Bab 12. Hutang Budi

1019 Kata
Zenit kembali membantu saat melihat siapa yang kini masuk ke dalam mobil bersama dengan dirinya. “Anda lagi, Tuan!” Carlos menyunggingkan senyum, “kenapa istriku?! bukankah ini yang kau inginkan? Berada di dekatku dan bercinta setiap harinya.” “Jangan gila, Tuan! Saya bersikap sopan karena tidak ingin membuat malu Tuan Arsenil di depan teman-temannya, tapi jika keadaannya seperti ini jangan pernah berharap saya akan tunduk.” “Tidak perlu terlalu formal, gunakan bahasa santai padaku!” Zenit menggeleng, “ saya sengaja melakukan ini agar anda dan saya paham batasannya. Saya di sini hanya sebagai pelayan saja, jadi jangan pernah berharap lebih untuk apapun.” Carlos tidak menjawab, dia hanya memutar mainan yang ada di tangannya sesekali pria ini tersenyum. “Jika mengingat hari itu aku ingin tertawa, bisa-bisanya orangtuamu percaya bahwa kita suami istri. Seharusnya mereka melihat bagaimana perbedaan pakaian kita.” Zenit miris sekali, “saya tahu apa yang anda maksud Tuan, tapi tidak semua di nilai dengan uang, apalagi anda yang sudah jelas sudah menerima bantuan dari saya. Setidaknya ucapkan terimakasih, tapi malah ejekan yang saya terima saat ini.” “Oke, terimakasih Zenit!” Mendengar itu dia langsung menatap ke arah Tuan Carlos, “bahkan anda sangat hafal nama saya, berarti di Pitigliano anda hanya mempermainkan saya saja.” “Bisa di bilang seperti itu, bisa di bilang juga tidak! Aku mabuk karena kau memberikan begitu banyak obat tidur. Maaf jika aku bicara melantur.” jawabnya pelan, “jadi hari itu kau pergi karena pekerjaan di Mansion Tuan Stenabi?!” “Apa saya harus menjawab semua pertanyaan anda, Tuan?! saya rasa kita tak memiliki hubungan.” Carlos memicingkan mata, “Aku suamimu, apa kau melupakan tentang itu? Untung saja aku bisa mengingat gadis nakal seperti dirimu, padahal di antara wanita yang pernah aku tiduri kau bukan siapa-siapa.” “Tuan, jangan membicarakan hal yang tidak masuk dalam akal saya. Lebih baik kita bicarakan pekerjaan saja, saya tidak bermimat membahas apapun dengan anda.” Carlos tersenyum, “sudah aku bilang, pakai sapaan aku dan kamu saja! Aku tak suka kau menggunakan kalimat saya dan anda.” lagi-lagi Carlos menggoda Zenit, tapi gadis itu tak mengapikkan dirinya sama sekali. “Kau marah? Bukankah seharusnya bahagia? Orangtuamu menitipkan salam, beberapa minggu yang lalu aku kembali kesana. Nyatanya kau tak ada, dan malah tak kembali setelah hari itu. Mereka bilang kau hanya mengirimkan uang, dan memberikan kabar saja! Aku cukup bingung bagaimana cara mencari dirimu, tapi tak di sangka kita malah bertemu di rumah Pimpinan Black Dragon, Mafia yang cukup terkenal di wilayah Asia dan Eropa.” Zenit tak menjawab, dia memanglingkan wajahnya karena tak ingin mendengar cerita apapun. “Anda seharusnya tidak datang ke rumah orangtua saya.” Carlos menyentuh pipi Zenit dengan telunjuknya, “aku tidak tahu harus menemukan dirimu dimana,” Zenit mengerutkan keningnya, “anda membicarakan hal yang mana? Anda mengingat momen yang mana? Saya sangat penasaran dengan sikap anda ini.” Carlos mengambil botol minum, dia menegak dengan terburu-buru. “Kau ingin aku mengatakan ini untuk momen yang mana? Silahkan katakan padamu.” “Anda sudah banyak berubah, Tuan! Setahu saya anda tidak akan berbuat seperti ini, sikap arrogant anda yang membuat saya tergila-gila, Tuan.” “Aku harus mengatakan bagaimana lagi? Aku ini berhutang nyawa padamu.” Carlos berbohong, sebenarnya sejak malam pertama mereka berdua pria ini selalu membandingkan setiap wanita yang dia tiduri dengan dirinya. Saat Tuan Carlos tak sadarkan diri beberapa bulan, di dalam mimpinya hanya membayangkan Zenit, bahkan dia sempat berpikir memiliki anak dengannya. Pikiran Tuan Carlos sangat kacau, apalagi saat dia menemukan dirinya bangun di tempat yang berbeda. Carlos tidak mengetahui dimana orang-orang yang bekerja dengannya dahulu, termasuk Zenit. Merlin bilang mereka sudah kembali ke asal mereka masing-masing dengan uang yang cukup besar. “Tuan, anda tidak usah banyak berpikir! Saya tidak berniat melakukan apapun pada anda. Kejadian beberapa bulan yang lalu anggap saja tidak pernah terjadi.” Carlos terdiam, dia mengerti jika Zenit tak menyukai dirinya. Padahal Tuan Carlos sudah berusaha meminta orang bayaran mencari dirinya, tapi tak pernah ketemu! Semuanya selalu di gagalkan oleh Merlin, jika mengingat itu hati Carlos kembali merasa kesal dan murka. “Aku tidak bisa!” Tuan Carlos kembali bersikap dingin, semakin Zenit menolak dirinya maka Carlos akan semakin lihai dalam melakukan banyak trik. Akhirnya selama perjalanan mereka diam tak ada bicara, hingga sampai di sebuah Mansion yang ternyata masih di daerah Pitigliano. Mata Zenit mengerjap beberapa kali, dia tidak ingin terlihat senang di depan Tuan Carlos. Walaupun kali ini dia merasa sangat lega, berdekatan dengan orangtuanya adalah keinginan terbesar Zenit. Mereka sudah terlalu tua untuk tinggal jauh dari dirinya. “Tuan, apa saya boleh memohon satu permintaan?! anggap saja kita impas, karena anda merasa terhutang budi.” “Apa itu?!” jawab Carlos tanpa menoleh ke arah dirinya. “Katakan saja, aku akan melakukan selama bisa kemampuan ini, lagipula aku sudah terbiasa meminta permintaan konyolmu.” Zenit sedikit menggigit bibirnya karena Carlos sedang membicarakan permintaan dirinya ketika malam panas itu. Zenit agak ragu, tapi dia ingin memberanikan diri. “Jarak Mansion ini dan rumah orangtua saya sangat dekat, bagaimana jika saya tidak menginap di sini, tapi saya janji akan datang sepagi mungkin dan kembali saat semua sudah beres, saya selesai melaksanakan semua kewajiban di Mansion anda.” “Karena kau mengatakan tentang balas budi, maka aku tidak bisa menolak sama sekali. Lagipula hal ini tak sulit bagiku, kamar akan tetap di siapkan, mungkin kau akan kerepotan mengurusku, maka kita bagi saja 3 malam bersamaku, sisanya bersama orangtuamu.” Zenit mengerutkan kening, “apa maksud anda saya direpotkan oleh tingkah anda? Apa saya harus mengasuh anda, Tuan?!” Carlos tersenyum, “ya, tentunya begitu! Aku butuh wanita seksi, dan yang aku kenal baik untuk bisa menjamin keamanan diriku.” dia keluar dari mobil dengan cepat setelah mengatakan itu. Zenit yang masih bingung segera mengejarnya, “saya tidak bisa melakukan ini!” ucapnya setengah berteriak. Carlos memberhentikan langkahnya, “terserah padamu Zenit! Jika kau keluar maka tidak akan ada pekerjaan, bukankah kau membutuhkan uang untuk operasi ayahmu?! Nyonya Besar Olive tidak akan menerima dirimu kembali, dia memang sudah lama ingin membuang dirimu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN