Maksudnya Apa?

815 Kata
“Kamu nggak lagi sibuk, kan, Mir?” tanya Kak El melalui sambungan telepon w******p. “Enggak. Ada apa, Kak?” Aku balik bertanya. Akhir-akhir ini, kami sering bertukar kabar. Saling bertanya dan saling menyemangati. Meskipun chat sebatas menanyakan kesibukan atau aktivitas apa yang sedang dilakukan. Namun, telepon dua kali dalam seminggu menjadi rutinitas baruku. Tak ada kabar tiga hari pun hati terasa kosong. “Aku mau ngomong sesuatu.” Suara di seberang sana membuatku mengernyit. Biasanya Kak El tak akan basa-basi kalau ada yang perlu dibicarakan, tetapi kali ini tidak. Hawa dingin udara pagi, mendadak berubah panas meski cuaca di luar sana sedang mendung. Sepertinya aku membutuhkan kipas. Gerah sekali. “Mir?” “Eh, i–iya, Kak?” Bisa-bisanya aku malah sibuk sendiri dengan degupan jantung yang makin tak tahu diri. “Aku mau ngomong sesuatu sama kamu. Tapi nggak di telepon. Sore nanti ada kesibukan nggak?” Sore? Aku langsung tak bisa berpikir. Aku ada kesibukan apa, ya? Haish, kenapa blank begini? Ingat, Mirna, dia hanya bertanya ada kesibukan atau tidak bukan bertanya siap menjadi tulang rusukku atau tidak. Hish! Jadi melebar ke mana-mana pikiranku. “Gimana, Mir?” Aku terkesiap. Sebelum ia menunggu lama, aku menjawab, “Nanti sore nggak ada kesibukan. Kenapa, Kak?” “Serius?” “Iya.” “Oke. Aku tunggu di gazebo alun-alun sebelah utara jam 4 nanti, ya.” Hati berdebar hebat. Mulut pun menganga, tak percaya mendengar ajakannya untuk ketemuan. “Diam berarti setuju. Ok, see you later. Don’t forget, jam 4. Assalamu’alaikum.” Belum sempat menjawab salam, telepon dimatikan. Namun, detak jantung masih aktif. Kucubit pipi berkali-kali, ternyata sakit. Berarti, barusan itu kenyataan? Ah, tetapi seharusnya aku biasa saja. Tak usah merasa menjadi wanita paling berharga. Toh, ia hanya masa lalu yang tak ada jaminannya akan menjadi masa depan. Namun, hatiku justru menolak persepsi itu. Seperti tak terima dan malah seolah-olah mengatakan, “Bagaimana kalau masa lalu itu menjadi masa depan?” Hadeh, pikiran apa lagi ini? Mengada-adanya terlalu tinggi. Selepasnya, aku hanya bisa senyum-senyum sendiri, persis orang gila. Orang gila saja kadang lupa rasanya mencintai. Menggeleng kuat, aku tersentak. Hei, Mirna masih waras kali. Sekalipun pernah disakiti Bagas karena menaruh harapan lebih, tetapi sekarang aku sudah move on. Meski lukanya masih membekas di d**a. Suara rintik hujan di genting, membuat suasana makin syahdu. Hari ini aku tak ada jadwal kuliah. Masih sepagi ini juga, Ayu dan Dewi sudah sibuk mengemasi barang untuk pulang. Rencana, mereka akan di rumah sekitar satu minggu. Aku sempat curiga dan bertanya-tanya, kenapa bisa kompak seminggu dan di waktu yang sama. Ternyata memang mereka merencanakan itu karena sama-sama mau bolos kuliah. Punya sahabat yang kadang konyol itu harus sering mengelus d**a dan beristigfar. Meski begitu, aku sangat bersyukur bertemu dengan mereka. Hujan makin deras, sedangkan aku tak ada kesibukan apa-apa. Aktivitas catat mencatat orderan pun sudah kulakukan tadi setelah subuh. Sekarang masih jam 7, apakah aku perlu melanjutkan tidur? Ah, sepertinya tak apa. Jam 4 masih lama. Membuka lipatan selimut yang tadi sudah kurapikan, kini kugunakan untuk menyelimuti tubuh yang sudah terbaring, lalu mulai memejamkan mata. *** Gamis biru langit dengan jilbab pashmina lebar telah membalut tubuhku. Polesan mekap tipis-tipis, membuatku makin percaya diri untuk bertemu dengan Kak El. Tas kecil berwarna coklat s**u telah kupegang. Setelah mengunci pintu kamar, aku berjalan menuju alun-alun. Debar yang semula tak ada, kini muncul lebih kencang daripada tadi pagi. Makin dekat dengan gazebo, makin gemetar pula langkah kaki yang beralas sepatu ket. Melihat lelaki yang tengah duduk di salah satu gazebo, aku makin gugup. Padahal, hanya punggungnya yang bisa kutatap, tetapi berasa aku telah memiliki hatinya. “Assalamu’alaikum,” sapaku, membuatku menengok seraya tersenyum. Maa syaa Allah. Baru disenyumin, serasa dihalalin. Eh. “Wa’alaikumussalam. Duduk, Mir!” Aku menuruti perintahnya. Duduk di depannya yang terhalang meja kecil. Sambil melepas tas di pundak, aku berusaha menenangkan getaran di d**a. “Minum dulu!” Sebotol air putih diletakannya di meja. “Kamu kayak habis dikejar-kejar, ngos-ngosan gitu.” Aku menggaruk kepala yang tak gatal. Melirik ke arahnya dengan perasaan entah. Akhirnya, kuputuskan mengambil botol tersebut, kemudian meminum airnya hingga setengah. Semoga saja Kak El tak membatin yang tidak-tidak tentangku. Setelah cukup lama saling diam, Kak El mulai memecah kesunyian. “Aku mau ngomong sesuatu, Mir. Ini serius, jadi, jangan dianggap bercanda.” “Just say it.” Lelaki berkaus putih itu menarik napas panjang, sebelum akhirnya berkata, “Are you ready to be my life partner?” Aku terkesiap. Waktu seakan-akan berhenti dan degup jantung makin tak tahu diri. Badan terasa kaku, tangan gemetar, aku merasakan lancarnya keringat mengalir di pelipis. Apakah barusan bentuk ajakan? Pertanyaan? Penawaran? Atau kepalsuan? “Mirna, i repeat. Will you marry me?” What! Oh, Ya Allah. Hilangkan hamba seketika. Pipiku terasa panas. Balsem pun masih kalah jauh panasnya. What should i say? While the question is definitely not able to answer with the word ‘no’.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN