Dering ponsel membuatku terperanjat. Setelah melihat nama yang tertera di sana, aku tak kalah terkejut. “Kak El? Malam-malam nelpon, what happen?”
Meski dengan tangan gemetar dan penuh keraguan, aku tetap menggeser tombol hijau, lalu mendekatkan HP ke telinga. “Ada apa, Kak?”
“Masuk! Nggak baik jam segini masih di luar.” Begitulah perintah dari seberang sana.
Belum sempat menjawab, telepon sudah ditutup. Dari mana ia tahu kalau aku sedang duduk di teras? Kak El tidak berubah profesi menjadi dukun, bukan?
Meski masih dengan rasa penasaran tinggi, aku tetap masuk kamar, lalu mengunci pintunya. Tak selang lama, satu pesan kukirim ke nomornya melalui w******p.
[Aku udah masuk. Makasih udah diingetin. Btw, Kak El tahu dari mana aku ada di luar?]
Itu bukan kalimat dan pertanyaan berlebihan, bukan? Menurutku tidak, itu masih wajar dan sudah umum diucapkan.
Dering pesan berbunyi, aku segera membukanya.
[Nggak perlu tahu aku tahu dari mana. Lain kali kalau jam 9 ke atas, di kamar aja. Oke? Have a good rest.]
Duh, dengan begitu saja aku sudah meleleh. Meski menyakitkan, Kak El tak pernah bisa dilupakan.
Aku tak membalas lagi. Kalimat terakhirnya sudah mewakili bahwa aku tak perlu mempertanyakan apa-apa lagi. Mengingat besok ada kuliah pagi, aku memutuskan tidur sekarang juga.
***
“Lo serius, Mir?” Pertanyaan Dewi disertai wajah tercengang Ayuk membuatku mengangguk mantap.
“Kok, bisa?” Kini, Ayu yang meluncurkan kalimat tanya.
“Gue kira gue akan menemukan kebahagiaan tanpa nama kakak kandung itu. Ternyata, skenario Allah lebih mengejutkan. Mbak Ayuni datang tanpa gue cari dan ternyata dia tetangga kos gue sendiri,” ungkapku pada mereka.
“Gue nggak tahu harus seneng atau sedih, Wi, Yu. Satu sisi seneng bisa ketemu lagi sama saudara gue. Sisi satunya gue sedih, masih inget wajahnya penuh kemenangan waktu dia berhasil mencuri hati gebetan gue. Iya, Kak El,” lanjutku, membuat keduanya tercengang.
“Kak El?” Ayu dan Dewi kompak menyebut nama lelaki itu.
Aku mengangguk. Mata menerawang jauh ke depan sana. Memori masa lalu terpampang nyata di benak.
“Kak El itu sahabat gue dari kecil, malah dari orok mungkin. Apa-apa bareng; makan, main, berangkat dan pulang sekolah, ngerjain PR, ngerjain tugas, ngaji. Bahkan orang tua gue ataupun fia kalau mau jalan-jalan jauh pasti ngajak satu sama lain.”
Elusan Ayu dan Dewi di punggung begitu menenangkan. Hingga tak sadar, mataku pun memanas sedari tadi. Sejak kenangan-kenangan itu masih berpijak di pikiran.
“Kita bareng itu bisa dibilang udah dari bayi. Makanya kita sama-sama punya feeling yang kuat buat saling memahami. Waktu Bunda nggak ada aja dia ikut nangis kejer, ikut kehilangan.”
Aku berhenti sejenak untuk menyeka air mata yang mulai menetes. Sekarang, aku secengeng ini. Tak tahu kenapa, setiap mengingat kebersamaan dengannya, aku merasa haru luar biasa. Entah karena lama tak saling bertatap dan menjalin kehangatan atau terlalu sakit karena pernah dikecewakan.
“Are you okay, Mir?”
Aku menanggapi pertanyaan Ayu dengan anggukan, lalu mengucap, “Gue terusin, ya.”
Mereka mengangguk menyilakan.
“Gue kira hubungan kita sebagai sahabat nggak akan pecah. Gue kira gue orang paling beruntung karena bisa deket sama siswa yang kata temen-temen SMP bilang dia cowok dingin dan kaku. Gue kira, orang yang diharapkan bisa bersanding seteleh kita dewasa adalah gue. Tapi ternyata itu sekedar khayalan. Bukan gue orangnya.”
“Terus, kalau bukan lo siapa?”
Aku tertawa keras, membuat Ayu dan Dewi saling pandang. Aku tak peduli dilihat banyak orang dan dianggap gila. Nyatanya, setelah ia pergi dari hidupku dan memilih mengejar kekasih impiannya itu, kadar kewarasanku mulai berkurang.
Aku tak masalah mereka memandang dengan tatapan sinis ketika mendapatiku sedang tertawa atau menangis tanpa sebab. Mereka tak merasakan bagaimana terlukanya menjadi aku. Tak tahu, bahkan tak akan paham sekalipun berulang kali dijelaskan; bahwa aku di sini butuh pelukan, butuh dukungan, butuh kehangatan. Seringnya, aku memeluk pundak sendiri demi mempertahankan hidup yang makin suram.
Terus mengurai tawa, hingga air mata turun tangan sebab tawa yang biasanya digunakan untuk menutup lara, kini rapuh dan sudah waktunya kembali ke tempat seharusnya ia berada.
“Kalian tahu tetangga yang akhir-akhir ini gue sebut bahwa dia kakak yang gue cari tapi belum sempet?”
Kedua kalinya, mereka hanya mengangguk dan memasang wajah tegang.
“Dialah orang yang Kak El pilih.”
“What! You seriously, Mir?” tanya Ayu. Aku mengangguk, lalu tertawa getir.
“Dia juga yang buat gue nyaris depresi. Kepergiannya membuat banyak orang nyalahin gue. Dicerca, dihakimi, dituduh, semua itu makanan yang mereka kasih sehari-hari dan gue telen mentah-mentah. Hebat, kan, gue? Padahal makan ikan salmon mentah aja gue nggak doyan. Dan itu nggak berlangsung sebentar. Gue baru masuk kelas X satu semester sampai lulus sekolah, perkataan buruk tentang gue masih berlangsung.”
Usapan di punggung sedikit menenangkanku. Setidaknya itu semua telah terlewati. Namun, sakitnya tak terlupakan. Masih terasa sampai saat ini.
“Sabar, ya, Mir. Tapi sekarang udah nggak digituin lagi, ‘kan?”
Aku menggeleng, menanggapi pertanyaan Ayu. “Udah. Fase ini paling nyaman bagi gue. Meskipun belum lama, tapi cukup mampu buat gue bangkit dari keterpurukan.”
“Alhamdulillah, kalau gitu. Kita ikut seneng,” katanya sambil menengok ke arah Dewi.
Kuseruput es teh yang masih utuh. Dinginnya air itu membasahi kerongkongan dan menghilangkan dahaga. Sayangnya, panas di hati tak bisa didinginkan dengan sebongkah es.
Ayu menggeser kurainya untuk lebih dekat denganku. “Btw, tadi lo bilang di-bully dan diperlakukan buruk begitu mulai kelas X, sampai lulus. Lah, sebelumnya anteng-anteng aja berarti?”
Dewi ikut menggeser tempat duduknya. Sepertinya mereka berdua memang ingin tahu. Sebelum menjawab dengan banyak kata, kutarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya pelan.
“Lo bener, Yu. Sebelum ada perang batin itu, hidup gue tenang-tenang aja. Adem ayem, nyaris sempurna meski tanpa Bunda.” Aku berhenti sejenak untuk mengatur emosi agar tak menangis setelah menyebut kata Bunda.
“Jadi, waktu gue kelas X, Mbak Ayuni kelas XII. Awalnya gue nolak keinginan Papa yang mau nyekolahin gue sama kakak satu yayasan. Tapi setelah tahu kalau Kak El juga sekolah di sana, gue nggak jadi nolak.”
Kuseruput kembali es teh yang tinggal setengah, lalu melanjutkan, “Papa berniat jodohin Mbak Ayuni sama orang lain. Maksudnya sama anak temennya Papa. Cowok itu padahal masih muda, udah punya rumah sendiri dan punya restoran terkenal di daerahnya. Tapi yang bikin gue bingung waktu itu, Mbak Ayunu nggak mau. Bahkan dia kabur dari rumah demi menghindari perjodohan setelah dia ribut sama Papa Mama dan itu menjelas ujian nasional. Gilak banget, kan, dia?”