Berdebar

1023 Kata
"Apa yang lo lakukan?" Bagas mendekat, meraih tubuh Mbak Yuni ke pelukannya. Subuh-subuh dibuat gerah. Apa dia sengaja supaya Bagas memergokiku yang sedang menyakitinya? Dasar, tetangga bikin jengkel! "Kalo mau mesra-mesraan jangan di depan kamar gue! Sana, ke kamar cewek lo aja, Gas!" Pelukan mereka lepas, sedang Mbak Yuni sembunyi di balik badan cowok itu. Oh, rupanya cuma berani di belakang, minta perlindungan sama cowok kepar*t ini. "Lo kenapa mendadak kasar, sih, Mir? Untung nggak jadi jadian sama lo, beruntung udah tau kalo ternyata lo nggak selembut yang gue kira." "Lo yang buat gue begini, Gas! Masih nggak sadar? Kesalahan lo di kafe itu menoreh luka di hati gue! Dan teganya menabur garam di atas sayatan yang masih basah." Aku berkata penuh rasa sengit. "Suatu saat lo akan tau, di mana letak perihnya! Dan untuk saat ini, nikmati aja dulu kebahagiaan lo sama cewek itu! Cewek yang nggak punya hati!" "Mirna! Jaga mulut lo!" Aku mendengkus. "Gue nggak akan banyak omong sama orang yang sedang kasmaran, yang ada cuma penyepelean. Tapi inget satu hal, setelah nyakitin gue, jangan berharap hubungan kalian akan baik-baik aja selamanya." "Nggak usah ngancem, gue nggak takut!" balasnya dengan tatapan nyalang. "Nggak ngancem, tapi cuma ngasih tau." Aku gegas masuk kamar, menutupnya dengan emosi. Subuh-subuh dibuat kesal, siapa yang nggak marah? Astagfirullah ... ampuni hamba-Mu ini. Azan subuh berkumandang, aku segera wudu dan salat. - Kalau di pagi hari, yang lain segar bugar, justru aku hanya bisa menampilkan wajah cemberut. Kenapa harus ada Mbak Yuni di antara hubunganku dengan Bagas? Dan kenapa wajib ada cinta di antara hatiku yang kosong buat cowok macam dia? Please, Mirna, stop mikirin cinta! Fokus masa depan. Fokus sama karir yang cemerlang. Ayo, bangkit, kamu pasti bisa! "Mirna!" Aku menoleh ke sumber suara. "Gian?" "Lo sendirian?" tanya cowok itu, yang sekarang udah resmi jadi mantan Mbak Yuni. "Iya, kenapa? Gebetan gue udah sama orang lain, tetangga gue sendiri. Dan, mantan lo, 'kan?" Cowok bermata indah itu, duduk di bangku sebelahku. Menarik napas dalam-dalam. "Udah jadi masa lalu. Sekarang, gue mau fokus sama masa depan aja! Capek pacaran, apalagi sama model kayak Yuni." "Tapi lo pernah cinta, 'kan?" ejekku disertai senyum sinis. "Kadang cinta itu membutakan mata seseorang yang sedang dimabuk asmara, termasuk gue." tatapan yang semula lurus ke depan, kini menoleh ke arahku. "Gue minta maaf, Mir." Dengan spontan, aku membalas tatapannya yang ... ah, itu benar-benar niatan tulus. Tapi aku nggak boleh percaya dulu, cowok yang sedang kuhadapi ini bukan sembarangan. Bisa jadi, dia sedang belajar akting, mendalami perannya di film pendek yang akan rilis bulan depan. Secara, Gian tokoh utama. Selain good looking, juga pintar memerankan berbagai peran. "Mir!" Aku tersentak, untuk sesaat, ada rasa percaya akan permintaan maafnya. "Gue serius minta maaf sama lo. Ya, walaupun nggak good attitude, tapi gue masih punya hati kali. Maaf, soal waktu itu. Setelah ban motor bocor, gue menyadari satu hal." Sejurus kemudian, ingatanku kembali ke masa itu. Mencoblos ban motornya pakai paku sampai bocor, dua-duanya, lagi. "Karma emang berlaku. Dan mungkin itu azab buat gue yang udah nyakitin cewek sesabar lo." Duh, aku jadi merasa bersalah. Tapi setelah dipikir-pikir, biarin aja kapok, salah siapa nggak punya sopan santun. Juga itu sebagai pelajaran, supaya nggak berbuat seenaknya. "Baguslah," kataku sekenanya. "Cuma itu?" Aku menoleh, menatap wajahnya yang terpapar sinar matahari, menambah tingkat ketampanannya. "Terus?" "Lo nggak ada niatan maafin gue?" "Gue udah maafin sebelum lo minta maaf. Tapi kejadian itu nggak akan gue lupain dan nggak akan hilang di memori gue," tegasku. "Oke, sebagai tanda terima kasih, gue anterin lo pulang!" "Apa?" Ia mengangkat alis, dengan ekspresi meyakinkan. Apa kata orang? Aku pulang sama mantannya tetangga sendiri. Nggak, nggak! Lagian, aku nggak mau baper lagi, sama siapa pun itu. "Gue bisa pulang sendiri. Lagian jarak kampus ke kos deket, nggak usah sampek naik pesawat. Ngesot pun bisa," tolakku datar. "Ayolah, Mir!" Aku menggeleng, tetap pada pendirian. "Sekali aja," pintanya. "Nggak usah repot-repot, gue bisa jalan sendiri." "Mir! Gue cuma nganter, nggak ngapa-ngapain. Nggak repot juga!" Aku bangkit, lalu berjalan keluar taman kampus ini. Gerah rasanya dipaksa. "Tunggu, Mir! Lo kenapa, sih, kayak menghindar gitu?" Aku berhenti, berbalik menatapnya yang masih penasaran. "Gue nggak mau baper lagi sama seseorang, cukup sakit hati kemaren jadi pelajaran buat gue!" "Walaupun cuma dibonceng?" "Masih ditawarin pulang bareng aja gue udah baper,dan lo mau merambah lebih jauh lagi kalau gue setuju?" "Apa salahnya mencoba?" ucapnya enteng, tanpa pengertian apa pun. Aku semakin geram. Kayak nggak laku aja, ngejar tetangga mantannya sendiri. "Ayolah, Mir! Gue tau, lo pasti mau nerima tapi gengsi, 'kan?" Gian maju beberapa langkah. "Ayo!" ajaknya, menarik lenganku. "Lepasin! Gue nggak mau, Gian!" "Nurut sama gue, Mir!" "Nggak!" Aku terus berusaha melepas cekalannya, tapi malah semakin kuat. "Diem! Tinggal ikut apa susahnya?" "Tapi gue nggak mau!" "Lepas, Gian! Nggak usah maksa kalo emang dia nggak mau!" bentak cowok di belakang. Aku menoleh ke sumber suara. "Kak El!" “Dia nggak bakal mau sama lo. Lepasin atau bogem mentah melayang sekarang juga?” Bukan melepas, Gian malah makin mempererat cekalan. Lenganku bertambah sakit. Terus berusaha melepas cengkeramannya, tetapi sangat sulit. “Gue nggak takut anceman lo. Gue lebih takut kehilangan cewek ini.” Hempasan kasar pada tubuhku, membuatku sulit menyeimbangkan badan. Namun, dengan sekuat tenaga aku melepas diri. Saat ia lengah pada emosinya yang memuncak, aku berhasil melarikan diri, lalu bersembunyi di belakang tubuh Kak El. “Mirna! Kamu nggakpapa, ‘kan?” Aku hanya bisa menggeleng. Tak lama, Kak El membawaku lari keluar taman. Gian mengejar, kami makin mempercepat langkah. Hingga tiba di motornya, aki langsung membonceng dan Kak El menancapkan gas dengan kecepatan sedikit tinggi. Hening di perjalanan, sampai aku tak sadar telah sampai kos. Begitu turun dari motor, aku mengucap, “Makasih, Kak. Aku nggak tau harus gimana kalau nggak ada kamu.” Lelaki itu mengangguk seraya tersenyum. “Sama-sama. Mulai sekarang, aku bakal berusaha lebih maksimal buat jagain kamu.” Deg! Tercengang. Jantungku tiba-tiba mengayun cepat. Detakan makin parah dan sayangnya aku sulit mengendalikan. Oh, Tuhan. Jangan sampai aku terlihat salah tingkah atau baper. Bisa-bisa ia berpikir kalau aku sudah menerimanya kembali, padahal aku haya bersyukur sudah ditolong. Namun, tak mengelak juga, kalau hatiku porak-poranda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN