Bab 13. Pernjanjian

1025 Kata
Kini Zenit terdiam di depan wajah Tuan Carlos yang tak henti menahan senyum, dia seperti habis mendapatkan ikan besar yang langka. “Anda bisa saja melepaskan tawa itu, tidak perlu menahannya karena jika anda sakit perut maka saya akan kesulitan.” Tuan Carlos tidak menjawab, dia lebih suka memperhatikan Zenit yang murka pada dirinya. Tapi sayang semua itu sangat cepat berakhir saat Merlin masuk ke ruang kerja Tuan Carlos. “Selamat malam Tuan,” sapa Merlin, “Zenit, bagaimana kabarmu?!” Gadis ini langsung berdiri, dia menyambut Merlin sangat lembut. “Saya baik-baik saja, Tuan Merlin! Senang bisa bertemu anda kembali.” Merlin mengangguk sembari tersenyum tipis, “Tuan Carlos memang membutuhkan orang-orang yang dia percaya, aku sangat bersyukur karena kau mau bekerja sebagai asisten pribadinya.” Zenit mengiyakan, lalu kembali duduk. “Kami tak sengaja bertemu saat ledakan di Napoli,” jawabnya pelan. “apa kabar Tuan Daren, sejak tadi saya tidak melihatnya.” “Daren sangat baik, saat ini dia sedang sibuk mengasi seseorang. Kalian lanjutkan saja, aku hanya ingin menyapa.” Tuan Carlos sejak tadi memperhatikan Merlin, dia tak senang karena pria ini sok akrab dengan asisten pribadi dirinya. “Pergi saja lihat pekerjaanmu, biarkan aku bersama Zenit!” Carlos berkata dengan suara baritonya dan sedikit penekanan. Tuan Merlin pergi, dan Zenit langsung mengetuk meja tiga kali. “Hey, bukankah anda sangat tidak sopan? Tuan Merlin hanya ingin menyapa saya, kenapa bersikap kasar padanya. Padahal Tuan Merlin adalah orang yang sangat setia, dia juga sangat penyayang.” “Kau memujinya?! terdengar sangat bagus.” “Bukan seperti itu, hanya saja apa yang saya katakan ini sama sekali tidak di lebihkan. Bukankah dia selalu di sisi anda? Saya mengingat kejadian malam itu, Tuan Merlin berlari menjadi benteng pertama anda jika tak ada dirinya saya rasa anda akan mati malam itu.” Tuan Carlos tak menjawab, sedangkan Zenit juga tidak mengangkat kepalanya, dia masih setia membaca perjanjian kontrak kerja yang di sodorkan pria ini. “Apa kau masih lama? Aku sedang ada keperluan, teruskan saja dan coret mana yang tak kau suka. Aku akan keluar sekarang!” Zenit mengangguk, “silahkan Tuan, saya belum selesai membacanya.” Tuan Carlos langsung berdiri, dia berjalan dengan cepat keluar dari ruangan. Sebelum pintu tertutup Zenit melihat Tuan Carlos menuruni anak tangga, entah pergi kemana pria itu dengan langkah terburu-buru, Zenit tidak ingin ambil pusing. “Aku ingin bicara padamu!” Carlos nyatanya menemui Merlin, pria yang sedang asyik membaca catatan penting di ruang rahasia pun akhirnya mengangkat wajahnya. “Ada apa lagi? Apa kau masih ingin bermain-main?! bagi orang lain kau adalah Tuan Carlos yang dingin, bijaksana dan luar biasa, tapi bagiku kau tetap Carlos yang lucu.” jawab Merlin yang melanjutkan membaca buku-bukunya. “Kak!” “Jangan berteriak, dan jangan panggil aku kakak! Biasakan Carlos, kau harus bisa melakukan itu untuk kebaikan kita semua. Tetaplah menjadi Tuan Carlos yang congkak, dan tak terjamah, sikap Arrogant sangat di butuhkan dalam bisnis ini agar tak ada yang bisa membaca dirimu.” Tuan Carlos menunduk, “apa dia memukul dirimu lagi?!” kalimat tanya itu sangat pelan. “Tidak ada yang memukulku, aku hanya tak sengaja terjatuh!” jawab Merlin santai. “Aku tak melarang dirimu menjadikan Zenit Asisten, toh selama ini kau tak pernah mau mendengarkan diriku. Lakukan saja sesukamu, Carlos!” Merlin berdiri, dia hendak beranjak dari sana. “Kak!” Merlin menatap Carlos dengan tajam, “panggil aku Merlin.” “Oke, Merlin… aku masih ingin bicara denganmu! Apa dia memukulmu?! biar aku obati, apa kita harus memanggil dokter?!” “Tidak Carlos, aku sungguh baik-baik saja!” “Apa kakak ipar dan keponakanku berada di tempat aman?!” Merlin langsung menghempas bukunya, “Carlos, cukup pikirkan apa yang menjadi urusanmu dan jangan timbulkan masalah berat hingga kelompok kita malu. Masalah yang lain bukan urusanmu, aku sudah berusaha membuatmu tampak hebat dan menduduki posisi saat ini, jangan sampai semua itu hancur karena seorang wanita.” Dengan hati kesal Merlin langsung berlalu meninggalkan Carlos, dia tak menoleh ke belakang sama sekali. Pria ini masih berusaha menahan dirinya, terlalu banyak hal yang Merlin tutupi untuk hidup Carlos yang lebih baik. Bahkan Merlin tidak pernah memberitahu Carlos jika Zenit pernah menemui dirinya dalam keadaan hamil besar. Merlin benar-benar kacau. “Tuan Merlin.” Pria itu terperanjat, “astaga Zenit, sejak kapan kau di sana?!” Dia tersenyum, “saya baru saja sampai di sini, melihat anda termenung sejak tadi.” jawabnya pelan, “Tuan, apa saya bisa memohon pada anda?!” Merlin yang seharusnya memohon pada Zenit agar dia tidak mengatakan apapun, tapi situasi ini berbeda dan lebih baik Merlin mendengarkan dulu apa yang Zenit ingin katakan. “Ada apa? Apa yang ingin kau minta dariku Zenit?!” Dia menunduk, menelan saliva, “Tuan, kita pernah bertemu saat itu! Apa dan ingat?!” dia berbisik di telinga Merlin. “Apa kau ingin aku mengingat itu?!” Zenit menggeleng, “tidak Tuan, saya tidak ingin anda mengingatnya. Apa anda bisa melakukan itu?!” Merlin tersenyum, “aku akan melakukan apapun yang kau inginkan Zenit, bukankah kau juga teman istriku?!” Zenit mengangguk, “terimakasih Tuan Merlin, saya sangat senang anda bisa membantu! Anggap saja semua itu tak pernah terjadi.” ucapnya lega. “Lalu bagaimana kabar Maria?! apa anak laki-lakimu sehat?!” Merlin mengangguk, “mereka tinggal di rumah kakeknya, jadi aku sangat tenang saat bekerja. Jika di sana tak akan ada yang bisa menyakiti mereka, semua sudah lengkap dan aku pun bisa mengawasi Tuan kita dengan baik.” Merlin sedikit tersenyum. “Saya tidak ingin memiliki hubungan apapun dengan Tuan Carlos. Sedini mungkin saya berusaha untuk tidak kontak langsung dengannya, padahal saya sudah sangat nyaman bekerja di keluarga Stenabi. Entah kenapa Tuan Carlos melakukan ini pada saya.” “Jangan hiraukan Tuan Muda kaya raya itu, lanjutkan hidupmu jika sudah memilih. Aku yakin kebahagiaan seseorang adalah sebuah pilihan, itu yang Maria katakan padaku.” Zenit menatap ke arah Langit, “aku sangat merindukan Maria, kami sama-sama berasal dari Pitigliano. Tapi Maria tak memiliki siapapun, sejak kecil dia di rawat oleh neneknya, dan beliau meninggal ketika Maria menginjak dewasa.” “Maria pasti senang mendengar kabar tentangmu, Zenit.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN