Bab 10

1218 Kata
Ada rasa, itu lebih baik daripada mati rasa. Pagi itu diadakan rapat mendadak dengan tujuan menerapkan program CSR dari Tokokeren. Rapat mendadak ini hanya dihadiri oleh divisi Sofware Engineer saja. Pak Tora terlihat sibuk menatap layar laptopnya sembari menunggu semua anggotanya datang. Setelah semua hadir Pak Tora memulai rapat itu. Pembahasan lebih condong pada keterlibatan setiap anggota untuk program CSR yang akan diadakan bulan depan. Program ini dilakukan dengan memberikan bantuan berupa uang dan jasa kepada bisnis menengah kebawah yang ada di Jogja. Jasa yang diberikan adalah dengan mengirimkan beberapa orang untuk pergi ke lokasi dan ikut melakukan review pembuatan barang-barang yang mereka jual. "Jadi siapa kira-kira yang bisa ikut? Divisi lain juga mengirimkan beberapa orang jadi kita juga harus." ucap Pak Tora. Semua orang memandang the center of attention itu dengan seksama. Mereka berbisik-bisik sambil memikirkan jadwal mereka untuk tanggal yang sudah ditentukan. "Berhenti bisik-bisik. Saya butuh kepastian nih siapa yang bisa." lanjut Pak Tora. "Saya tidak bisa pak, pada tanggal tersebut saya harus menyelesaikan beberapa problem dibagian server. Dan hari minggunya saya sudah ada janji." seru Mas Arga tegas. "Wah, saya apalagi. Ada urusan pak." lanjut Kian. "Waduh, banyak sekali alasan kalian. Gini aja, siapa yang bersedia dengan sukarela pergi kesana? Lagian bakal ada bonus tambahan dan bisa jadi liburan gratis kan." Semua tampak terdiam dan memikirkan jadwal yang akan dilakukan pada tanggal tersebut. "Mi, kenapa gak lo aja?" bisik Sesil pada Misa. "Lo ada janji gak tanggal segitu?" "Hmm, engga sih tapi...." Belum sempat melanjutkan kata-katanya, Sesil langsung mengumumkan hal itu didepan umum. Sesil memang tipikal cewek yang mementingkan dirinya sendiri. Ia tentu saja tidak mau menghabiskan weekend ditempat kerja meski itu di kota wisata Jogja. "Pak, Misa sepertinya bisa." "Benar Misa? Kamu bersedia?" tanya Pak Tora memastikan. Misa dalam hati memaki Sesil. Ada rasa kesal yang tak terbendung. Meski Misa memang bisa pergi tapi cukup banyak hal yang perlu ia pertimbangkan. Terlebih lagi mengenai April yang sudah pasti menjadi agen catering di perusahaan Rumi. Misa tentu harus ikut untuk merayakan tercapainya impian April itu untuk pertama kalinya. "Hmm iya pak. Sepertinya saya bisa." "Kalau begitu kita butuh satu orang lagi. Misa harus ada temannya dong." "Saya saja pak. Kebetulan gak ada project yang urgent kan minggu itu." seru Atan. What? Misa menjerit dalam hati. Apakah ini yang dinamakan sudah terjatuh, tertimpa tangga pula. Mengapa harus Atan saat ada yang lain. Rapat mendadak itu selesai dalam waktu singkat. Pak Tora hanya perlu berdiskusi dengan Atan dan Misa mengenai kepergian mereka ke Jogja. Cukup banyak hal yang dipersiapkan. Hari itu semuanya pulang tepat waktu karena pekerjaan tak terlalu banyak. Begitulah keunggulan divisi ini, pekerjaan tak menentu sehingga saat tidak ada project maka setiap orang bisa pulang lebih awal. Namun, saat project banyak dan urgent setiap karyawan ter-aksa harus pulang lebih malam. "Bye Mi. Gue pulang ya." seru Sesil sambil mengambil tasnya dari meja. "Tumben banget pulang cepet?" "Mau ngedate sama kenalan gue dari Tinder." "Really you do it?" tanya Misa tegas. "Ya dong. Gue udah dipaksa-paksa nikah sama orang tua. Gue sih mau nyari yang pas dihati gue. Daripada ikutin saran mereka yang pasti ndeso mending cari anak kota. Yasudah Mi, gue pergi ya." "Oke hati-hati." Tinder adalah salah satu aplikasi pencari jodoh yang paling populer di Indonesia. Aplikasi ini bisa mempertemukan dua orang yang cocok sesuai dengan kriteria yang dituliskan di deskripsi akun. Misa benar-benar tak punya niat untuk mencoba aplikasi itu. "Belum pulang? Ayolah bareng." seru Atan tiba-tiba. Misa sampai tersentak karena tak menyadari kehadiran cowok itu. "Kagetan banget sih." lanjutnya meledek. "Bapak yang ngagetin sih. Saya belum mau pulang. Duluan aja pak." "Kenapa? Bukannya udah gak ada kerjaan? Pak Tora juga udah pulang dari tadi." "Saya gak suka di apartemen sendirian. April belum balik dari kampus." balas Misa. "Yaudah, kita ke mall dulu aja. Saya lapar." "Saya gak lapar. Duluan aja sana pak." "Tapi..." Tiba-tiba dering smartphone Atan berbunyi. Terdengar lagu Jet Lag dari Simple Plan yang suaranya memekakan telinga. "Halo? Kamu ngapain disini? Yaudah aku turun." "Misa, kita pulangnya lain kali ya. Teman saya datang tiba-tiba." "Saya juga gak ada niat buat pulang bareng." balas Misa ketus. Atan langsung beranjak. Misa jelas-jelas mendengar suara wanita di telepon itu. Mungkinkah cewek itu pacarnya Atan? Atau jangan-jangan tunangannya?  Misa jadi benar-benar penasaran. Akal sehat Misa hilang dan entah kenapa ia membuntuti cowok itu. *** Kantin gedung Tokokeren terlihat sepi. Tak seperti jam makan siang yang selalu ramai, sore itu hanya ada beberapa orang yang berlalu lalang. Keramaian ini biasanya muncul lagi ketika malam hari saat karyawan yang lembur ingin menikmati makan malam. Dimeja paling pojok terlihat Atan dengan seorang wanita sedang berbincang sambil menikmati secangkir kopi. Wanita itu sangat cantik parasnya dan anggun. "Tan, lu agak berubah gitu ya." "Berubah apaan. Masih sama kayak dulu." Conny Akila, teman kuliah Atan yang kini bekerja di perusahaan terkemuka di Jakarta. Wanita cantik itu sempurna dalam segala hal. Selain cantik ia juga pintar dan punya banyak teman. "Iya, masih pake kacamata. Tapi udah gak seculun yang dulu. Hahaha." ledek Conny. Jauh dari tempat mereka mengobrol terlihat Misa yang sedang bersembunyi. Kecurigaan Misa benar bahwa teman yang dimaksud Atan adalah wanita. "Udah gila gue!" pikir Misa saat sadar bahwa ia melakukan sesuatu yang sangat tidak berkelas yaitu menjadi seorang penguntit. Hal yang lebih aneh adalah Misa membuntuti dosen yang ia benci itu. Misa segera pergi menuju lift sambil memukul-mukul kepalanya agar ia kembali ke zona normal. Saat lift terbuka Misa mendapati sosok Hasa. Cowok itu sempat kaget hingga akhirnya tersenyum manis. Wajah Misa tentu saja menunjukkan sikap judes. "Mi, tumben udah pulang jam segini." "Bukan urusan lo." "Judes amat." Misa langsung pergi menjauh dari sosok mantan itu. Mantan pertama, terburuk dan paling dihindari oleh Misa. "Mi, bisa gak sih kita damai aja. Baik-baik aja tanpa peduli masa lalu. Gak baik kan menaruh dendam sama orang lain." ucap Hasa sambil menarik tangan Misa. "Honestly, gue udah maafin lo. Tapi sampai kapanpun gue gak bisa berteman sama lo." Misa langsung pergi dengan langkah cepat. Ia tidak mau ada teman kerja yang tak sengaja melihat. Misa langsung pulang meski ia tak suka sendirian di apartemen. Ia langsung menelpon Airin yang tentunya masih bekerja. Airin ternyata sedang dalam keadaan dapat diganggu. Ia mengobrol banyak dengan Misa. Topik pembicaraan adalah Hasa dan pekerjaan dikantor. Obrolan itu cukup lama hingga April pulang dari kampus. "Mi, tumben lo udah balik." ucap April sambil minum air putih untuk melegakan dahaganya. Sinar mentari sore yang terik membuat siapa saja dehidrasi. "Gue gak sempat bikin cake hari ini. Terlalu sibuk!" "Daripada cake ada sesuatu yang lebih penting. Tadi gue ketemu Hasa lagi dong. Ngeselin banget tuh orang." "Loh kok bisa?" "Ya itu, gue ketemu di lift. Lagi-lagi dia ngomongin hal gak penting." April hanya mengangguk dan tak bisa bereaksi seperti biasa. Ia sadar bahwa kejadian bertemu dengan Hasa belum ia ceritakan pada Misa. "Pril, kenapa respon lu gitu doang sih? Kayak ga ada semangat." "Haha, gapapa Mi. Gue cuma kepikiran catering. Ini kan pekerjaan pertama gue tapi gue merasa belum siap." April mencoba mencari topik lain agar tidak membahas Hasa lagi. "Ada gue yang akan bantuin lu Pril. Ada Rumi juga kan. Btw, jadinya tanggal berapa?" "Kata Rumi jadinya tanggal 25. Hari kamis." "Astaga, fiks gue gak bisa ikut. Gue harus ke Jogja. Gara-gara Sesil gue harus kesana buat program CSR kantor." "Iya udah gapapa Mi. Lagian entar juga datang kok. Yang penting nyokap gue gak datang." "Haha, tapi lu mesti tahu kalau pak Atan juga ikut kesana." "Really?" Misa mengangguk dengan muka manyun. Ia masih tak rela menghabiskan hari-harinya bersama Atan, dosen sombong itu. "Inilah yang dinamakan jodoh pasti bertemu." seru April meledek disusul tawa yang keras. Misa memukul punggung temannya itu agar sadar bahwa dunia ini bukan miliknya seorang.  Saat itu, April hanya memikirkan satu orang didalam hatinya. Dia adalah Hasa, cowok yang akhir-akhir ini sering jadi teman chattingan. Bahkan April berencana mengajak cowok itu untuk ikut dalam acara di kantor Rumi saat ia menjadi penyedia jasa catering.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN