Keesokan paginya, aku dan Mbak Yuni lari pagi sekitar kampung. Kami memutuskan tinggal di sini beberapa hari sebelum kembali berkutat dengan tugas kuliah yang merumitkan.
Aku dan Mbak Yuni jalan bersisian. Kami lari kecil seraya mengobrol ringan. Hal berbanding terbalik dengan biasanya. Hal yang tak pernah seorang Mirna lakukan. Hal yang tak diduga dan ini terjadi begitu mudahnya.
“Mir!” Panggilan Mbak Yuni membuatku menoleh padanya.
“Ya?” Aku mengikuti langkahnya yang berubah menjadi jalan santai.
“Setelah kita sampek di kota nanti, bimbing gue jadi orang yang lebih baik, ya.”
Aku menatap tak percaya. Secepat itukah hidayah menghampirinya? Aku bahkan belu. Puas bersekutu dengan perempuan berkucir kuda itu. Hm, tapi tak apa. Itu justru bagus dan aku tak susah-susah lagi menghadapi sikapnya yang sok dan menyebalkan.
“Gimana, Mir? Lo mau kagak?”
Aku berpikir sejenak sebelum akhirnya membalas dengan anggukan.
“Serius?”
“Ya. Gue nggak pernah main-main.”
Untuk kedua kalinya ia memelukku. Pertama, semalam saat aku resmi bertunangan dengan Kak El, ia langsung menghamburkan pelukannya padaku. Dan ini, ia melakukannya tanpa kuminta dan entah atas dasar apa.
“Thanks. Gue nyesel pernah nyia-nyiakan adik kayak lo, Mir. Tapi untuk kali ini gue pengin hubungan kita baik-baik aja. Gue juga pengin kita deket. Bagaimanapun, segalak-galaknya dan semenyebalkan apa, gue tetep punya jiwa kekakakan yang berniat menjaga lo.”
Ah, mengapa ada hujan di pipi, sedangkan langit berwarna biru cerah? Benarkah itu Mbak Yuni? Perempuan yang selama ini menjadi konflik paling berat kulalui. Perempuan yang keberadaannya selalu mengusik hati. Perempuan yang kedatangannya menimbulkan aura negatif.
Allah, terima kasih. Doa-doa yang hamba panjatkan setiap malam ternyata tak sia-sia. Engkau maha membolak-balikkan hati manusia. Terima kasih sekali lagi, Ya Allah.
“Kok malah bengong, sih? Gue aneh?”
Aku tergagap. “Ah, enggak. Gue ikut seneng. Em, maksudnya gue seneng kita bisa ketemu dan barengan lagi kayak dulu.”
“Iya. Gue juga seneng.”
Lalu, kami pun saling melempar senyum.
“Eh, btw, cowok yang kata lo mau dijodohin sama gue itu sekarang kabarnya gimana, ya, Mir?”
Aku sontak menengok, berpikir sebentar, lalu tergelak.
“Malah ketawa.”
Aku menghentikan tawa.
“Cielah. Masih ngarep ternyata,” godaku yang langsung kena cubitan di pipi.
“Ya, gue nggak ngarep. Emang pertanyaan kayak gitu tuh sejenis berharap?”
Kuendikan kedua bahu. “Maybe.”
Suasana mendadak hening. Sesekali kami menyapa para penduduk yang berangkat kerja. Ada yang pergi ke sawah, pasar, juga kantor. Beberapa anak sekolah pun sudah mulai masuk meski masih mengenakan seragam bebas.
Mengingat pertanyaan Mbak Yuni tadi, aku tergelitik untuk tahu lebih jauh. Dengan hati-hati, aku memecah kecanggungan dengan bertanya, “Emangnya Bagas masih kurang, Mbak? Sampek nanyain cowok itu segala.”
Mbak Yuni mendadak berhenti. Tanpa persetujuan, tanganku ditarik menuju bangku taman kampung, lalu dituntun untuk duduk di sebelahnya.
“Akhir-akhir ini gue sama Bagas kayak berjarak gitu, Mir,” akunya dengan mata menerawang jauh.
Aku sendiri tak tahu harus menanggapi dengan apa. Antara senang karena akhirnya ia merasakan sakit sebab menjalin hubungan yang berjarak. Juga prihatin karena rasanya baru kemarin ia putus dengan sang mantan, kini harus merasakan lagi pahitnya asmara.
“Apa Bagas punya cewek lain ya, Mir?”
Mbak Yuni menengok, kutanggapi dengan gelengan kepala.
“Tapi kalaupun dia punya simpenan atau selingkuhan, gue pasti tau. Semua akun media sosialnya gue ikut pegang. Rasanya nggak mungkin, deh.”
Gelengan kepalaku makin menjadi disertai decakan yang membuat alisnya menyatu. Mbak Yuni itu polos atau bodoh, sih? Kedua kata itu sekarang memusingkan kepalaku untuk menyematkan yang mana yang pas padanya.
Dengan suara sehalus dan sesabar mungkin, aku menjawab, “Semua akun medsos kita punya sekalipun kita yang pegang, kalau selingkuhnya secara nyata dan langsung ketemu, kita bisa apa Mbak?”
Perempuan berkaus merah itu langsung memandangku dengan tatapan sadar. Seakan-akan baru saja bangun dari mimpi.
“Sesering apa pun kalian ketemu; jalan bareng, makan bareng, chatingan setiap waktu, kalau salah satu niatannya menjalin hubungan cuma buat main-main, ya perselingkuhan itu bukan hal baru lagi.”
Mbak Yuni hanya mengangguk-angguk sambil menatap lurus ke depan.
“Kalau dia beneran selingkuh gimana, Mir?”
Mata kami berserobok. Sebelum ia berpaling, aku berkata dengan tegas. “Tinggalin! Berarti dia bukan cowok baik-baik.”
“Tapi gue sayang banget sama dia.”
“Walaupun nantinya lo akan sakit setelah tau fakta sebenarnya?”
Ia langsung menunduk. Diam. Sepertinya sedang merenungi ucapanku barusan.
Menurutku, aku sudah mengatakan dengan kalimat yang tepat. Untuk apa mempertahankan hubungan kalau pada akhirnya hanya luka yang didapat. Lebih baik mundur dan mencari cinta yang lain ketimbang terus-terusan sakit dengan orang yang salah.