Minggu Depan?

394 Kata
“Sebenernya lo masih ada rasa kan sama dia, Mir? Kenapa ragu buat bilang, “Ya, aku mau menikah denganmu.” Hadeh, pakek segala drama belum bisa jawab.” Haish. Dewi memang jagonya kalau suruh julid. Tapi, kenapa aku malah senang, ya? Sedikit pun tak ada emosi atau jengkel. Hah! Apakah yang dikatakan sahabatku itu adalah isi hatiku? *** Tiga hari telah berlalu. Rasanya sangat cepat bahkan 24 jam serasa dua jam. Kata Ayu dan Dewi, itu hanya perasaanku yang terlalu memikirkan jawaban. Ah, iya. Kak El hanya memberiku 72 jam untuk berpikir dan memutuskan bagaimana jawabanku atas pertanyaannya sore itu. Sebenarnya dia meminta jawaban atau menagih utang teman? Pakai tenggat hari segala. Di sini, di taman kota yang penuh pengunjung, aku menunggu sosok lelaki yang nyaris setiap bertemu membuat jantungku kelimpungan. Kami ada janji pukul 15.3p, tetapi aku sengaja berangkat lebih awal supaya bisa mengatur debaran agar nanti tak kejar-kejaran. “Assalamu’alaikum.” Baru saja dipikirkan, ternyata ia sudah berdiri di belakang dengan senyum manisnya. Parahnya lagi, Kak El sangat cocok mengenakan setelan kaus hitam dilapisi baju levis yang membuat kegantengannya meningkat 40%. Oh, Mirna, jangan sampai kamu grogi lagi. “Wa’alaikumussalam. Duduklah, Kak!” Aku berhasil menjawab dengan tenang, meski degupan jantung tak keruan. “Sorry, aku membuatmu menunggu.” Aku tersenyum, lalu menjawab, “No problem. Aku sengaja berangkat awal soalnya takut keburu hujan.” Lelaki berkulit putih itu hanya mangut-mangut. Suasana kembali asing. Sama seperti saat kita bertemu beberapa hari yang lalu di alun-alun. “Gimana jawabanmu, Mir?” Aku tersentak. Namun, aku berusaha tetap tenang. Belum sempat menjawab, Kak El sudah lebih dulu bertanya kedua kalinya. “Mir, i repeat. Will you marry me?” Telapak tanganku basah. Keringat telah mengalir di seluruh tubuh yang bisa kurasakan tetesannya. Oh, apakah cuaca kota sepanas ini? Padahal, langit sedang menampakkan ketidaksahabatan. Baiklah, aku tak ingin mengulur waktu. Kutarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya pelan. k****a basmalah dalam hati, lalu membalas, “Aku ... willing to marry with you.” Setelah mengatakannya, pipiku memanas. Dunia serasa berbeda. Situasi makin hening dan aku tak tahu harus bagaimana. Oh Tuhan, apakah begini rasanya menjawab pinangan seseorang? “Are you serious, Mir?” Aku mengangguk mantap. Bibirnya diterik ke samping. Ia tersenyum lebar. Ah, semoga pulang nanti aku tak diabetes. “Oke. Minggu depan aku datang ke rumah untuk memintamu pada papamu.” Hah! Minggu depan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN