Andai saja kaupun mencintaiku, ku kan akhiri kesendirianku ini.
Kesibukan tampak terlihat jelas dipagi itu. Divisi IT Tokokeren tak ada yang sempat keluar untuk membeli makanan. Untung saja ada Pak Satpa, OB yang selalu siap membantu mereka untuk membeli makan siang. Atan grasak grusuk karena harus keluar masuk ruangan Pak Tora.
Semuanya tampak kelelahan hingga project itu go live tepat pada pukul 12.00 malam. Akhir dari malam itu ditutup dengan makan malam yang sedari tadi dianggurin. Misa yang perutnya sudah meronta-ronta segera mengambil makanan bagiannya. Menikmatinya dengan tenang, yang lainnya menyusul tanpa sibuk bercengkrama.
"Mi, lu gak sopan ya. Atan belum makan lu udah duluan aja."ledek Mas Arga saat melihat Atan baru saja keluar dari ruangan Pak Tora dengan rambut berantakan.
"Bodo amat mas." balas Misa tak peduli. Atan tak menggubris candaan Mas Arga itu hingga semuanya sudah selesai makan.
"Misa nanti tunggu saya dulu. Jangan pulang."
Misa hanya pasrah. Well, pekerjaan itu mau tidak mau memang harus selesai malam ini juga. Pak Tora sendiri sudah pulang sedari tadi karena janji makan malam dengan istrinya.
"Kenapa lagi sih pak?" desak Misa dengan muka manyun. Misa baru saja mendapat pesan dari April kalau Tante La sudah sampai di apartemen. April bahkan mengirim foto romantis duo anak ibu itu.
"Kita pulang bareng!"
"Loh, saya sendiri aja pak gapapa."
"Kamunya gapapa tapi saya yang gak mau kamu pulang sendiri jam segini."
"Lemah amat sih saya gak bisa pulang sendiri. Tinggal pesen ojol ini."
"Emangnya ojol bisa dijamin aman? Pokoknya saya anterin. Lagian kita kan searah."
"Ayo!"
Atan menggengam tangan Misa dengan erat. Masuk lift dengan keadaan masih pegangan tangan. Misa ingin sekali melepaskan kepalan tangan itu tapi itu hanya ada didalam akal sehatnya. Nyatanya hal itu tak ia lakukan hingga tiba di basemen.
Atan membuka pintu mobilnya dan menyuruh Misa masuk. Misa seperti mengalami dejavu. Jantungnya berdetak begitu kencang seperti kejadian di kampus waktu reuni. Misa kembali teringat akan ucapan itu. Ucapan yang membuat Misa serba salah. Misa diliputi rasa baper, galau dan bingung.
"Kenapa Mi?"
"Gapapa pak."
"Artinya ada apa-apa."
"Gak ada apa-apa kok."
"Yaudah kita dengerin lagu aja ya."
Atan mencoba mencari tombol untuk menyalakan radio. Prambors adalah favorit Atan. Sejak kuliah dulu Atan paling sering mendengar radio itu. Kebanyakan orang berpikir bahwa saat ini popularitas radio kian redup sejak munculnya berbagai platform digital yang menguasai masyarakat. Bagi Atan radio masih nomor satunya. Banyak hal yang tidak bisa didapat dari platform lain tetapi diperoleh lewat radio. Radio, walau hanya mendengar audionya saja tapi punya informasi yang uptodate. Lagu-lagu baru, berita-berita menarik, tempat curhat, kirim-kirim pesan dan fungsional lainnya yang sifatnya anak muda banget. Radio semacam twitter dalam bentuk audio.
Malam itu terdengar lagu lama dari Anima yang berjudul Andai Saja. Misa mencoba fokus pada lagu itu dan meniadakan kehadiran Atan disampingnya tapi tidak bisa.
"Btw, saya penasaran dengan hubungan kamu sama mantan pacarmu itu."
"Apaan sih pak. Dia itu cuma masa lalu yang gak penting."
"Kalian gak pernah ketemu lagi? Kita kan sekantor sama dia. Kalau dia macem macem sama kamu kasih tahu saya saja. Saya senior yang dihormati disini."
"Mulai deh sombongnya keluar."
"Apanya sih yang sombong. Apa yang saya katakan itu kenyataan kan."
"Iye...iye. Mentang-mentang ya. Bapak gak tahu aja imej bapak diantara teman-teman seangkatan saya gimana."
"Gak perlu saya tanya saya sudah tahu. Imej saya selalu baik dimata mahasiswa."
"Idih. Ini nih salah satu kesombongan yang hakiki itu. Bapak tuh sering dipanggil setan sama teman-teman saya. Ngasih soal gak kira-kira sih, susahnya minta ampun. Mayoritas dari kami tuh kesel sama bapak. Ganteng-ganteng serigala."
Misa seketika diam. Ucapan tak disengaja itu sungguh akan membunuh dirinya sendiri. Atan itu bukan hanya dosennya tapi juga atasannya dikantor. Bagaimana jika ia sakit hati atau apalah.
"Nah itu benar, saya memang ganteng. Jujur saya tak sangka dibilang ganteng oleh teman-temanmu."
Misa terkesiap. Respon yang tak biasa itu cukup melegakan sekaligus menakutkan. Bagaimana bisa dosennya itu menjadi sok kegantengan. Misa mengutuki dirinya sendiri dan memohon pada Tuhan agar mengembalikan sekian detik yang ia habiskan untuk mengucapkan kata itu. Kata yang membuat Atan terbang kelangit ketujuh.
***
"Jadi nama kamu Hasa?"
"Iya tante."
"Wah, ternyata anak tante bisa kenal sama cowok tampan juga. Kamu lulusan UR juga?"
"Iya. Cuma jurusan saya beda dengan April. Saya jurusan Manajemen."
"Lah trus kalian kenal darimana? Ketemu dimana?"
"Ohh iya tan, kebetulan saya satu organisasi sama Misa. Dari Misa saya kenal sama April." balas Hasa sambil cengar cengir.
Malam itu menjadi malam neraka bagi April. Sebegitu tidak tahu malunya cowok didepannya itu. April dan mamanya disapa oleh lelaki tak berperasaan itu saat sedang sibuk mencoba parfum baru di The Body Ship. Entah karena punya indera ketujuh, cowok itu menyapanya dengan senyuman tanpa dosa. April tetap menatap tajam ke cowok itu seakan menyuruhnya untuk segera pamit. Hasa seakan tidak peka dengan tatapan tajam itu.
"Yasudah, kalian ngobrol aja dulu ya. Tante mau ke toilet bentar."
"Biar aku temani mam."
"Gak usah. Mama tau kok toiletnya dimana. Kalian tunggu disini aja ya."
Tante La beranjak dari tempat duduknya menuju toilet terdekat.
"Apaan sih lo Has. Pake acara sok akrab lagi sama nyokap gue."
"Galak banget sih." balas Hasa sambil tertawa. "Gue liat lo, gue kenal lo, ya gue sapa dong."
"Kita gak sedekat itu buat saling sapa. Lo itu cowok paling jahat didunia ini."
"Lo gak kenal gue Pril. Jangan menilai sembarangan!"
"Apa yang lo lakukan ke sahabat gue udah jadi bukti kuat."
"Ya ya. Terserah lo aja. Intinya gue cuma mau menjalin silaturahmi sama nyokap lo doang. Btw, Misa gak ikut bareng lo?"
"Engga."
"Sinis amat sih jadi cewek."
"Suka-suka gue dong."
Tante La tiba-tiba datang dan Hasa langsung pamitan. Hasa memandang sekilas dan bertatap mata dengn April. April yakin ada yang tidak beres dengan perasaannya. Sudah berkali-kali ia bertemu dengan Hasa secara kebetulan. Pertemuan itu membuat April memikirkan cowok itu diam-diam tanpa diketahui Misa.
Rumi : Pril, gimana tawaran gue? Gue butuh kepastian nih."
Pesan dari Rumi itu menyadarkan April dari lamunannya. Rumi menawarkan kesempatan pada April sebagai partner catering pada acara ulang tahun kantornya bulan depan. Rumi mempercayakan hal itu pada April karena masakan temannya itu sudah dijamin kelezatannya. Ini menjadi dilema bagi April. Apakah ia harus mewujudkan mimpinya atau mimpi orangtuanya.
Bagi orangtuanya, punya pekerjaan tetap seperti Misa adalah yang terutama. Impian April bukanlah kebahagiaan bagi orangtuanya. Punya bisnis sendiri jika masih level bawah menjadi hal yang sangat diragukan. Padahal startup terkenal saja pasti dimulai dari nol dulu. Semua butuh proses, tapi tak semua orang peduli dengan hal itu. April segera mengirim pesan w******p pada Misa.
April : What should i do? (Lengkap dengan screenshot chattingan dengan Rumi)
Misael : Do what you want.
Dari awal April memang tak berniat untuk berkonsultasi dengan Tante La. Niat baik itu pasti akan ditolak mentah-mentah oleh mamanya itu. Apa yang akan ia lakukan adalah atas keputusannya sendiri.
April : Ok. Tapi bantu gue nyiapin segalanya ya Rum! :)
In one click, send to Rumi. Hari itu menjadi hari kesekian dimana April membohongi mamanya. Dalam hati April berdoa memohon pengampunan dari yang maha kuasa.