Misa baru saja sampai di sebuah mall di daerah Kuningan. Tujuan utamanya malam ini adalah untuk memenuhi janji bertemu Airin dan Rumi. April tentu saja ikut sebagai pelengkap karena mereka berempat sudah tak bisa dipisahkan lagi. Wajah Misa terlihat kelelahan karena banyaknya pekerjaan yang harus ia bereskan sebelum pulang. Teman-teman satu tim nya masih berada di kantor dan berkutat dengan pekerjaan yang tak kunjung usai itu.
"Gue pulang duluan ya. Ada janji ketemu teman."Misa pulang meninggalkan Arga, Kian, Sesil dan Atan yang masih bekerja.
Imperial Kitchen adalah restoran tujuannya. Selain menunya yang bervariasi, mereka juga bisa berlama-lama disana tanpa batasan waktu. Misa mendapati ketiga temannya disana sedang menunggu sambil tertawa lepas.
"Hallo, my sweetheart." sapanya sambil duduk dikursi yang masih kosong. Airin dan Rumi menyambutnya dengan pelukan hangat.
"Misa, bagaimana? Lo punya pergerakan yang luar biasa ya ternyata." seru Airin tak sabar. Cewek itu penasaran level akut pada kenyataan bahwa dosen idolanya bisa satu kantor dengan Misa.
"Pergerakan apa sih? Soal Pak Atan? Gue gak sengaja satu tim sama dia Rin."
"Gue udah tahu ceritanya dari April. Dan gue jadi punya niat untuk kerja di Tokokeren. Bisa panjang umur gue tiap hari bertemu cowok ganteng itu." seru Airin.
"Jadi gimana sekarang? I mean, perlakuan dia ke lo." lanjut Rumi. Rumi menunjukkan wajah yang penuh tanda tanya. Butuh penjelasan yang sangat detail.
Misa menghela nafas. Menceritakan mengenai sikap Atan terhadapnya baru-baru ini sepertinya sangat canggung untuk dilakukan. Misa mencoba mencari topik lain yang mampu membuat ketiga sahabatnya itu kaget. Misa memutuskan untuk menceritakan mengenai Hasa. Bagaimana mantan pacarnya itu bisa bertemu dengannya di foodcourt gedung Tokokeren. Dan apa yang dilakukan Misa agar terhindar dari Hasa pagi itu.
"Ini hal tergila yang pernah gue dengar dari lo. Kok si Hasa bisa ketemu lo sih? Apa dia sengaja kerja di Tokokeren?" seru April setelah Misa menceritakan peristiwa pagi itu dengan detail.
"Tapi gimana dengan Pak Atan? Mau ditaro dimana muka lo Mi? Kalau gue jadi lo, gue udah malu banget bertemu sama dia." seru Rumi histeris.
"Kalau emang Hasa sengaja, dari mana dia tahu kalau Misa kerja di Tokokeren? Ah, gak mungkin dia tahu." April menimpali sambil meminum jus jeruk di mejanya dengan sedotan. Matanya menengadah dan menampilkan ekspresi sedang berpikir keras. April yakin bahwa ia tak pernah mengungkit masalah pekerjaan Misa kepada siapapun. Bahkan kepada Johan, teman yang menyebarkan foto Misa dan Atan di grup sekelas.
Bahasa Astradip, cowok yang berhasil membuat Misa terbang setinggi angkasa dan jatuh sampai ke lautan terdalam. Cowok itu adalah pacar pertama Misa. Wajar saja Misa menggantungkan harapan yang luar biasa pada cowok itu. Misa tak pernah menyangka akan mendapatkan rasa sakit yang luar biasa dengan apa yang dilakukan cowok itu padanya. Butuh waktu lama baginya agar bisa melupakan cowok itu.
Rumi berdiri tiba-tiba. Membuat ketiga temannya itu tersentak dari lamunan mengenai Hasa.
"Mi, maafin gue. Itu semua gara-gara gue. Maaf seribu maaf!" Wajah Rumi terlihat sedih.
"Lo kenapa sih? Emang lo lakuin apa?"
Rumi langsung duduk dan menatap Misa dalam-dalam.
"Jadi waktu kemarin si Johan nyebarin foto lo sama Pak Atan, lo kan cerita kalau lo kerja di Tokokeren. Gue tuh turut bahagia tahu lo udah kerja. Secara, lo selama ini sedih mulu. Kuliah ngaret, pengangguran durasinya makin lama. Trus, gue update dong di w******p Stories. Dan yang gue pikirin adalah bahwa Hasa masih temenan sama gue. Gue baru sadar sekarang."
"Ternyata karena lo Rum. Makanya gue bilang dari dulu, blok dia dari w******p lo." Airin menimpali sambil geleng-geleng.
"Udahlah. Udah terlanjur basi Rum. Gara-gara lo, mulai sekarang gue harus menghadapi dia terus dikantor."
"Seribu maaf dari gue buat lo Mi." seru Rumi manyun. Wajahnya penuh kekhawatiran. Namun, saat ini tidak ada yang bisa dilakukan lagi. Nasi sudah menjadi bubur. "Tapi, lo jawab gue jujur. Lo masih ada perasaan gak sama Hasa?" lanjut Rumi.
"Enggak!"
"Sudah, sudah. Kita makan aja. Ngapain ngomongin cowok b******k itu." April mencoba menjauhkan topik mereka mengenai Hasa. Ia yakin bahwa Misa masih mengingat sebagian hal-hal manis yang pernah ia alami saat bersama Hasa.
Malam itu menjadi sangat panjang. Setelah menikmati makan malam, keempat gadis itu memutuskan untuk karaokean. Melepas kegundahan hati mereka dalam menghadapi kisah cinta maupun pekerjaan. Airin, meskipun sukses dalam percintaan dan pekerjaan tetapi dibenci oleh partnernya di kantor. Airin menjadi ancaman bagi mereka yang menyadari bahwa Airin telaten dan ulet dalam bekerja. Rumi dalam kesehariannya membenci dirinya sendiri karena terlalu mencintai pacarnya yang sifatnya melebihi seorang psikopat. Protektif, perfeksionis dan suka mengatur hidup Rumi. Kehidupan Rumi tak lebih dari seorang cewek yang dipenjara. Sedangkan April masih harus membujuk kedua orang tuanya untuk mendapat izin membuka usaha roti di Depok.
Misa menyanyikan dua lagu dari westlife. Kemudian ia memutuskan untuk berhenti dan beristirahat di sofa. Rumi dan April masih saja bernyanyi penuh gairah tanpa mengingat masalah yang sedang mereka hadapi. Airin sibuk dengan ponselnya, lagi-lagi masalah pekerjaan. Airin memang sangat rapi dalam bekerja.
***
Pagi itu Tokokeren tampak ramai berhiaskan pernak pernik. Misa yang baru saja sampai tidak tahu apa yang sedang terjadi. Pak Rusman mengatakan bahwa hari itu adalah hari ulang tahun Tokokeren yang ke 3 tahun. Umur yang mudah ini sangat layak untuk dirayakan karena Tokokeren berhasil meningkatkan profit setiap tahunnya.
Misa tentu saja ikut bahagia. Namun, ia kembali mengingat pekerjaan yang ia tinggalkan kemarin. Jika hari itu adalah ulang tahun kantor maka jam bekerja pasti akan berkurang. Bagaimana Misa bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan waktu yang singkat itu.
Misa buru-buru memencet tombol lift. Dia sudah tidak sabar duduk di kubikelnya dan melanjutkan pekerjaannya. Tiba-tiba saja seseorang menahan lift itu. Sesil yang tampak rapi dengan setelan kemeja dan rok pendek. Penampilan yang tidak biasa tentunya.
"Hei Sil. Tumben rapi banget."
"Hari ini kan gue jadi MC. Lo gak tahu Mi?" tanyanya kemudian.
"Engga."
"Lupa gue. Lo kan kemarin pulangnya on time ya. Jadi Pak Tora tadinya mau nyuruh lo. Trus kata Mas Atan biar gue aja. Padahal gue udah mau telepon lo. Jadinya tadi malam gue briefing dulu sendirian." ucap Sesil bangga.
"Emang tadi malam pada pulang jam berapa Sil?"
"Gue sih pulangnya cepet Mi. Yang pulang lama Mas Atan. Atau jangan-jangan dia nginep gue gak tahu sih." ucap Sesil seraya menaikkan alis matanya.
Misa semakin tidak sabar untuk sampai ke lantai 8. Sesil harus ke lantai 12 untuk mempersiapkan segalanya.
Misa tak mendapati seorangpun. Sepertinya semua orang sedang berada di lantai 12. Misa langsung duduk dan bertekad untuk mengerjakan beberapa hal sebelum perayaan ulang tahun itu. Dia mengecek folder file kodingan yang kemarin belum ia selesaikan. Misa melakukan running program, sejenis tombol untuk uji coba program yang sudah dikerjakan.
Misa menekan tombol didalam aplikasi yang akan ia kerjakan. Saat tombol itu ditekan dan ditekan, Misa tersentak. Semua fungsi yang seharusnya ia kerjakan sudah selesai. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Bunyinya yang keras memecah keheningan diruangan itu karena hanya ada dia seorang.
"Kenapa Sil?"
"Kata Mas Atan kerjaan lo udah kelar ya? Lo keatas aja Mi. Bentar lagi mau mulai acaranya."
"O..oh iya Sil."
Misa berada dalam keadaan tidak tahu harus bagaimana. Rasa bersalah dan penasaran menghantuinya. Hal yang sudah pasti adalah bahwa Atan telah lembur untuk menyelesaikan pekerjaannya malam itu. Tapi kenapa? Mungkinkah Atan seperti yang April katakan? Menyukai Misa?
"Duh, jangan kegeeran Mi." seru Misa sambil memukul-mukul kepalanya seraya berjalan keluar ruangan.