Jika Jumat kemarin aku masih disibukkan tugas kuliah, orderan yang makin meningkat, dan rutinitas lain bersama sahabat, kini aku sibukkan dengan satu hal. Hanya satu, tetapi menguras tenaga, pikiran, juga ... perasaan.
Aku hanya boleh duduk manis, sedangkan para rewang sudah stand by di dapur dengan segala keriwehannya. Bunyi pisau dan talenan yang beradu, solet dan wajan yang saling terbentur, juga suara orang-orang yang kadang terdengar berteriak, mengobrol, dan berbisik.
Aku sangat ingin terjun ke lapangan. Mengingat mereka tak membolehkan, maka aku hanya bisa diam sembari menatap sekitar.
“Mir!”
Aku terkejut, lantaran Mbak Yuni menepuk bahuku. Ah, dia. Kini tinggal kebahagiaan yang kuraup. Ia sudah mengakui aku sebagai adiknya. Tentu gengsi dan egonya berkurang setelah waktu itu aku meminta restunya untuk menikah lebih dulu.
“Duduk, Mbak.”
Mbak Yuni mengangguk, lantas duduk di kursi depanku yang terhalang meja kecil. Ia menatapku dalam, lalu berkata, “Gue bener-bener minta maaf ya, Mir. Selama ini ngrepotin lo terus. Harusnya gue menjaga lo, tapi malah lo yang menjaga gue.”
“Udah, Mbak. Nggak usah mikirin itu lagi. Kan kemarin gue udah bilang udah maafin lo jauh-jauh hari.”
“Thanks, ya. Gue emang gengsian orangnya. Tapi apa yang lo katakan selama ini ada benernya. Hal buruk yang gue lakuin itu Cuma nyusahin diri sendiri.”
Aku mengangguk, membenarkan perkataannya.
“Mir.” Dipegangnya tanganku, lalu ia melanjutkan, “gue merestui hubungan kalian. Gue rela lo langkahin. Anggep aja sebagai tebusan selama ini gue udah berbuat yang nggak baik sama lo. Ah, tapi gue sadar, ini nggak berarti apa-apa. But, mulai sekarang gue akan mencoba lebih baik, termasuk menjaga lo.”
Mataku menggenang. Entah perasaan bahagia apa lagi yang kurasa sekarang ini.
Terima kasih, Allah. Dengan mudah Engkau membolak-balikkan hati kakak yang selama ini ada rindu menyelusup di hati.
Dering ponsel membuatku dan Mbak Yuni terkejut. Setelah sama-sama melihat nama yang tertera di layar, kami saling melempar senyum.
“Pagi-pagi udah ditelpon calon. Hadeh, gerah gue. Pergi aja dah, daripada ganggu.”
“Appan, sih, Mbak.”
Kucubit lengannya, tetapi senyum tak bisa pudar. Setelah agak menjauh dari kerumunan, aku mengangkat telepon dari Kak El.
“Assalamu’alaikum, calon istri. Jangan lupa sarapan biar nanti malam nggak pingsan. Oh ya, tidur nyenyak kan semalam? Jaga kesehatan ya. Jaga hati juga.”
Suara di seberang sana ... berhasil mengembang kempiskan dadaku. Seketika, pipi terasa panas. Andai bisa, aku ingin menghilang sekarang juga. Bukan karena malu, aku tak bisa terus-menerus menahan gejolak rasa yang makin tumbuh subur di dalam jiwa.
Kak El, mampukah aku berpaling darimu? Sementara hati ini tak bisa berbohong bahwa kau adalah cinta sejati.