Benarkah cinta datang karena terbiasa?
Hari sabtu pagi yang cerah memaksa Misa bangun pagi. Hal ini didukung oleh aroma masakan April yang menyeruak sampai ke dalam kamar Misa. Misa segera beranjak dan mencoba menyadarkan dirinya bahwa hari ini ia harus melakukan sesuatu. Reuni kampus.
"Syukur reuninya mulai jam 1 ya, kalau mulainya pagi bisa-bisa gue siram lu pake air panas biar bangun."
April berkeluh sembari menyajikan sarapan pagi di meja makan. April tak habis pikir temannya itu bisa-bisanya bangun pukul 11 siang. April juga mengemas kue-kue buatannya untuk dibawa ke acara reuni hari ini. April menyediakan beraneka macam cake, itung-itung dapat testimoni dari teman-teman kuliahnya dulu. Anggap saja ini sebagai strategi marketing yang e ia lakukan sebagai langkah awal memulai bisnis yang belum direstui kedua orangtuanya itu.
"Lu tahu kan kemarin gue lembur Pril? Wajarlah bangun kesiangan."
"Tapi gak jam sebelas juga kali."
"Oh ya Pril, ini tuh reuni seangkatan apa gimana ya?" seru Misa sambil menggigit tempe goreng yang kriuknya terdengar sangat jelas itu.
"Setau gue sih se universitas Mi. Gak cuma angkatan kita tapi juga angkatan dari jaman baheula. Lu buruan mandi, gue siap-siap dulu." seru April sambil beranjak ke kamarnya.
Misa dan April berangkat dengan mobil Marchedez Benz milik April. Misa mengenakan dress panjang berwarna merah jambu dengan tas kecilnya, sedangkan April menggunakan setelan kaos warna hitam dan rok bercorak selutut. April punya style berpakaian yang berbeda dengan Misa. April cenderung suka warna gelap dan Misa menyukai warna-warna muda. April memarkir mobilnya di parkiran fakultas yang tidak terlalu ramai. Ini menjadi trik agar tidak susah mencari parkiran. Mereka hanya perlu berjalan beberapa menit untuk sampai ke panggung reuni.
Hari sabtu minggu ini menjadi hal yang sibuk karena akan ada acara dikampus.
Pak Atan datang ke acara reuni kampus bertemu Misa dan teman-temannya. Pak Atan pun ikut reunian dengan teman-teman seangkatannya.
Atan menyergap Misa dengan segudang pertanyaan saat teman-temannya menggoda Atan dengan kata-kata mutiara nan syahdu.
"Pak, apa kabar? Kemarin ngapain sama Misa?"
"Pak, masih jomblo? Misa juga tuh."
"Pak masih ingat saya? Saya fans bapak."
Sungguh, mereka memperlakukan Atan vak artis papan atas yang siap-siap jalan di karpet merah dan menerima piala Citra.
Atanpun siap menyergap Misa dengan segudang pertanyaan saat teman sekelasnya disibukkan oleh nyanyian dari depan panggung.
"Teman-temanmu tahu kita satu kantor? Jangan diumbar tolong."
Kesabaran Misa habis sudah karena sedari tadi ia sudah menahannya.
"Iya pak. Mereka semua udah tau. Bahkan mereka tau kalo kita setim. Jadi gak usah sembunyiin hal itu."seru Misa ketus dengan wajah kesal.
Bukannya marah, Atan malah tertawa sembari berucap "Kamu ya, senang banget ceritain tentang saya ke teman-temanmu. Kamu pasti senang kan bisa sekantor dengan dosen paling hits seperti saya."
"Astaga, pede banget ya."
"Jujur aja Mi."
"Udah pak. Saya mau balik ke barisan anak muda." seru Misa menyindir.
"Anak muda? Saya juga masih anak muda."
"Bapak sadar dong. Lihat tuh teman-teman seangkatan bapak, bawa anak, bawa pasangan. Lah bapak, bawa nyawa doang." Misa benar-benar gak yakin dengan apa yang ia ucapkan. Dalam hati ia mengutuki dirinya sendiri karena bisa sebebas itu berbicara dengan seorang dosen.
"Maka dari itu, mungkin kamu yang bisa saya bawa."
"Bawa saya? Buat dijadiin contoh seorang mahasiswi bodoh nan bloon? Cukup ah, gak di kantor gak di kampus kerjaan bapak cuma bikin emosi."
"Tentu aja engga. Buat dikenalin sebagai calon pasangan."
"Duarrr!!Dummmtasss!!"
Terdengar bunyi gendang yang amat keras. Semua orang berteriak ikut bahagia. Misa dengan jantung yang berdetak kencang memandangi panggung yang jadi pusat perhatian itu. Tiba-tiba saja April hendak menarik tangannya. Misa sadar dari lamunan yang disertai detak jantung itu.
"Tadi bapak ngomong apa? Saya tidak dengar. Saya pergi dulu." ucap Misa dengan gerakan mulut yang diketahui pasti oleh Atan. Kegaduhan masih terjadi karena Duta Sheila On 7 tiba-tiba muncul dari belakang panggung.
Misa mengikuti April yang menarik tangannya. Misa mendustai dirinya. Dia mendengar dengan sangat jelas apa yang diucapkan oleh Atan.
"Mi, lu ngapain sih sama Pak Atan? Ini Duta udah mau show."
"Engga Pril, dia cuma nanyain kerjaan."
"Yaudah yuk. Rumi dan Airin udah nungguin."
Keempat sahabat itu punya titah untuk berdiri tepat didepan panggung sembari bernyanyi lagu-lagu milik Sheila On 7. Kapan lagi bisa nonton konser itu tanpa harus membayar mahal.
Misa tentu saja masih dalam bayang-bayang ucapan Atan. Ia masih tidak percaya dengan ucapan dosen terlaknat itu.
"Lu kenapa sih?"tanya April di mobil ketika mereka akan pulang. Rumi dan Airin pulang dengan jalan terpisah karena tempat tinggal mereka memang tidak searah. Misa menatap April dalam-dalam. Haruskah ia jujur dan bercerita tentang apa yang diucapkan oleh Atan? Ada rasa ragu karena jangan sampai ucapan Atan tadi hanya gurauan semata. Keseriusan adalah hal yang dibutuhkan gadis 23 tahun dalam hubungan percintaan. Misa tentu tidak ingin kisah kelamnya bersama Hasa terulang lagi. Menjadi b***k cinta bukanlah hal bagus. Jika berkenan, biar Misa yang mempermainkan lelaki-lelaki itu dan bukan sebaliknya.
"Gak papa Pril."
"Boong banget. Jangan harap bisa bohongin gue setelah kita berteman 4 tahun."
Misa hanya diam dan tak tahu harus menjawab pertanyaan April.
"Pasti ada yang terjadi antara lu dan Pak Atan kan? Yaudah kalau gak mau cerita, tapi jangan gara-gara itu lu jadi gak fokus ngapa-ngapain. Gue gak mau lu kayak dulu ya Mi."
Dulu yang dimaksud April adalah masa-masa Misa dengan Hasa.
"Oh ya, minggu depan nyokap gue datang dari Semarang. Katanya dia mau melihat kehidupan anaknya yang monoton dan penuh putus asa ini." seru April setengah bercanda.
"Haha, lebay. Tante datangnya hari apa?"
"Hari jum'at. Dia kan kalau hari biasa pasti ke sekolah buat mengajar. Lu hari jum'at pulang cepet ya, soalnya doi minta diajakin ke mall mau beli baju baru." April selalu menjadikan ibunya bahan candaan. Dia selalu berbagi cerita satu sama lain tentang keadaan keluarga masing-masing.
"Eh tapi gue hari jum'at ada lembur kayaknya. Soalnya project gue bakal deliver hari jum'at ini Pril."
"Yaudah gapapa Mi. Belanja doang kok. Besoknya kan ketemu, mama pulangnya hari minggu kok."
Misa mengiyakan. Misa kembali mengingat pertemuan pertamanya dengan Tante La saat masih kuliah. Tante La sosok yang humoris dan gaul. Selalu ada cerita menarik darinya. Entah mengenai murid-muridnya disekolah, suaminya bahkan kebiasaan buruk April. Misa sering iri melihat April yang ibunya bisa datang dikala rindu. Misa sendiri hanya bisa pasrah menghabiskan waktu sendiri dikota besar ini tanpa keluarganya. Orangtua Misa sangat sulit untuk berkunjung karena pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan dikampung halamannya.