Mengejutkan

795 Kata
Malam yang mendung, semendung isi hatiku memikirkan diri sendiri, memikirkan Gian dan memikirkan Kak El. Memikirkan hal yang tiada ujungnya. Gian yang beberapa hari ini mengejarku dengan segala macam cara. kak El yang juga mencoba mendekatiku dengan cara yang sederhana, tetapi membuatku terbang tinggi. Ayu dan Dewi yang mulai sibuk dengan tugas masing-masing. Hingga kami hanya bisa berkabar melaui HP. Setiap malam kami meluangkan waktu untuk vidio call. Sehari kalau belum bertatap muka, terasa ada yang kurang. “Gian makin intens deketin gue, Wi, Yu,” ucapku saat tadi VC dengan kedua sahabat. “Jadi, lo mau melabuhkan hati ke siapa, Mir? Gian atau El yang menurut lo dia punya cara sendiri buat ngebahagiain lo.” Pertanyaan Dewi seketika membuat hatiku berdebar. “Yaelah orang cinta mah mau ditanya apa pun yang pasti tetep asik sama hatinya yang masih berbunga-bunga,” sahut Ayu disertai gelengan yang sukses membuatku tertawa. Setelah tawa pudar, kali ini, aku menatap serius mereka. “Gue bingung mau pilih siapa.” Mengambil secangkir coklat hangat di meja, aku melanjutkan, “keduanya sama-sama ngejar. Yang Gian ngebet minta jadian terus ngajak pacaran. Yang kak El nggak mengatakan apa-apa, tapi aku tau dia berharap kita baikan. Matanya nggak bisa bohong.” Ayu dan Dewi saling memandang. Aku masih kalut dengan suasana hati yang makin hari makin gelap. Namun, wejangan mereka di akhir obrolan menentramkan hatiku kembali. “Kita nggak ngelarang kamu jatuh cinta, Mir. Cuma pesen gue jangan terlalu berharap sama salah satunya apalagi keduanya. Gue nggak mau lo kecewa kalau yang lo inginkan itu nggak terjadi.” Ayu berhenti sebentar, lalu melanjutkan, “jangan juga ngasih mereka harapan walaupun sekedar ucapan basa-basi dan memuji berlebihan.” Baiklah. Aku akan terus mencoba untuk tetap menjaga hati. Meskipun tak bisa dipungkiri, pesona Kak El begitu memikat. Aku tak akan munafik; bahwa masih ada nama lelaki itu di ruang hati. Tidak, tidak! Apakah aku sudah gila? Lelaki itu pernah melukai hati. Ia memilih berkeinginan hidup bersama Mbak Ayuni—kakak kandungku dari Papa—ketimbang bersamaku yang sedari kecil adalah sahabatnya. Bagaimana mungkin aku membuka hati untuk lelaki yang tak peduli dengan perasaan sahabat masa kecilnya? Menatap bintang di langit, aku sangat takjub dengan keindahan di sana. Seperti hidupku dulu yang penuh cahaya terang, tetapi makin bertambah usia, terang itu berubah suram. Kurang lebih sama seperti saat ini. “Bagaimana kuliahmu di sana, Mir?” tanya Papa, beberapa hari yang lalu. Belum sempat menjawab, beliau kembali bertanya, “Sudah menemukan kakakmu?” Tanpa sadar, aku tergelak mendengar pertanyaan yang menurutku itu lucu. “Kakak? Papa yakin dia menganggapku seorang adik?” Papa terdiam. Aku tak peduli beliau akan marah nantinya. Cukup sampai di sini aku merasakan lelah selelah-lelahnya. Namun, beberapa menit saling membisu, ucapan Papa sukses membuatku tercengang. “Papa tahu kamu lelah. Berhentilah mencari Ayuni, Mir, kamu sudah banyak beban. Papa nggak mau fokus kuliahmu terganggu.” Dalam diam, aku menarik senyum sinis. Ah, bukan, lebih tepatnya senyum yang menggambarkan bahwa itu semua sangat terlambat dikatakan. “Papa jangan khawatir! Mirna kuat, kok. Bukankah menemukan Mbak Ayuni adalah keinginan Papa dan mama tiri?” Mendengar jawabanku, terdengar embusan kasar dari seberang sana. Aku menerka, embusan itu mengandung dua hal. Pertama, tentang pencarian Mbak Ayuni yang kulakukan atas dasar perintah orang tua. Kedua, karena Papa tak suka aku menyebut istri keduanya dengan sebutan mama tiri. Ya, mama tiri itu adalah mama kandung Mbak Ayuni, sedangkan mamaku—Bunda—meninggal ketika aku berusia delapan tahun. “Papa nggak mau kuliahmu terganggu. Mulai besok, Papa akan mengutus beberapa orang untuk mencari Ayuni. Jadi, Papa harap kamu nggak lagi banyak—“ “Beban. Pasti Papa mau bilang itu, ‘kan? Sudahlah, Pa, Mirna sudah terbiasa dengan beban. Itu teman sehari-hari. Papa nggak usah repot-repot sewa detektif atau mengirim orang cerdas untuk semua itu. Untuk mencari keberadaan Mbak Ayuni. Mirna bisa melakukannya sendiri.” Tanpa menunggu jawaban dari yang kata orang-orang adalah cinta pertama, aku mematikan sambungan telepon. Bukan bermaksud untuk tak sopan, aku hanya tak ingin terjadi perdebatan. Akhirnya, setelah itu Papa tak lagi menghubungiku. Biarlah, peduli apa? Beliau dan sang istri juga tak memedulikan perasaan dan mimpiku. Papa memintaku berhenti mencari sosok Mbak Ayuni setelah aku tinggal beberapa bulan di sini dan sayangnya perintah itu tak berbeda dengan perintah untuk jangan makan ketika beberapa suap nasi sudah masuk mulut. Apakah salah kalau aku mengatakannya ‘terlambat’? Setelah melihat tanda lahir Mbak Yuni dan menghubungkan kalung yang kutemukan dengan kalung yang lama kusimpan, aku sangat yakin bahwa tetangga banyak gaya itu ... Mbak Yuni. Perempuan yang selama ini berhasil menyisihkanku dari keluarga walau tanpa kehadirannya. Perempuan yang selama ini menyebalkan sekaligus orang yang kucari. Setelah tahu bahwa Mbak Yuni adalah sang kakak, aku berusaha mendekatinya. Bukan untuk terlihat dekat, hanya ingin memastikan bahwa ia memang kakakku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN