Jawaban

293 Kata
“Mirna, i repeat. Will you marry me?” What! Oh, Ya Allah. Hilangkan hamba seketika. Pipiku terasa panas. Balsem pun masih kalah jauh panasnya. What should i say? While the question is definitely not able to answer with the word ‘no’. “Do you hear me, Mir?” Aku terkejut. Namun, buru-buru memasang wajah tenang. “Emm, aku .... Aku belum bisa jawab sekarang.” “Oke. Aku tunggu jawabannya.” Selepas itu, kami menjadi canggung. Obrolan pun begitu kaku. Seperti orang asing. Entah aku yang terlalu gugup atau ia yang kecewa. “Udah mau maghrib, aku pulang dulu, Kak,” pamitku seraya bangkit. “Silakan. Don’t forget buat memutuskan. Hati-hati, Mir.” Aku yang sudah berdiri dan memunggunginya, hanya mengangguk. Lalu, berjalan menuju kos. *** “Farel ngajak lo nikah?” Tawa Ayu dan Dewi pecah. Melalui video call, kami saling terhubung. Mereka ini bagaimana? Aku meminta solusi malah dikasih tertawaan. “Lo nggak lagi bikin cerita fiksi kan, Mir?” tanya Ayu, antara percaya dan menyindir. “Gilak, ah. Mana mungkin gue buat cerita fiksi kayak gitu. Ya, beneranlah. Kemaren dia ngajak ketemuan di alun-alun, ternyata buat ngomong itu. Gue shock. Kalau langsung diterima, apa kata semesta kalau gue nerima mantan? Masak iya sampah yang udah dibuang dipungut lagi? Kalau nggak diterima ....” Aku sengaja menggantung kalimat. “Kalau nggak diterima?” Kompak mereka bertanya. “Ya, gue ....” “Sebenernya lo masih ada rasa kan sama dia, Mir? Kenapa ragu buat bilang, “Ya, aku mau menikah denganmu.” Hadeh, pakek segala drama belum bisa jawab.” Haish. Dewi memang jagonya kalau suruh julid. Tapi, kenapa aku malah senang, ya? Sedikit pun tak ada emosi atau jengkel. Hah! Apakah yang dikatakan sahabatku itu adalah isi hatiku?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN