Kenyataannya? Aku merasa biasa saja. Sama seperti kemarin-kemarin. Hanya saja setiap minggunya ada obrolan di tengah sunyinya malam beberapa waktu. Tetapi, tetap saja apa yang mereka nyatakan kepada Papa itu berlebihan.
Ya, meski begitu, aku tak bisa menyangkal. Ayu dan Dewi tak mungkin seperti itu kalau mereka tak mengenal sosok yang katanya akan ke rumahku minggu depan itu.
“Mir!”
Aku terlonjak. Saking kagetnya, HP yang semula kupegang, terjatuh seketika. Aku buru-buru mengambil, lalu duduk kembali.
“Lain kali, hati-hati!”
“I–iya, Kak.” Aku menjawab dengan kikuk.
“Gimana, tadi? Kamu nerima lamaranku, ‘kan?”
“Lamaran?”
Kak El mendadak menggaruk kepalanya yang kuyakini tak gatal. “Eh, maksudku kamu nerima aku buat mempersunting kamu. Ah, belibet. Itulah intinya. Kamu bersedia jadi istriku kan? Jadi, siap nggak kalau aku melamar kamu hari Jumat minggu depan?”
Hah?!
Apa lagi ini? Semua terlalu mendadak. Bahkan aku sendiri tak tahu menerima dia sepenuhnya atau belum. Namun, aku tak mungkin bilang tidak, ia pasti sudah membicarakan hal sepenting ini dengan Papa. Apalagi Kak El dekat dengan keluargaku, tak mungkin ia ditolak.
“Mir? Gimana?”
Jalan satu-satunya adalah menguatkan keyakinan. Hanya bisa berdoa dan berharap, semoga ini yang terbaik yang Allah takdirkan. Toh, tak ada larangan menikah dengan mantan sahabat. Jadi, baiklah, aku akan berusaha yang terbaik untuk hidupku sendiri. Termasuk dalam perubahan status.
Kali ini, kutarik napas dalam-dalam ke sekian kalinya, lalu menjawab, “Aku terserah kamu aja, Kak.”
“Yakin?”
Aku mengangguk mantap. “Yakin.”
“Makasih, Mir. Kali ini aku akan berusaha menjaga kamj lebih keras lagi. Bidadari yang dulu aku tinggali demi batu kalu, teryata bener-bener tulus.”