“Papa, jangan begitu. Bagaimanapun, Mirna nggak akan bisa tanpa Papa.” Kulepas pelukan, menatap matanya yang sudah basah, kemudian melanjutkan, “Mirna minta maaf, selama ini belum bisa berbakti dan sering ngrepotin Papa. Bahkan uang kuliah pun masih minta. Minta makasih banget, walaupun jarang diperhatikan, tapi Papa nggak pernah lupa akan kewajiban sebagai seorang ayah dan selalu mengerti kebutuhan Mirna. Love U, Pa.”
“Love U too, Nak. Papa sayang Mirna. Istirahatlah, nanti malam kamu harus fresh dan pastinya tampil cantik di depan calon suami.”
Mendengar godaan Papa, kucubit lengannya dengan gemas. Lalu, buru-buru pamit ke kamar sebelum mendengar godaan yang lebih parah.
***
“Maksud dan tujuan saya beserta keluarga datang ke sini, saya ingin meminta izin kepada Bapak dan Ibu untuk melamar putri Bapak dan menjadikan dia istri saya. Saya akan berusaha sekuat tenaga untuk menjaga, membahagiakan, dan memenuhi kebutuhan lahir batinnya.”
Tiada kalimat selain hamdalah yang bisa kuucapkan sekarang ini. Kak El benar-benar lelaki gentle. Ia membuktikan semua ucapan yang sering kuanggap sepele. Ya, termasuk menyeriusi hubungan yang kami jalin.
Aku menyimak pembicaraan antar keluarga dari dalam kamar. Kebetulan hanya berbatas tembok karena acara diadakan di rumah Bibi yang sederhana. Sementara rumah yang Papa, Mama tiri, dan aku tempati sedang direnovasi. Namun, tak mengapa. Inilah keberuntungannya, aku bisa mendengar suara dari luar dengan jelas tanpa takut dituduh menguping.
“Mirna, ayo keluar!”
Aku terperanjat. ‘Keluar?”
Mbak Yuni mengangguk. “Udah waktunya keluar. Lo nggak mau nemuin calon mertua? Calon suami gantengnya kebangetan loh. Buat gue aja kalau nggak mau.”
Kucubit lengannya sambil melotot. “Enak aja.”
“Makanya, ayo keluar sekarang!”
Tanganku ditarik. Aku berusaha mengimbanginya dan menggamit lengan Mbak Yuni untuk berjalan menuju ruang tamu.
Detakan demi detakan kurasa makin cepat manakala pandanganku dan Kak El bertemu. Hatiku berdesir hebat. Namun, buru-buru kutundukkan pandangan sebelum terlalu jauh berlayar di matanya yang bening. Tak lama, aku duduk di seberang keluarga Kak El didampingi Bibi dan Mbak Yuni. Sementara Papa dan Mama di sebelah kiriku. Para tamu pun duduk melingkar.
Acara inti sedang berlangsung. Degupan makin memorak-porandakan daerah jantung seiring waktu mama Kak El menyematkan cincin lamaran di jari manisku.
Lantas, dengan tersenyum, wanita berjilbab lebar itu berkata, “Sangat pas dan cantik di jarimu, Nak. Kamu memang menantu idaman. Kata Elx kamu cantik luar dan dalam. Sekarang Mama bisa membuktikannya sendiri.”
Aku tersipu. Bahkan beliau menyebut dirinya di hadapanku dengan sebutan mama. Getaran di pipi makin terasa. Aku yakin, itu tak bisa disembunyikan dan aku membiarkannya sebab itulah kebahagiaanku.
“Terima kasih, Ma. Semoga nantinya Mirna bisa menjadi menantu seperti yang Mama inginkan,” balasku, tak lupa dengan senyuman semanis mungkin.
“Aamiin. Tapi Mama nggak nuntut loh, Sayang.”
Aku mengangguk, lalu memeluknya erat. Ini pertama kalinya kami berpelukan setelah tidak lagi selama beberapa tahun belakangan. Kenyamanan itu masih ada dan sama rasanya seperti dulu.
Setelah selesai acara tukar cincin dan mendiskusikan hari pernikahan yang jatuh pada tanggal 05 Desember besok atau sekitar tiga minggu dari hari ini, aku segera istirahat ke kamar.