Telepon Serius

576 Kata
“Assalamu’alaikum, calon istri. Jangan lupa sarapan biar nanti malam nggak pingsan. Oh ya, tidur nyenyak kan semalam? Jaga kesehatan ya. Jaga hati juga.” Suara di seberang sana ... berhasil mengembang kempiskan dadaku. Seketika, pipi terasa panas. Andai bisa, aku ingin menghilang sekarang juga. Bukan karena malu, aku tak bisa terus-menerus menahan gejolak rasa yang makin tumbuh subur di dalam jiwa. Kak El, mampukah aku berpaling darimu? Sementara hati ini tak bisa berbohong bahwa kau adalah cinta sejati. “Hei? Kok diem?” Suara dari telepon, menyadarkanku dari lamunan. “Eh, wa’alaikumussalam. Iya, udah sarapan kok.” “Udah jaga hati belum?” Astagfirullah. Ia gemar sekali mengajak jantungku berolahraga. Tak ingin ditanya kedua kali, aku menjawab, “Udaaah. Kalau aku nggak jaga hati mana mungkin sampai sekarang masih setiap menjomblo.” “Tapi kan sekarang udah ada calon suami.” “Kan masih calon, belum beneran.” “Sabaaar. Sebentar lagi nggak cuma jadi calon, kok.” Eh! Sejenak, aku tertegun. “Se–sebentar itu kapan?” Dari sini, aku bisa mendengar tawanya yang nyaring. Bukan ikut tertawa dan rileks, aku justru menunggu dengan harap-harap cemas. “Kak!” Tawanya berhenti. Kini, berganti hening yang membuatku makin tak bisa mengendalikan gugup. “Ehm!” Ia berdehem, lalu kudengar tarikan napasnya untuk bersiap mengucapkan sesuatu. “Kita tentukan nanti malam, ya. Diskusikan sama keluarga. Emm, kamu maunya cepat atau lama?” Mendengar itu aku terbatuk-batuk. Apakah harus semenderita ini menjadi calon pengantin? Bukan fisik yang terluka, tetapi hati yang selalu terbawa suasana. “Halo. Is my future wife still there?” Aku berusaha tetap tenang meski jantung berdegup kencang. “Ya. I’m here.” “So? Mah cepat atau lama, Mir?” Aku berpikir sejenak, kemudian menjawab, “If it can be fast, kenapa harus lama?” Tawa kecil di sana, menularkan senyum padaku. “Oke. How about next month?” “Next month?” Yang benar saja? Kami akan melangsungkan pernikahan bulan depan. Cepat sekali rasanya. Berarti persiapanku hanya sekitar tiga minggu, berhubung sekarang masih awal bulan. Hei! Dia cuma bilang bulan depan, bukan awal bukan. Aku menepuk jidat sendiri lantaran terlalu cepat mengambil keputusan. “Atau mau bulan ini?” Aku gelagapan. Pasalnya maslah tadi belum terselesaikan dalam otakku, kini ditambah pertanyaan yang sukses memacu kerepotan degup. Akhirnya, aku mencari jawaban paling aman. “Emm, sebaiknya kita diskusikan antar keluarga aja ya, Kak. Aku nggak bisa mutusin kapan, takutnya salah.” “Tapi nggak kepaksa, ‘kan?” Dahiku mengkerut. “Kepaksa apa?” “Nerima lamaranku dan nanti menikah.” “Kak El lupa? Aku berusaha untuk nggak munafik pada hal apa pun.” Lagi, suara tawanya benar-benar menggemaskan. “Iya, I know.” Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “kamu akan melakukannya kalau kamu senang, dan sebaliknya. Jangan berpikir aku lupa lantaran kita nggak bareng-bareng lagi ya, Mir. Mungkin kita memang cuma mantan sahabat kecil, tapi sebentar lagi akan menjadi suami istri.” Aku meneguk ludah susah payah. “Mir, mulai sekarang, kamu adalah orang yang sangat penting dan berharga di hidupku. Who and whatever makes you hurt, aku nggak akan tinggal diam therefore.” Tak bisa berkata-kata. Seakan-akan mulutku terkunci. Jangankan membantah, membalas meski hanya dengan satu kata pun tak sanggup. “I want us to have no secrets.” “Aku nggak merahasiakan apa pun, Kak.” “I know. Makanya aku nggak mau kita menyembunyikan sesuatu satu sama lain.” “I will try for it.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN