Bab 14. Menggoda

1013 Kata
“Tuan, saya akan bekerja keras di sini. Saya tidak akan melakukan apapun yang menyulitkan anda.” Tuan Merlin menatap wajah Zenit, seolah bertanya kenapa bicara seperti itu. “Saya tahu Tuan adalah orang yang bertanggung jawab atas Tuan Carlos, saya pernah melihat anda menggantikan Tuan Carlos.” Merlin terdiam, dia meletakkan kedua tangan di belakang pinggang. “Apapun yang kau lihat anggap saja itu tidak pernah terjadi, aku tidak ingin ada orang lain yang tahu.” “Saya sudah menebaknya, anda tidak akan berharap Tuan Carlos ataupun Maria mengetahui permasalahan saat itu, makanya saya memilih diam.” “Baguslah Zenit, aku senang karena kau tahu mana yang bisa kita katakan pada orang lain, dan mana yang menjadi rahasia. Terkadang untuk bertahan hidup kita harus pandai melakukannya.” “Saya mengerti apa yang anda katakan, sekarang kita seri! Anda memegang rahasia anda, dan begitu sebaliknya. Mulai sekarang saya berharap kita bisa bekerja sama.” Zenit mengulurkan tangannya, “saya tidak bercanda pada anda Tuan.” tambahnya lagi. Tuan Carlos yang menatap mereka dari kejauhan mulai merasa terusik karena melihat senyum Zenit yang sangat ceria pada Merlin. Ketika pria itu sendirian karena Zenit sudah masuk ke dalam kamarnya Carlos pun langsung datang dan mendekati Merlin. “Apa yang kalian bicarakan, kenapa sibuk sekali? Aku melihat kalian tertawa sejak tadi.” Merlin ini tidak menjawab karena ingin menggoda Zenit. “Tuan, saya tidak bermaksud membuat anda penasaran, tapi ini benar-benar tak bisa di katakan.” “Jangan permainkan aku!” rengeknya. “Carlos, kau itu siapa? Kalau tidak paham aku akan memberitahukan ulang padamu!” Tuan Carlos langsung mengangkat kedua tangannya, sejak kecil Merlin sudah mendoktrin dirinya dengan kalimat di luar batas anak kecil. Dia selalu membuat Carlos menyembunyikan jati dirinya yang sesungguhnya. Pria besar nan tampan ini sangat maskulin, tidak ada yang tahu jika hatinya sangat lembut dan mudah rapuh. Dia juga pria yang manja, dan tak ingin di atur. “Oke, aku tak ingin berdebat dengan Tuan Merlin lebih baik aku pergi berkuda, hari ini cukup cerah untuk sedikit melatih fokus otak di kepala ini.” “Apa kau ingin aku memberitahu Zenit? Dia akan segera datang membantu jika kau memerlukannya. Menurutmu apa aku harus melakukan itu?!” Tuan Carlos mengangguk, “aku hanya menerima apa yang kakak sarankan. Jika memang lebih baik mengundang dirinya untuk membantu berkuda, maka aku akan sangat senang hati! Rasanya tak ada yang lebih penting dari perasaan bahagia saat kita menjalankan olahraga.” Merlin menyunggingkan senyum karena dia tahu jika pria satu ini sangat ingin kekasihnya berada di sisi. “Baiklah, aku akan membuat gadis itu bersiap dengan cepat.” Tuan Carlos bergerak pelan ke arah Merlin. “Bisakah kau pasangkan dia pakaian yang seksi?!” Merlin mengadah ke langit karena berusaha menahan amarah yang luar biasa. “Aku terkadang merasa sangat pantas menelan dirimu hidup-hidup.” “Kak, tolonglah, aku ingin melihatnya menjadi seksi.” “Tuan Carlos, jangan panggil aku sembarangan kita lakukan semuanya seperti biasa saja. Terserah dia ingin memilih menggunakan pakaian apa, aku tak bisa melarang ataupun merekomendasikan padanya.” “Baik, aku akan menunjukkan kehebatan diri ini.” Zenit membuka pintu pelayan yang membawakan dirinya pakaian, dia menerima dengan senyuman sampai melihat jenis pakaian tersebut. Kening gadis itu sungguh mengkerut dia rasanya ingin melempar segalanya di depan wajah Tuan Carlos yang pasti menjadi dalang. Ting tong, “panggilan suara untuk Nona Zenit, saat ini Tuan Carlos sudah berada di kolam berenang. Anda di minta untuk segera datang menemani Tuan, sekali lagi kami panggil Nona Zenit. Harap untuk tidak membuat Tuan Carlos menunggu lebih lama.” Jika tak butuh pekerjaan ini mungkin Zenit akan sangat enggan untuk melakukan apa yang Tuan Carlos inginkan. Zenit menarik napas berkali-kali, dia melihat jam tangannya dan mengingat hal penting lainnya. “Tuan Carlos, anda ingin mempermainkan saya rupanya! Sayang sekali saat ini anda hanya seonggok kotoran bagi saya!” gadis itu mengumpat. Zenit mengganti pakaiannya, dia melihat ke arah Tuan Carlos yang sudah ada di dalam kolam renang. “Zenit, masuklah… antarkan makanan itu padaku.” Gadis ini kembali menghela, tapi dia sungguh percaya diri, Zenit membuka kimono handuknya, hingga tubuh yang seksi kini terpampang jelas di sana membuat semua orang memandang ke arah dirinya. Tuan Carlos langsung melirik, meminta mereka yang berjaga pergi dari tempat itu dan meninggalkan mereka berdua. “Tuan, ini makanan anda! Sepertinya Chef sudah menyiapkan dengan sangat baik.” Dia tak bisa bicara apapun, senyum Carlos tertahan, bahkan matanya tak bisa pindah dari tubuh Zenit yang seksi. “Kau sedang menggoda aku?! sebaiknya tidak melakukan itu juga masih ragu untuk naik ke atas ranjang kamarku.” Zenit tersenyum, “saya hanya pelayan alias asisten pribadi anda, jika anda melakukan hal yang buruk maka saya tidak akan tinggal diam. Tuan Arsenil sudah berjanji pada saya untuk melakukan apa saja pada anda sebagai ancaman.” Tuan Carlos merasa cemburu, dia menatap heran wajah Zenit. “Kau begitu dekat dengannya, lucu sekali! Pantas saja jika Nyonya Besar Olive merasa tersingkir, ternyata kau sedang mengggoda suaminya.” “Jangan bicara sembarangan, saya bisa melempar makanan ini ke wajah anda Tuan. Saya sangat di butuhkan, Tuan Arsenil tidak akan bisa mendapatkan pengasuh untuk anak-anaknya sebaik saya.” “Kau berpikir begitu?!” “Tentu saja, saya sangat percaya diri untuk ini. Jadi jangan membuat saya tak suka pada anda.” Tuan Carlos  semakin kesal dengan sikap Zenit, dia mendekat lalu berbisik dalam jarak yang amat dekat. “Sayang Olive tidak akan bisa membuatmu kembali, ingat kau membutuhkan uang yang cukup banyak untuk operasi jantung.” Zenit tersenyun getir, “anda sudah menyelidiki semua tentang saya?! anda memang tak ada habisnya Tuan Carlos, di sini saya berani untuk melawan karena harga diri.” bisiknya pelan. “Kau menggodaku lagi!” Tangannya merajai pinggang Zenit, tapi gadis itu tak gentar sama sekali. Dia memasang wajah santai, tanpa pemberontakan seolah menantang Tuan Carlos yang sedang menggoda dirinya. Pria ini seolah tak ingin melepaskan wanita yang ada di hadapannya. Dia menarik tangan Zenit sangat kuat hingga jatuh ke dalam pelukan dirinya. Pria itu berbisik pelan, tapi Zenit lagi-lagi bersikap seperti tak penting.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN