Bab 7

1098 Kata
Kau lakukan terus. Gimana gak baper? Padahal gak seharusnya begini kan? Sesil kini menjadi pusat perhatian. Berada diatas panggung besar yang akan memimpin acara ulang tahun Tokokeren dari awal sampai akhir. Sesil tampak cantik dan mempesona. Beberapa karyawan dari divisi lain sedang membicarakan penampilannya. Misa baru saja sampai di lantai itu. Meneliti setiap meja guna menemukan meja divisi Software Engineer. Meja itu ternyata cukup dekat dengan panggung. Misa segera beranjak untuk berjalan ke depan. Belum sempat ia melangkahkan kaki, tiba-tiba saja seseorang datang menghampirinya. Bahasa Astradip terlihat sangat rapi dengan kemeja hitam dan celana kantoran. Misa memandang cowok itu tanpa perasaan apa-apa kecuali rasa kaget. Cowok itu kini sangat tidak menarik bagi Misa. Cowok yang membuat hidupnya pernah menderita. Pengalaman kisah cinta pertama yang membuatnya merasakan sakit yang cukup lama. Misa mengutuki dirinya sendiri untuk tidak jatuh ke lubang yang sama dua kali.  "Misa, lo ikut acara ini juga?" tanya cowok itu sok ramah. Wajahnya menyunggingkan senyuman manis. Karyawan wanita yang duduk disekitar mereka tampak berbisik-bisik memuji Hasa. Cowok itu memang tampan. "Ya iyalah. Gue kan karyawan disini juga." jawab Misa ketus. Gak ada alasan bagi Misa untuk berbaik hati pada cowok itu. "Judes amat lo Mi. Gue cuma gak nyangka aja. Bisa-bisanya kita satu kantor. Jodoh kali ya." ucap Hasa terkekeh. "Jodoh apanya sih? Jelas-jelas lo kerja disini buat jadi stalker gue kan." "Apaan. Halu lo." "Bodo amat." Misa langsung berjalan dan meninggalkan Hasa yang sepertinya masih ingin mengobrol dengannya. Misa akhirnya sampai ke meja itu. Disana ada Atan yang menatapnya sedari tadi. Misa sampai bingung. "Kenapa pak?" tanyanya. "Kamu masih digangguin sama cowok itu?" Misa sejenak berpikir. Cowok siapa yang dimaksud oleh Atan. Otak lelet Misa akhirnya kembali bekerja. "Oh, Hasa? Tidak pak. Dia hanya menyapa saja." Misa tentu saja tidak mau berurusan dengan Atan. Meskipun Atan adalah orang yang membantunya untuk menghindari Hasa tapi Misa tidak akan mau mengulangi hal itu lagi. Memanfaatkan Atan untuk kepentingan pribadi Misa. Sesil memulai rangkaian acara dengan sajian yang menarik. Ia melakukan beberapa games untuk membuktikan seberapa cinta karyawan terhadap perusahaan. Rata-rata karyawan sangat antusias. Tapi tidak dengan Misa. Misa sesekali melirik Atan yang ikut tertawa melihat tingkah Sesil di podium. Berbagai hal mengganjal dibenak Misa. "Ada apa?" tanya Atan tiba-tiba. Sepertinya cowok itu tahu bahwa Misa sedang memperhatikannya sedari tadi. "Ah, tidak pak." "Kamu sedari tadi ngeliatin saya. Jangan biarkan saya berpikiran yang tidak-tidak tentang kamu." "Saya cuma penasaran pak, kenapa bapak mengerjakan pekerjaan saya? Jelas-jelas saya tidak ada masalah jika mengerjakannya sehabis acara ini selesai." "Itu artinya kamu punya 2 hutang budi sama saya. Saya akan tagih nanti." "Lah, kok gitu sih. Saya juga gak minta dibantuin kan." Misa jadi kesal kepada Atan yang menyimpulkan sesuatu sesuka hatinya. "Kamu sadar dirilah. Kalau kamu gak becus dalam bekerja mau ditaro dimana muka saya? Satu kantor sudah tahu kalau kamu mahasiswa saya waktu di UR. Saya berusaha agar kamu tidak mempermalukan UR." Misa mengutuki Atan didalam hatinya. Cowok itu masih saja belum lepas dari tingkah sombongnya. Dosen paling terkutuk yang pernah Misa temui. Misa ingin saja memaki Atan tapi disana ada Pak Tora yang dengan tenang memperhatikan Sesil yang sedang memimpin acara. Misa menahan diri dan mencoba bersabar. Acara hari itu sangat meriah. CEO memberikan beberapa pengarahan dan motivasi kepada karyawan agar kedepannya dapat bekerja lebih optimal guna peningkatan profit perusahaan. Selain itu, akan dilakukan CSR dalam waktu dekat sebagai target perusahaan untuk meningkatkan rasa sosial pada masyarakat. Setelah membeberkan berbagai pencapaian maka diakhiri dengan selebrasi kue ulang tahun dengan nyanyian. Rasa bangga dan bahagia terpancar dari wajah para karyawan. Terlebih lagi akan diberikan bonus kepada seluruh karyawan dalam rangka hari ulang tahun perusahaan. Tokokeren memang sangat mengutamakan kepuasan karyawan dalam bekerja. Knowledge Management diaplikasikan di perusahaan untuk mencapai performance yang lebih baik. Terutama dalam hal mengurangi resiko employee turnover di era milenial saat ini. Generasi milenial cenderung menjadi kutu loncat. Berpindah-pindah kantor dan tentu saja perlu persiapan bagi perusahaan untuk menangani masalah ini. Ya, salah satunya adalah pemberian bonus. Misa kesal. Amat kesal pada Atan. Misa langsung ke kubikelnya dan membaringkan kepalanya diatas meja untuk menenangkan pikirannya. Misa akhirnya membenarkan ucapan Airin bahwa bekerja itu pasti makan hati. Kita harus sabar-sabar dan bertingkah seolah tak punya hati. Seberapa handal kita dalam bekerja tidak akan mempengaruhi perlakuan orang lain kepada kita. Perkataan Airin itu dulunya tak dapat dipercayai Misa seratus persen. Tapi kini ia langsung merasakannya. Misa membuka ponselnya untuk curhat kepada sahabatnya itu. Misa : Rin, gue bete banget. Pengen resign. Gue balik kampung aja apa? Dinikahin sama pilihan orang tua dan bercocok tanam disana. I think, siti nurbaya lebih beruntung daripada gue. Pesan itu tidak dibalas. Tentu saja, Airin tipe pekerja yang totalitas dalam bekerja. Walau begitu, dia paling dibenci oleh sesama karyawan karena keuletannya. Dunia kerja memang seberat itu. Mental baja harus dibangun agar tidak mudah menyerah. "Mi, lo cepet amat sih turun. Yang lain masih diatas foto-foto."seru Kian yang baru saja duduk di kubikelnya dengan sepiring cake yang sepertinya enak. Cowok itu memang hobi makan. Histori youtubenya pasti dipenuhi food vlogger yang saat ini lagi ngetren. "Gue lagi bete aja Ki. Gak mood." balas Misa sambil melirik cake yang dibawa Kian. "Masalah percintaan? Santai aja sih, lo masih muda dan bisa cari yang lain." "Bukan percintaan. Masalah kehidupan." Kian tertawa. Ia tahu kalau Misa sedang tidak punya keinginan untuk bercerita padanya. Kian, cowok yang terbilang muda tapi paling dewasa di divisi Software Engineer. Kian dikabarkan akan menikah dalam waktu dekat. Dia memang dewasa sekali dalam menanggapi setiap hal. "Btw, enak tuh cake." seru Misa kemudian. Kue yang dibawa Kian memang menggoda. Sepotong cheese cake dengan toping strawberry, Blueberry Tart Cream Cheese dan Chocolate bertabur buah-buahan. "Eits, gue gak bakal ngasih ya Mi. Ini gue ambil buat asupan sampai sore." "Yah, gue cuma pengen cheese cake nya aja kali Ki. Pelit amat sih." rengek Misa. "Lo suruh Sesil aja ngambilin. Dia masih diatas pasti." Ide yang bagus. Misa langsung mengirimkan pesan kepada Sesil untuk membawakannya dua slice cheese cake. Sesil hanya membaca pesan itu tanpa membalasnya. Sedang Misa kembali mengerjakan task penting lainnya. Bantuan dari Atan yang bermotif kesombongan itu kembali terngiang-ngiang dibenaknya. Misa sadar bahwa ia belum sempat mengucapkan terimakasih kepada cowok sombong itu. Selang beberapa menit saat Misa mengerjakan beberapa fungsi dan Kian sibuk menatap layar laptopnya sambil berpikir, datanglah Atan dan Pak Tora. Pak Tora langsungg masuk ke ruangannya. Misa tidak memerdulikan kedatangan mereka dan tetap fokus pada pekerjaannya. Sepiring cheese cake diletakkan diatas mejanya. Bukan hanya dua potong tetapi lima potong. Misa masih belum menyadari siapa yang meletakkan kue itu di mejanya. Hingga ia mendongakkan kepalanya dan melihat disana ada Atan. "Katanya kamu nitip cheese cake ya? Tuh, saya bawain." "Wah, makasih ya pak. Tadinya saya titip dua potong aja sih. Tapi makasih banyak pak." seru Misa dengan wajah merasa tidak nyaman. Lagi-lagi cowok itu membantunya. Hal-hal yang tak diinginkannya terjadi begitu saja. "Kalau nitip itu jangan setengah-setengah. Makan yang banyak aja biar sehat." serunya sambil kembali ke kubikelnya. Kian hanya memperhatikan mereka tanpa ada rasa curiga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN