Perlahan, Samuel mendekati Elang. Kakak tirinya itu terlihat mengerikan. Hampir seluruh bagian tubuhnya tremor, seperti granat yang akan meledak sesaat lagi. "Aku tahu, kesalahan Mama tidak termaafkan, tapi dia sudah berani mengakui semuanya. Karena itu aku dan Papa akhirnya memaafkannya. Dan sekarang, dia butuh maaf yang sama dari Abang." "DIAMMM!!!" Elang menutup rapat kedua telinganya. Kepalanya berdentang hebat. Haruskah dia memaafkan orang yang telah menghancurkan keluarganya? Haruskah dia memaafkan orang yang mengirimnya ke jalan salah? Haruskah dia memaafkan orang yang memisahkannya dari Ibu? Haruskah? "Pukul aku saja, Bang. Lampiaskan semua kemarahan itu ke aku. Aku siap." Napas Elang menderu. Tremor tubuhnya makin parah. Air mata Samuel mengucur di ambang keputusasaan. Dia t

