Bab 10. Ambil saja dia

1009 Kata
"Kau tahu yang terjadi malam itu hal berat bagiku? Sekarang aku katakan sekali lagi, tak ada satu pun dari kalian yang bisa mempermainkan pelayan di rumah ini." Arsenil terlihat sangat kesal, terpampang jelas di wajah pria tersebut. Tuan Carlos yang masih berada dalam setengah kesadaran dengan samar-samar mengerti apa yang Arsenil inginkan. "Mengatakan ini terutama untukmu, Carlos! Jangan pernah membuat masalah di Mansionku. Datang dalam keadaan mabuk, membuat kacau seisi rumah di tengah malam." "Maafkan aku!" Carlos berdiri, lalu dia perlahan menunduk. "Aku dalam kondisi mabuk." Tambahnya. Arsenix yang ada disana menyunggingkan senyum, "apakah benar-benar menyukai pelayan itu? Tak kusangka seorang Carlos bisa mengacaukan kediaman orang lain karena seorang wanita." "Jangan menggoda aku sampai ke dasar, Arsenix! Bukankah tidak hanya aku yang tertarik pada pelayan?! Saudara kembarmu memiliki selera yang sama denganku." Mata Arsenil memicing pada Carlos, "aku tidak tahu apa yang kau inginkan, tapi jika terus ingin memancing amarahku, maka tak ada jalanmu untuk kembali. Orang-orangku tak bisa kalian perlakukan semena-mena, seharusnya Tuan Carlos yang terhormat bisa mengerti apa yang aku katakan saat ini." "Waw, aku tidak berharap kau merasa kesal dengan nada sindiran ini. Tapi Arsenil, kita memiliki selera yang sama setidaknya kau punya teman." Arsenil tidak ingin melanjutkan pembicaraan, tak sengaja dia melihat Olive mengintip dari balik pintu. Wanita itu sepertinya akan masuk mengantarkan makanan, tapi dirinya terlanjur mendengar kalimat tak enak dari Carlos. Arsenil bingung harus berbuat apa, jika di dekati maka Olive pasti akan memaki dirinya, tapi jika tidak dihampiri mungkin dia akan lebih marah lagi. "Aku permisi," Arsenil memilih untuk mendekati Olive, setidaknya dia bisa meredakan amarahnya. Tapi baru saja beberapa langkah, mata Arsenil terbelalak melihat Olive membuka pintu dan dengan langkah cepat berjalan ke arah Carlos. "Ulangi lagi kalimat menyindir anda, Tuan! Saya tahan jika harus di hina. Tapi saya tak suka jika anda merendahkan ayah dari anak-anak. Katakan sekali lagi, saya akan menekan pistol ini hingga kepala anda berlubang." Carlos tak ada maksud, dia hanya bercanda saja dengan kalimatnya. Selain itu Carlos hanya ingin membela diri, dia tak menyangka hal ini malah membuat orang lain merasa terhina. "Saya minta maaf Nyonya, karena bercanda saya sudah keterlaluan." Carlos mengangkat kedua tangan, "saya tidak ingin keadaan ini meruncing Nyonya, sebenarnya saya hanya tak ingin suami anda meledek diri ini karena ingin memiliki pelayan anda." Olive terdiam, Arsenil yang ada di sana pun segera mendekat dan menurunkan pistol yang berada di kepala Carlos. "Tenanglah, Carlos tadi malam datang ke Mansion dan membuat keributan, dia menginginkan Zenit." Napas Olive semakin memburu, pelayan rumah ini tidak akan di miliki siapapun kecuali atas permintaan diri mereka sendiri. Keluarga Arsenil, memiliki paham seperti itu sejak dahulu. Tapi dia tidak ingin Zenit berada di sini, dan sekarang adalah kesempatan untuk membuat Zenit pergi. Dia juga ingin Zenit pergi dari kediaman mereka, rasanya Olive belum bisa melepaskan rasa cemburu dari gadis cantik itu. "Tak apa, asal kau bisa memberikan dia gaji yang layak kami pasti akan menerima dengan senang hati." Arsenil heran dengan tingkah Olive, "apa yang kau lakukan Olive, kau sudah tahu apa maksud pria ini, bisa-bisanya mengizinkan Zenit pergi. Memangnya siapa yang akan menjaga anak-anak? Katakan padaku?!" "Tentu saja saya yang akan menjaga anak-anak, anda tak percaya pada saya?! Selama ini mereka hidup dengan saya dan kami bisa menjalin hubungan baik antara ibu dan anak." "Zenit, mengurus dengan menafkahi itu beda. Kau sama sekali tidak merawat mereka. Hidupmu terlalu kosong dan hampa, tapi hatimu tak bisa menelantarkan mereka. Kau bekerja untuk mereka, tapi kau tak pernah mengurus mereka." Olive tersenyum simpul, "anda membela pelayan dari pada saya karena dia bisa bermain bersama anak-anak? Ini lucu sekali, rasany saya jadi ingin merobek mulut anda, Tuan." "Olive, tenanglah! Bukankah kau tidak ingin suamimu di hina? Lalu kenapa mempermalukan dirinya?!" Arsenix berusaha bicara padanya. "Di sini ada aku dan Tuan Carlos, jadi tolong hormati suamimu." "Tuan Carlos, saya akan menyiapkan Zenit untuk anda, dia tidak akan menolak jika harus tinggal bersama Tuan yang akan membayar tiga kali lipat gaji di sini." Carlos menegakkan tubuhnya, "terimakasih atas kerjasam anda, Nyonya.” Arsenil kesal bukan main, karena dia tahu ini semua hanya atas dasar cemburu. “Kau sudah merusak segalanya. Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan sekarang padahal Kau adalah wanita dan seorang ibu yang selama ini selalu berbuat baik kepada anak-anaknya! apa kau melakukan perubahan yang drastis untuk dirimu sendiri hingga mengabaikan kasih sayangmu kepada anak-anak?! sungguh aku tidak habis pikir dengan jalan pikiranmu. Jika kau memang lebih senang melakukan segalanya dengan tindakanmu sendiri silakan saja oleh saat ini aku tidak akan ikut campur." Olive berbalik, “sekarang tanyakan saja langsung pada manusianya, kebetulan sekali dia masuk ke ruangan ini. Zenit, apa kau ingin pindah jika ada yang ingin membayarmu 3 kali lipat? Bukankah kau membutuhkan banyak uang?!” Gadis itu menelan saliva, lalu mengangguk, “saya sangat membutuhkan uang, Tuan, Nyonya.” jawabnya sembari mengangguk, “tapi bagaimana dengan anak-anak?!” “Tidak perlu khawatir, aku bisa menjaga mereka! Sekarang lebih baik dirimu bersiap, kami akan menunggu di bawah. Jangan sungkan akan baik-baik saja dan pastinya kau akan merasa lebih nyaman jika berada di sisiku." Arsenil berusaha menahan Olive, tapi mata wanita itu memancarkan emosional yang sangat tinggi, dia seolah tak akan membiarkan kesempatan ini berlalu begitu saja. “Ada apa lagi, Tuan?!” Jika sudah seperti ini Arsenil sangat paham jika Olive tidak ingin di bantah sama sekali. “Terserah padamu, Olive, aku tidak akan melarang dirimu, sampai kapan kau akan melakukan hal konyol. Aku hanya ingin kau tahu, aku berharap kau bisa melihat kembali ke belakang. Apa kau pikir ini sangat menyenangkan?!” Arsenil meninggalkan Olive, wanita itu masih keras kepala karena dia tak ingin kesempatannya menghilang begitu saja. “Zenit, kau sudah di di tunggu.” Zenit yang mendengar panggilan Nyonya besar pun melakukan semua dengan cepat, padahal dia belum tahu sama sekali akan di pindahkan kemana, Zenit pasrah, dia sangat membutuhkan uang. Orangtuanya sakit parah, Zenit tidak bisa tinggal diam. Hari ini dia akan pergi mereka apapun alasannya tidak akan bisa menghalangi Zenit. Dia akan mohon sepenuh hatinya agar bisa mendapatkan yang dia inginkan saat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN