Kuseruput kembali es teh yang tinggal setengah, lalu melanjutkan, “Papa berniat jodohin Mbak Ayuni sama orang lain. Maksudnya sama anak temennya Papa. Cowok itu padahal masih muda, udah punya rumah sendiri dan punya restoran terkenal di daerahnya. Tapi yang bikin gue bingung waktu itu, Mbak Ayuni nggak mau. Bahkan dia kabur dari rumah demi menghindari perjodohan setelah dia ribut sama Papa Mama dan itu menjelang ujian nasional. Gilak banget, kan, dia?”
Ayu dan Dewi mangut-mangut. Aku makin semangat bercerita.
“Gue yang waktu itu masih polos, nggak tahu apa-apa, tiba-tiba diserang sama temen-temen Mbak Ayuni. Kalian tahu mereka bilang apa?”
Kedua sahabatku hanya menggeleng.
Menerawang ke depan, aku tersenyum kecut sebelum akhirnya meneruskan. “Mereka bilang kalau gue perusak hubungan orang. Gue yang udah ngancurin hidup dan kebahagiaan Mbak Ayuni. Padahal, gue nggak ada andil pada saat dia debat sama nyokap dan bokap.”
Ayu dan Dewi langsung memelukku. Kehangatan masih terus menjalar hingga air mata keluar untuk ke sekian kalinya.
Memang siapa yang mau merasakan ini semua? Tak ada. Aku yakin, tak ada yang mau di posisiku. Aku yang tersudut, aku yang memiliki citra buruk di lingkungan tempat tinggal, aku yang tak memiliki kebaikan di mata keluarga, dan aku yang dengan segala derita.
Jika ditanya kenapa aku masih bisa bertahan sampai saat ini. Jawabannya hanya satu; diinjak-injak bukan berarti tak bisa menginjak balik. Meski tak bisa membalas bully-an mereka dengan jawaban menohok, setidaknya, sekarang aku sedang berjuang untuk membalas bully-an itu dengan kesuksesan.
“Apa dalil mereka ngatain lo perusak hubungan orang? Kan lo Cuma sebagai adik, apalagi di situ nggak ngerti apa-apa. Bukan jadi orang ketiga sebagaimana yang mereka tuduh itu.” Dewi mulai terpancing emosinya.
“Di situ harusnya gue yang lebih terluka, Wi, Yu.” Aku menoleh ke arah mereka secara bergantian. “Selama ini gue nggak tahu kalau ternyata Mbak Ayuni dan Kak El menjalin hubungan selama satu tahun lebih.”
“What! Berarti El menyembunyikan status itu dari lo, Mir?”
Kuangguki pertanyaan Ayu sebagai jawaban.
“Mereka ada hubungan spesial sejak Kak El masuk SMK. Berarti Mbak Ayuni kelas XI dan gue masih sembilan SMP. Dari selentingan yang gue denger, mereka jadian waktu acara kemah di sekolah. Saat pentas seni, Kak El main gitar, sedangkan Mbak Ayunu mengiringi dengan suaranya yang menurut gue emang bagus.”
“Mungkin itu yang membuat mereka, terutama para senior mem-bully lo, Mir. Udah pada baper sama kisah cinta sejoli itu. Nah, jadi saat mereka nggak bareng lagi, itu sesuatu yang aneh dan mereka perlu tahu penyebabnya.”
“Apalagi Ayuni kabur menjelang ujian. Mau nggak mau lo yang kena sasaran, Mir, sebagau orang terdekat di sekolahan.” Ayu menambahi ucapan Dewi.
“Loh, kan ada Kak El. Lagian, ya, gue sama Mbak Ayuni tuh bukan kayak kakak adik. Anan-anak tau aja waktu gue viral. Mending kalau viralnya positif, lah ini? Sampek telinga guru loh tentang gue ngrebut Kaj El dari Mbak Ayuni yang menyebabkan dia kabur dari rumah.”
Dadaku naik turun. Kalau sudah begini, aku tak mungkin menutup-nutupi hal yang berbau mmvak Ayuni.
“Mereka nggak tahu, gue orang yang lebih dulu deket sama Kak El. Semua temen SMP juga tahu kalau kita sahabatan. Semenjak masuk SMK dan pacaran sama Mbak Ayuni, seolah-olah hubungan persahabatan kita ditelan bumi. Apalagi Kak El yang begitu masuk SMK langsung banyak idola.”
“Terus, gimaba tanggapan lo kalau tahu satu fakta ini tentang Farel?” Pertanyaan Dewi disertai alis Ayu yang dinaik turunkan, membuatku nyaris menjebol dengan melayangkan pertanyaan.
“Farel itu banyak idolanya di kampus ini.”
What!
Di kampus ini?
Bagaimana mungkin?