Jadi Datang?

474 Kata
Baiklah, mulai sekarang aku juga harus menganggap Kak El sebagai orang penting. Mau tak mau harus mau. Seandainya tak diminta pun aku sudah menganggapnya sebagai orang paling berharga di hidupku. Tentu selain keluarga dan sahabat. Setelah mengobrol beberapa menit, akhirnya telepon kumatikan. Bukan tak rindu, aku hanya ingin menjaga jantung agar tetap sehat. Bayangkan jika sering bersamanya, bagian tubuh yang menjadi pusat peredaran darah milikku tak akan bisa bekerja dengan baik. Matahari kian naik. Aku segera masuk rumah dan mengistirahatkan diri. Bagaimana mungkin malam penting yang akan dilalui nanti, mataku malah tak bersahabat karena kurang tidur. Membayangkannya saja sudah ngeri. Bukan takut dengan muka sendiri, aku hanya tak ingin ditegur oleh calon suami. Uhuk! Baru saja akan membuka pintu kamar, suara laki-laki membuatku berbalik badan. Ah, papa. Beliau berjalan mendekat sambil tersenyum. “Terima kasih sudah menjadi anak Papa yang baik hati, Sayang. Sudah saatnya cinta yang lain yang bergantian menjagamu. Papa merestui, berbahagialah dengan lelaki pilihanmu itu.” Aku terenyuh. Sungguhkah ini Papa yang kemarin-kemarin sedingin es batu? Mataku tak tahan lagi untuk tidak meneteskan air yang sejak tadi kedatangannya menggenang di pelupuk. Tanpa kata, kurengkuh tubuhnya dengan tangis pilu. Aku senang, ada tulang punggung yang mau serius dan berniat menjagaku. Sisi lain, apakah aku mampu lepas dari perhatian cinta pertama? Meski kasihnya tak tampak, meski sayangnya tak terlihat, meski perhatiannya kecil, meski tak sedekat charger dan hand phone. Papa, kau tetaplah cinta pertama walau sering menoreh luka. “Papa minta maaf, selama ini telah mengabaikanmu. Menikahlah dengan sahabat kecilmu itu, Papa bisa melepas dengan tenang kalau kamu bersamanya. Papa yakin, dia bisa membuatmu bahagia. Nggak seperti papamu ini yang nggak bisa menjaga mamamu, dulu.” “Papa, jangan begitu. Bagaimanapun, Mirna nggak akan bisa tanpa Papa.” Kulepas pelukan, menatap matanya yang sudah basah, kemudian melanjutkan, “Mirna minta maaf, selama ini belum bisa berbakti dan sering ngrepotin Papa. Bahkan uang kuliah pun masih minta. Minta makasih banget, walaupun jarang diperhatikan, tapi Papa nggak pernah lupa akan kewajiban sebagai seorang ayah dan selalu mengerti kebutuhan Mirna. Love U, Pa.” “Love U too, Nak. Papa sayang Mirna. Istirahatlah, nanti malam kamu harus fresh dan pastinya tampil cantik di depan calon suami.” Mendengar godaan Papa, kucubit lengannya dengan gemas. Lalu, buru-buru pamit ke kamar sebelum mendengar godaan yang lebih parah. *** “Maksud dan tujuan saya beserta keluarga datang ke sini, saya ingin meminta izin kepada Bapak dan Ibu untuk melamar putri Bapak dan menjadikan dia istri saya. Saya akan berusaha sekuat tenaga untuk menjaga, membahagiakan, dan memenuhi kebutuhan lahir batinnya.” Tiada kalimat selain hamdalah yang bisa kuucapkan sekarang ini. Kak El benar-benar lelaki gentle. Ia membuktikan semua ucapan yang sering kuanggap sepele. Ya, termasuk menyeriusi hubungan yang kami jalin. Aku menyimak pembicaraan antar keluarga dari dalam kamar. Kebetulan hanya berbatas tembok karena acara diadakan di rumah Bibi yang sederhana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN