Bab 11. Kau menuduhku

1296 Kata
Arsenil menarik tangan Olive, “kau yakin bisa mengurus anak-anak? Selama ini tak ada yang betah bersama mereka sedangkan dirimu malah asyik bersama teman-teman baru yang tidak jelas itu.” Arsenil berusaha menahan amarahnya. “Jujur saja, aku tak habis pikir padamu Olive, kenapa harus melakukan perbuatan itu padanya?! Zenit butuh pekerjaan ini karena kedua orangtuanya membutuhkan uang.” Olive menjadi wanita yang sangat menyebalkan karena rasa cemburu yang menguasai hatinya. “Terserah pada pikiran anda, tapi saya hanya berusaha bersikap jujur atas permasalahan ini. Zenit butuh uang, dan saya sebagai Nyonya yang baik hati memberikan dirinya kesempatan untuk mendapatkan uang yang lebih banyak.” Arsenil memejamkan matanya karena terlalu kesal, “kau pikir aku ini sebodoh apa?!” “Anda menyukai dia?!” Arsenil langsung terkekeh, “jika sudah dalam situasi seperti ini kau akan selalu menyalahkan aku, mengatakan hal konyol seolah aku menyukai Zenit!” Arsenil mendekat pada Olive, “apa kau ingin aku benar-benar berselingkuh? Tidak perlu Zenit, banyak wanita cantik dan luar biasa di luar sana yang siap membuka kedua kakinya untukku, jadi kau tidak perlu menuduh lagi karena aku sudah mewujudkan keinginan dirimu.” Olive menggigit bibirnya, “anda mempermainkan saya?!” “No, aku hanya ingin mewujudkan apa yang kau inginkan Olive, aku akan membawa wanita terbaik di kota ini ke atas ranjang kita.” Plak, Olive menampar bibir Arsenil sampai pria itu terdiam, dan pergi dari hadapan dirinya. Olive berteriak, tapi tak di hiraukan sama sekali oleh Arsenil. Flashback On. Suasana menjadi sunyi, saat Arsenil terkekeh. Ketiga batita itu melihat Arsenil dari ujung kaki sampai ujung rambut. Arsenio sendiri sadar kesalahan yang di buat oleh Arsenil sudah mengundang pertanyaan pada mereka bertiga. “Kau benar-benar kacau, Nil. Mereka sedang mencerna apa yang kau katakan tadi. Jadi bersiaplah dengan seribu pertanyaan yang tidak akan bisa kau jawab sama sekali.” “Apa Paman ayah kami?! karena hanya ayah yang bisa menebak seperti itu. Bulan lahir kami di kurang saja, karena ayah hanya tahu kami lahir saat umur 9 bulan, padahal hanya 7 bulan kurang. Itu yang ibu katakan, jadi paman adalah yang paling tepat. Apa paman sebenarnya adalah ayah yang selalu ibu bicarakan?!” “Addison, hentikan itu! Jika pun dia ayah kita, kenapa tak ingin memeluk kita sama sekali setelah mengarungi lautan?!” Wajah Arsenil pucat pasih, dia tidak tahu harus melakukan apa saat ini. Semua pertanyaan berada dalam benaknya dan tidak bisa di cerna. Arsenio yang melihat saudara kembarnya ketakutan saat menjawab malah tersenyum. “Dia memang ayah kalian yang baru saja kembali dari lautan. Dia tidak tahu bahwa anak di dalam perut ibu kalian ada 4, saat ini ayah kalian sedang panik karena ibu sakit. Jadi jangan berpikir yang tidak-tidak.” Arsenil menalan saliva, “Nio, apa yang kau pikirkan?! Olive tidak menginginkan hal ini. Jangan sembarangan membuat suatu hal yang bisa menjadi bencana bagi orang lain.” bisik Arsenil pelan di telinga Arsenio. “Kau kacau sekali.” “Jadi kau ayah?!” Pertanyaan Jonathan membuat Arsenil semakin kacau. “katakan yang jelas, apa kau ayah kami?!” Janice yang sejak tadi berusaha untuk tidak mau tahu pun pada akhirnya mengelilingi Arsenil. “Janice, dia ayah kita!” ucapnya tanpa beban sedikit pun. Mata gadis kecil itu berkaca-kaca, dia selama ini selalu menginginkan ayah. Dengan bahasa isyarat, Janice berkata. “Kenapa tidak bilang kau kau adalah ayah kami!” Arsenil dan Arsenio sangat pandai menggunakan bahasa isyarat karena sang Nene, Tebie masih suka menggunakan dan mengajarkan pada mereka. Pria itu pun menelan saliva, dan membalasnya. “Iya, aku adalah ayahmu!” Arsenil juga menjawab dengan bahasa isyarat. Andrea, Addison, Jonathan dan Janice sekarang yakin kalau Arsenil adalah ayah kandung mereka. Andre yang selalu menjadi pentolan pun mendekat, “Ayah! Kau ayah kami, bahkan kau bisa menggunakan isyarat pada Janice!” teriaknya kuat. “Ya, kau ayah kami paman.” Arsenil yang bodoh untuk urusan cinta tidak tahu harus berbuat apa. Dia hanya menepuk punggung Andrea yang memeluknya, dan di ikuti oleh yang lain. Tidak ada perasaan sedih ataupun haru di dalam hati Arsenil karena bisa di bilang, dia hampir gila saat ini. “Apa kalian tidak ingin tidur? Ini sudah sangat larut dan ibu kalian akan marah pada ayah jika membiarkan begitu saja. Kalian bisa sakit dan terkena flu. Apalagi musim dingin akan segera tiba, ayah harap kalian tetap sehat dan bugar.” “Pantas saja kau datang menyelamatkan kami, ternyata kau ayah!” seolah tak peduli dengan nasihat yang di berikan oleh sang ayah. Para anak kecil itu tetap saja membicarakan tentang sosok ayah. “Tapi kenapa tidak mengatakan dari awal?! apa ayah sungkan?! kenapa harus menunggu ibu bangun jika ayah sudah sangat yakin?!” Nio yang melihat wajah bingung Arsenil langsung mengatakan pada mereka semua. “Jangan seperti ini, ayah kalian kehabisan banyak darah karena sedikit tertembak di tubuhnya. Jadi kalian harus tidur sekarang, agar bisa bicara lagi dengan ayah besok pagi.” “Wajah kalian mirip, kalian juga kembar seperti kami?!” Nio mengangguk, dia terus berinteraksi dengan semua anak kecil yang ada di sana. Sedangkan Arsenil masih membantu tidak bisa bergerak sama sekali. Jantungnya masih berdebar sangat kencang, tidak tahu ingin melakukan apa saat ini. “Iya, masih ada satu lagi yang wajahnya sangat mirip denganku dan ayah kalian. Sekarang pergilah tidur, ini sudah terlalu malam untuk anak kecil seperti kalian.” Mereka saling berbisik, dan tersenyum. “Baiklah, ayah, paman! Kami akan kembali menemui kalian besok pagi. Jadi jangan kabur ya, sudah sangat lama kami menunggu ayah datang. Tapi kenapa ayah terlihat sangat bingung.” goda Jonathan sembari tersenyum. Andrea terkekeh, “seperti yang ibu bilang, ayah akan bingung karena kita ada banyak! Iya, kan?! lihatlah wajah ayah sekarang! Lucu sekali, sepertinya sangat terkejut dengan kehadiran kita berempat.” Alis Arsenio naik semua, dia menatap wajah Nil yang masih tidak menanggapi anak-anaknya. Dia menyenggol bahu Nil dan berbisik pelan. “Kenapa dengan dirimu?! katakan sesuatu dan minta mereka untuk tidur.” Nil mengangguk, “anak-anak silahkan tidur. Kita akan berjumpa lagi besok.” Hanya satu kalimat dari Arsenil mereka semua mengikuti dan beranjak dari tempat tersebut. Tidak seperti dirinya yang sejak tadi mengoceh tapi tidak di apikkan sama sekali. “Padahal sejak tadi aku meminta mereka untuk tidur, tidak ada yang mau melakukannya. Lalu apa-apaan ini?! kau sebentar saja bicara mereka semua pergi dari tempat ini. Ada-ada saja!” “Mungkin mereka tahu aku ayahnya.” “Hah?! sekarang kau sudah bisa bicara, Nil?! bagaimana dengan keadaanmu sejak tadi?! kau terbengong seperti orang bodoh dan aku sangat terkejut mendapati dirimu yang seperti itu.” “Aku tidak bisa bicara apapun sekarang! Yang jelas mereka adalah anakku, tapi Olive tidak menginginkan kami untuk sekedar bicara. Ini mengerikan sekali karena aku menjadi sangat kaku dan bingung memperlakukan mereka seperti apa. Belum lagi Janice dengan keadaan yang seperti itu. Aku bingung!” “Sekarang kembalilah ke kamarmu. Kita akan menghadapi hal besar yang akan sangat sulit di duga. Walaupun aku tidak tahu apa yang ada di pikirkanmu, tapi cobalah berbagi pada orang-orang yang ada di sekitar dirimu. Orang-orang yang mengkhawatirkan dirimu.” Arsenil berdiri, “aku tinggal ya! Titip anak-anak dan Olive, penjagaan di sini berlapis dan aku meningkatkan pengawasan dari semua sudut. Jadi kau tidak perlu khawatir. Tidak akan ada yang berani menyentuh tempat ini.” Punggung Arsenil terlihat asing bagi Arsenio. Dia terlihat terbeban mental oleh banyak hal. “Nil.” Arsenil berbalik. “Ya?!” “Apapun itu, kami akan selalu mendukungmu. Aku tahu kau lahir sebagai pemimpin, ada yang benar dan ada yang salah. Semua itu akan sangat sulit dirimu prediksikan. Ambil keputusan yang paling tepat agar kau lebih percaya diri. Aku sangat yakin atas kemampuan yang ada pada dirimu.” “Pada diriku?!” Arsenio mengangguk, “tapi aku sangat bingung sekarang, Arsenio!” jawabnya sembari berlalu. Flashback Off
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN