Canda

1164 Kata
“Terus, gimana tanggapan lo kalau tahu satu fakta ini tentang Farel?” Pertanyaan Dewi disertai alis Ayu yang dinaik turunkan, membuatku nyaris menjebol dengan melayangkan pertanyaan. Aku tak mau mereka membaca ekspresiku dan mengira aku masih berharap dengan lelaki itu. Hm, lebih tepatnya aku gengsi. Maka, memasang wajah datar tanpa peduli dengan pertanyaan yang menjebak itu menjadi pilihanku satu-satunya. “Yakin lo nggak mau tahu, Mir?” goda Ayu, seraya menjawil-jawil daguku. “Nih, gue kasib tahu, ya.” Dewi mendekat, perasaanku makin tak keruan. “Farel itu banyak idolanya di kampus ini?” Eh? Apa? Telingaku tak banyak kotoran di dalamnya, ‘kan? Aku masih bisa mendengar dengan jelas, ‘kan? Plis, katakan kalau indra pendengaranku masih normal. “Lo pasti nggak nyangka kalau dia kuliah di sini kan, Mir?” Lagi. Jadi, aku memang tak salah mendengar. Setengah sadar, aku tertawa. Tawa tak percaya, bahagia, atau justru ... cemburu? Kak El kuliah di sini. Demi apa ia rela meninggalkan bisnis di kota kelahiran demi pendidikan di luar kota. Bukan apa, yang kuherankan adalah kenapa harus di sini. Masih banyak universitas di daerah ini. Kenapa ia memilih di sini? Akukah alasannya? Aku menggeleng-gelengkan kepala. Ah, tak mungkin. Toh, sekarang kita bukan siapa-siapa lagi. Sahabat? Hubungan itu sudah hancur bahkan sebelum aku mengetahui kedekatannya dengan Mbak Ayuni. Lantas, teman? Teman apa? Tak mungkin teman dekat apalagi teman hidup. Aku terlalu sakit untuk itu. Lalu, apa? Entah. Apa pun itu, akh tak ada hak untuk berharap bahwa alasan Kak El melanjutkan pendidikan adalah aku. Mendadak nama Mbak Yuni terlintas di benak. Kugigit bibir bawah dengan kuat. Apakah ia yang menjadi tujuan utamanya? Berpikir sejenak sembari merenung, sepertinya feeling-ku benar. “Oy!” Sentakan Ayu membuatku terlonjak dan nyaris kata ‘tidak!’ keluar dari mulutku. No, no! Aku tak boleh gegabah di depan Ayu dan Dewi. Kalau terlihat aneh, nanti mereka curiga. “Jadi, gimana? Lo cemburu nggak, Mir?” Dewi mengulangi pertanyaannya. Aku mendadak gugup. Haus mendera. Mengambil gelas di meja, sewaktu pinggir gelasnya sudah menempel di bibirku, baru sadar kalau isinya sudah kuhabiskan tadi. Buru-buru meletakkannya kembali, aku menengok ke arah Ayu dan Dewi dengan senyum kikuk. “Saking gengsinya buat ngakuin di depan kita, dia sampek rela mempermalukan diri sendiri. Ckckck. Lo malu nggak, Wi, kalah jadi Mirna?” “Enggaklah. Mana ada Mirna malu. Adanya dia yang terobsesi cinta mantan sahabatnya itu sampek malu-maluin.” Mendengar jawaban Dewi, seketika kedua sahabatku tertawa. Aku makin kesal. Kenapa setiap kalimat yang mereka lontarkan itu sering benar dan mengena? Terutama percakapan barusan; begitu menusuk, menembus hati paling dalam. Setelah tawa mereka berhenti, giliran aku yang mengeluarkan tawa. “Puas kalian ngetawain gue?” Bukan merenung dan merasa bersalah, mereka malah tertawa lagu, kali ini lebih keras hingga keduanya mengeluarkan air mata. It’s menyebalkan. Sangat mengusik ketenangan batin dan perasaan. Kutarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya kasar. Mereka memang sahabat tak ada akhlak. “Nih, ya, denger!” perintahku disela suara tawa mereka. “Nggak ada tuh rasa cemburu buat orang yang pernah ninggalin gue demi mengejar kekasih kesayangannya. Siapa gue? Sedikit pun nggak ada dan nggak akan pernah ada.” Tiba-tiba, suasana hening. Ayu dan Dewi saling menatap, kemudian berganti menatapku tanpa berkedip. Ada yang salah dengan Mirna yang manis dan baik hati ini? “Bangun, oy! Kayak nggak pernah liat bidadari aja kelen sampek nggak kedip gitu ngeliatin gue.” Jitakan Dewi di kepala, membuatku mengaduh. Enggak enak, tapi memuaskan. Aku puas membuat mereka berhenti menertawakan sesuatu yang tak seharusnya ditertawakan. Mau bagaimana lagi? Mereka memang sengklek dari lahir. “Halah. Ke-PD-an. Kita nggak lagi liat bidadari, tapi mikir, ada ya orang yang gengsinya tinggi. Bilang aja mau diseriusin atau dikasih kepastian tentang hubungannya, pakek nanya, “Siapalah aku?”. Kalau Cuma ngode begitu, cowok mana pun nggak bakalan peka. Etdah, nih bocah bikin gue pengen makan telor ceplok.” “Mirna kan gitu, Wi. Mana pernah dia bilang to the point slep pengen ini itu. Dia mah mainnya kode. Kode alam yang nggak bisa dimengerti kaum lawan.” “Gue nggak minta kepastian apalagi diseriusin. No! It’s not true. Gue Cuma bilang sesuai fakta. Lah, gue bukan siapa-siapanya, ngapain juga cemburu? Sorry to say. Sendal jepit aja nggak ada haknya, apalagi gue.” “Dih, cewek mah emang suka muter-muter. Tinggal ngomong, “Iya, gue cemburu.” Gitu aja susahnya kek minta ketemu dosen.” Kini, gantian lengan Dewi yang kucubit. Ayu hanya tertawa. Benar-benar hari yang entah. Setelahnya, keadaan menjadi sepi. Kami bertiga sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku masih syok mendengar perkataan mereka tadi. Kalau benar Kak El kuliah di sini, kok aku tak mendengar kabar apa-apa tentang cowok populer di kampus. Biasanya aku selalu update dan teman sekelas pun akan ramai membicarakannya. Akan tetapi, ini benar-benar hening. Topik yang sedang trending masih seputar X- Factor yang akhir-akhir ini menggemparkan dunia maya. Tak ada secuil pun informasi tentang lelaki itu. Semua bungkam dan hanya membahas tentang kontestan pada ajang menyanyi tersebut. Pukul 14.00 WIB, kami memutuskan pulang. Akhir-akhir ini Ayu dan Dewi sedikit sibuk, jadi untuk sementara waktu tak bisa main ke kosan. But, it no problem. Selama hubungan kami baik-baik saja, aku tak terlalu khawatir. *** Perjalanan beberapa menit dari kampus ke kos memang tak membuatku lelah. Namun, badan yang semula baik-baik saja mendadak gerah melihat sejoli itu bermesraan di depan kamar. Memang, bukan kamarku, tetapi sebelahnya. Mbak Yuni dan Bagas suap-suapan dengan mesra seolah-olah mereka sudah bersuami istri. Astagfirullah, seharusnya posisiku itu aku yang merasakannya. Apalah daya, insan biasa ini kalah cepat dan kalah menarik. Kubuang napas kasar. Ah, tak mengapa. Dengan begitu, aku bersyukur dijauhkan dari lelaki seperti Bagas. Setidaknya, tak ada yang perlu dikorbankan hanya demi terlihat romantis. “Egrhm! Cuaca mendung, tapi kayaknya ada yang kepanasan, nih, Yang.” “Iya, Yang. Perlu dibeliin es enggak?” “Jangan, Sayang. Kasih rujak aja, biar tambah gerah.” Sindiran mereka berdua saat aku sudah dekat dengan kamar, menumbuhkan emosi. Namun, sebisa mungkin kutahan. Tak ingin terjadi keributan, aku segera membuka pintu, lalu menutupnya sedikit keras. Biar saja, aku tak peduli mereka terganggu. Toh, mereka lebih dulu mengusikku. Melihat kertas berisi catatan utang Mbak Yuni di meja, aku meraihnya dengan senyum mengembang. Selesai menutup pintu, aku melangkah pasti menuju tempat Mbak Yuni dan kekasihnya duduk. “Hai, Mbak!” Mula-mula mereka kaget, terutama Mbak Yuni. Dipikir aku akan marah dan terjadi jambak-jambakan? Oh, itu cara kuno dan terlalu lazim menurutku. “Kesambet apa lo? Sok manis di depan kita. Mau godain Bagas? Hah!” Mbak Yuni bangkit. Pas sekali. Aku tak perlu membungkukkan badan untuk memberinya surat cantik berisi tagihan yang kupegang. “Gue, godain Bagas?” Aku tertawa lebar. “Di dunia yang luas ini kayak nggak ada cowok setia aja.” Belum sempat menyentuhku, pergelangan tangan Mbak Yuni sudah lebih dulu kucekal. Ia tampak kesal. Setelah sedikit kesakitan, kulepaskan dengan kasar. Menyodorkan kertas yang kugenggam, aku berkata, “Lunasin utang dulu, baru boleh manas-manasin gue!” Setelah memberikan senyuman paling manis, aku berbalik badan penuh kemenangan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN