukan?" Bagas mendekat, meraih tubuh Mbak Yuni ke pelukannya. Subuh-subuh dibuat gerah. Apa dia sengaja supaya Bagas memergokiku yang sedang menyakitinya? Dasar, tetangga bikin jengkel! "Kalo mau mesra-mesraan jangan di depan kamar gue! Sana, ke kamar cewek lo aja, Gas!" Pelukan mereka lepas, sedang Mbak Yuni sembunyi di balik badan cowok itu. Oh, rupanya cuma berani di belakang, minta perlindungan sama cowok kepar*t ini. "Lo kenapa mendadak kasar, sih, Mir? Untung nggak jadi jadian sama lo, beruntung udah tau kalo ternyata lo nggak selembut yang gue kira." "Lo yang buat gue begini, Gas! Masih nggak sadar? Kesalahan lo di kafe itu menoreh luka di hati gue! Dan teganya menabur garam di atas sayatan yang masih basah." Aku berkata penuh rasa sengit. "Suatu saat lo akan tau, di mana letak perihnya! Dan untuk saat ini, nikmati aja dulu kebahagiaan lo sama cewek itu! Cewek yang nggak punya hati!" "Mirna! Jaga mulut lo!" Aku mendengkus. "Gue nggak akan banyak omong sama orang yang sedang kasmaran, yang ada cuma penyepelean. Tapi inget satu hal, setelah nyakitin gue, jangan berharap hubungan kalian akan baik-baik aja selamanya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN