Rindu yang Menyeruak

951 Kata
Bab 22 Kak El mendadak menggaruk kepalanya yang kuyakini tak gatal. “Eh, maksudku kamu nerima aku buat mempersunting kamu. Ah, belibet. Itulah intinya. Kamu bersedia jadi istriku kan? Jadi, siap nggak kalau aku melamar kamu hari Jumat minggu depan?” Hah?! Apa lagi ini? Semua terlalu mendadak. Bahkan aku sendiri tak tahu menerima dia sepenuhnya atau belum. Namun, aku tak mungkin bilang tidak, ia pasti sudah membicarakan hal sepenting ini dengan Papa. Apalagi Kak El dekat dengan keluargaku, tak mungkin ia ditolak. “Mir? Gimana?” Jalan satu-satunya adalah menguatkan keyakinan. Hanya bisa berdoa dan berharap, semoga ini yang terbaik yang Allah takdirkan. Toh, tak ada larangan menikah dengan mantan sahabat. Jadi, baiklah, aku akan berusaha yang terbaik untuk hidupku sendiri. Termasuk dalam perubahan status. Kali ini, kutarik napas dalam-dalam ke sekian kalinya, lalu menjawab, “Aku terserah kamu aja, Kak.” “Yakin?” Aku mengangguk mantap. “Yakin.” “Makasih, Mir. Kali ini aku akan berusaha menjaga kamu lebih keras lagi. Bidadari yang dulu aku tinggali demi batu kalu, ternyata bener-bener tulus. I can see. Kamu jelas lebih baik dari dia dan aku akan menyesal selamanya kalau sampai menyia-nyiakan kamu kedua kalinya.” Aku terpaku menatap mata Kak El yang terlihat begitu tulus. Ditambah kalimat terakhirnya yang seketika mengobrak-abrik perasaan. “Mir, maaf.” “For?” “Semuanya.” Aku mengernyitkan dahi. “Semua?” “Ya, aku minta maaf. Atas semuanya. Entah itu kesalahan kecil atau besar yang aku sengaja atau nggak. I know, kamu sangat sakit. Tapi, beri aku kesempatan untuk menyembuhkan luka itu.” Aku kehabisan kata-kata. Untuk sekadar menjawab iya pun tak bisa. Kak El yang beberapa bulan lalu hadir sebagai masa lalu yang mengesalkan, sekarang berubah menjadi masa depan yang mencengangkan. “Kamu mau kan ngasih aku kesempatan kedua kali untuk menjadi obat laramu?” Tak ada salahnya memberi kesempatan lagi, bukan? Kesalahan Kak El tak fatal, maka dengan tarikan bibir pada kedua sudut, aku mengangguk. “Aku Cuma nggak mau kejadian itu terulang lagi.” “Nggak akan.” “Tapi nggak ada yang nggak mungkin, Kak.” “Tatap mataku!” Dengan ragu, aku menatap matanya. “Aku nggak akan membiarkan bidadari sepertimu merasakan luka yang sama. Kamu berhak bahagia, maka dengan sekuat tenaga, aku akan berusaha membahagiakanmu dengan cara apa pun yang kubisa. Dengar, Mir?” “Really?” Ia mengangguk. “Ya. Aku nggak main-main.” Ah, siapa yang tak berbunga-bunga? Diberi janji kebahagiaan, diberi jaminan nyaman, dan yang jelas diberi kepastian. Aaa, mimpi apa kamu semalam, Mirna? Apakah pangeran berkuda yang pernah dimimpikan itu adalah dia? Lelaki yang saat ini ada di hadapan dan akan menemui orang tua untuk memintamu menjadi pendamping hidupnya. *** Setelah makan di warung mi ayam dekat dengan taman kota, aku dan Kak El memutuskan untuk pulang. Awalnya ia memaksaku pulang bersama, tetapi langsung kutolak. Bagaimana bisa aku berboncengan dengannya? Sementara jantung masih sedang tidak baik-baik saja. Aku hanya belum siap menerima serangan debar yang lebih parah saat nanti di dekatnya. Akan tetapi, beruntungnya Kak El di telepon temannya karena ada sesuatu yang mendesak. Aku bisa bernapas lega. Beberapa menit kemudian, ia mengantarku sampai jalan raya untuk menghadang angkot menuju kos-kosan. Jarak yang ditempuh sekitar 20-25 menit, jadi aku masih punya banyam waktu untuk istirahat mengingat sekarang masih jam setengah dua belas. *** Aku baru saja merebahkan tubuh di kasur. Namun, teriakan Mbak Yuni dari luar disertai gedoran pintu membuatku bangkit, menyambar jilbab di gantungan, lalu bergegas membuka pintu. Saat pintu terbuka, aku sedikit terlonjak dengan berdirinya perempuan berjilbab merah itu tepat di hadapan. Tumben memakai jilbab. Apakah ia sudah mendapat hidayah, lalu bertobat? Ah, peduli apa. Bisa jadi ia hanya memakai penutup kepala itu karena mau pergi. Namun, tak dapat kupungkiri, ada sesuatu yang bersemayam di hati. “Ngapain senyum-senyum ngliatin gue? Jangan bilang lo naksir.” Aku terkejut, tetapi buru-buru memasang wajah datar. “Enak aja. Gue masih normal kali. Lagian sebentar lagi gue mau nikah, ngapain juga suka sama sesama jenis.” “What! Bocil kayak lo udah ada niatan nikah. Nggak salah nih kuping gue?” Ia memajukan badan, lalu menunjukkan sebelah telinganya padaku. Aku melipat tangan di depan perut. Menyenderkan punggung di pintu, sesaat kutatap matanya yang penasaran. Satu ide terlintas di benak. Baiklah, memberinya hawa panas sedikit boleh, kan ya? “Emang kenapa? Gue nggak mau aja jadi durhaka sama orang tua gegara nolak perjodohan. Apalagi yang mau dijodohin itu cowok ganteng, soleh, kaya, royal, baik hati bener deh. Ya, kalau gue jadi kakak gue, lulus sekolah juga bakal langsung nerima lamarannya.” Aku berkata panjang lebar. Seketika Mbak Yuni mendadak diam seribu bahasa. Tak ada cemoohan, tak ada ejekan, tak ada apa-apa. Ia hanya diam sembari menunduk dalam. Aku tak tahu apa artinya. Apakah ia menyesal karena waktu telah menolak perjodohan? Ia memilih kabur ketimbang berbakti kepada orang tua. “Ya, sorry kalau gue malah jadi curhat. Gue cuma nggak mau aja berlama-lama ngasilin dosa, sedangkan jalan menggapai pahala itu udah di depan mata.” Tak ada reaksi apa pun dari Mbak Yuni. Ia hanya mengangkat wajah sebentar, lalu dibuang ke samping. Melihat itu, aku menjadi merasa bersalah. Ah, tetapi untuk apa? Toh, kalaupun ia tersindir juga tak mengapa. Kalau tidak, ya bersyukur, setidaknya ia tak baper. Aku menarik napas dalam, lalu mengembuskannya pelan. Mendekat ke arah Mbak Yuni, kupegang pundaknya lalu berkata, “Meskipun Mbak Yuni cuma tetangga kos sekaligus orang yang udah kayak kakak sendiri, aku minta doa restunya, Mbak.” Seketika, seperti ada yang nyeri di hati. Mataku menghangat. Ingin sekali berhambur ke pelukannya, tetapi itu tak mungkin. Meski aku rindu, sangat rindu dengan kebersamaan kami dulu. Tak ingin ketahuan kalau cairan bening telah menetes, aku buru-buru masuk dan menutup pintu rapat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN