Friday?

427 Kata
“Oke. Minggu depan aku datang ke rumah untuk memintamu pada papamu.” Hah! Minggu depan? Aku melongo. Minggu depan itu maksudnya hari Minggu atau hari tertentu pada pekan depan? Ah, peduli apa tentang waktu? Getaran di d**a saja terabaikan oleh perhatianku pada Kak El yang setelah mengatakan kalimat itu auranya makin terpancar. Hah! No! Semesta akan berkata apa kalau sampai aku menikah sama mantan sahabat? Namun, aku harus bagaimana lagi? Telanjur menerima tawarannya. Tak mungkin ditarik kembali. Aku menjadi sedikit menyesal. Mengapa terlalu cepat mengambil keputusan? Ayu, Dewi, dan Papa juga bukannya memberi alasan aku harus menolak lelaki itu, mereka malah mendukung secara terang-terangan. Dari yang kurasa, Papa terpengaruh pernyataan kedua sahabat tengilku itu. Mereka mengatakan bahwa sejak kedatangan Kak El ke sini, aku menjadi makin rajin beribadah. Padahal, mereka Cuma tahu jadwalku saja, tidak dengan aktivitas ibadah. Meng-hadeh-kan memang. Tam hanya itu, Ayu dan Dewi juga bilang semenjak aku dekat dengan mantan sahabat itu, mereka menjadi tenang saat aku ditinggal sibuk dengan kesibukan masing-masing. Keduanya percaya kalau Kak el akan menjagaku. Kenyataannya? Aku merasa biasa saja. Sama seperti kemarin-kemarin. Hanya saja setiap minggunya ada obrolan di tengah sunyinya malam beberapa waktu. Tetapi, tetap saja apa yang mereka nyatakan kepada Papa itu berlebihan. Ya, meski begitu, aku tak bisa menyangkal. Ayu dan Dewi tak mungkin seperti itu kalau mereka tak mengenal sosok yang katanya akan ke rumahku minggu depan itu. “Mir!” Aku terlonjak. Saking kagetnya, HP yang semula kupegang, terjatuh seketika. Aku buru-buru mengambil, lalu duduk kembali. “Lain kali, hati-hati!” “I–iya, Kak.” Aku menjawab dengan kikuk. “Gimana, tadi? Kamu nerima lamaranku, ‘kan?” “Lamaran?” Kak El mendadak menggaruk kepalanya yang kuyakini tak gatal. “Eh, maksudku kamu nerima aku buat mempersunting kamu. Ah, belibet. Itulah intinya. Kamu bersedia jadi istriku kan? Jadi, siap nggak kalau aku melamar kamu hari Jumat minggu depan?” Hah?! Apa lagi ini? Semua terlalu mendadak. Bahkan aku sendiri tak tahu menerima dia sepenuhnya atau belum. Namun, aku tak mungkin bilang tidak, ia pasti sudah membicarakan hal sepenting ini dengan Papa. Apalagi Kak El dekat dengan keluargaku, tak mungkin ia ditolak. “Mir? Gimana?” Jalan satu-satunya adalah menguatkan keyakinan. Hanya bisa berdoa dan berharap, semoga ini yang terbaik yang Allah takdirkan. Toh, tak ada larangan menikah dengan mantan sahabat. Jadi, baiklah, aku akan berusaha yang terbaik untuk hidupku sendiri. Termasuk dalam perubahan status. Kali ini, kutarik napas dalam-dalam ke sekian kalinya, lalu menjawab, “Aku terserah kamu aja, Kak.” “Yakin?” Aku mengangguk mantap. “Yakin.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN